Dibeli Perhiasanmu! Mendulang Emas di Emperan Jalan Kota Semarang

Dibeli Perhiasanmu! Mendulang Emas di Emperan Jalan Kota Semarang
Grisyanti, salah seorang penadah emas yang mangkal di sepanjang Jalan Peterongan Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Saat butuh uang, nggak jarang kita harus melego perhiasan. Sebagian orang mungkin ke pegadaian atau toko emas. Namun, sebagian sisanya tetap memilih menjualnya di lapak penadah emas di emperan jalan. 

Inibaru.id – Konon, rezeki nggak akan tertukar. Mungkin ini pula yang diyakini Grisyanti, yang membuatnya bertahan di bahu Jalan Peterongan Kota Semarang. Bersanding dengan deretan toko emas di sekitarnya, perempuan bersahaja itu istikamah menjalani harinya sebagai penadah emas "eceran".

Dibanding toko emas di belakang lapaknya, pendapatan Grisyanti memang nggak seberapa. Terkadang, ada 1-2 orang yang mampir untuk menjual perhiasan di tempatnya. Namun, nggak jarang lapaknya yang hanya terdiri atas satu meja kayu, lemari kaca dengan timbangan di dalamnya, dan sebuah kursi plastik, sama sekali nggak disambangi orang.

“Usaha jual-beli emas seperti saya ini nggak bisa diprediksi; kadang kosong, kadang banyak sekali (hasilnya),” keluh Grisyanti kepada Inibaru.id di lapaknya yang nyempil di antara deretan ruko penjual perhiasan, belum lama ini.

Namun, Grisyanti nggak sendirian. Beberapa penadah seperti dirinya juga bertebaran di sepanjang jalan tersebut. Selain di Jalan KH Wahid Hasyim, sentra jual-beli perhiasan, khususnya emas, memang terpusat di jalan ini. Para penadah tersebut seolah menyatu dengan ruko-ruko toko emas di dekat mereka.

Menjadi Pekerjaan Utama

Grisyanti sedang mengecek bobot cincin emas kepunyaannya. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Grisyanti sedang mengecek bobot cincin emas kepunyaannya. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Hari sudah lewat jam makan siang, tapi belum ada seorang pun yang mampir ke lapak Grisyanti. Namun, hal itu nggak menyurutkan asanya untuk tetap menekuni profesi yang dia jadikan sebagai pekerjaan utama tersebut.

Jual-beli emas memang sudah menjadi keahliannya sejak lama. Menadah perhiasan di lapak kecil seperti yang dilakoninya sekarang memang baru dia geluti selama lima tahun terakhir. Namun, ibu beranak satu tersebut sebelumnya juga pernah bekerja di toko emas selama belasan tahun.

"Punya lapak sekitar lima tahun terakhir, tapi sebelumnya pernah kerja di toko emas selama 16-an tahun," ujarnya.

Kala itu, Grisyanti memilih keluar kerja karena dia keteteran mengurus rumah tangga. Anak juga kurang terurus. Setelah berunding dengan suami, dia pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa kerjanya.

"Waktu itu kerja hampir 12 jam, pulang agak larut, dan liburnya hanya sehari dalam sebulan," tutur perempuan yang selama menjaga lapak nggak pernah membuka masker tersebut. "Waktu itu anak jadi kurang perhatian, jadilah saya keluar.”

Setelah keluar, dia kemudian memutuskan membuka lapak sendiri di Jalan Peterongan. Di lapak itu, dia menjaring orang yang pengin menjual emasnya. Selanjutnya, emas tersebut dijual lagi ke pembeli yang lebih besar di luar kota, yang rutin menjadi penadah mereka.

Enggan Menadah Barang Curian

Timbangan emas model zadul yang selalu menjadi simbol dari lapak 'Beli Emas'. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Timbangan emas model zadul yang selalu menjadi simbol dari lapak 'Beli Emas'. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Grisyanti mengaku, hal paling ditakutkannya saat menjadi penadah emas adalah mendapatkan barang curian. Menurutnya, justru dia bakal curiga pada orang yang pengin menjual emas dalam ukuran besar atau lumayan banyak. Takutnya, barang itu adalah perhiasan curian.

“Kadang ada yang jual sampai 10 gram. Kalau sebanyak itu malah takut emasnya curian," kelakar dia. 

Penadah emas memang rawan dimanfaatkan orang untuk menghilangkan jejak barang curian. Maka, sebisa mungkin para penadah ini bakal waspada. Mereka bakal menghindari barang-barang yang mencurigakan.

Imbarni, penadah emas yang biasa membuka lapak di Jalan KH Wahid Hasyim sejak 1978 mengatakan, membeli barang curian bakal bikin susah kalau disita polisi karena untuk mengambil barang tersebut kembali, dirinya harus mengeluarkan uang lagi.

"Jadi, malah dua kali bayar jadinya," tutur lelaki paruh baya tersebut belum lama ini.

Barni, begitu dia biasa disapa, mengaku suatu ketika sempat hampir membeli barang curian tanpa disengaja. Kala itu, dia sempat memancing-mancing dengan bertanya menyelidik ke pemilik perhiasan, tapi dia terus berkilah dengan mengatakan, disuruh menjual oleh ibunya.

Sebagai penadah emas kawakan, dia sudah hafal gerak-gerik calon penjual yang mencurigakan. Dia tahu mana yang benar-benar mau menjual barang dan mana yang berbohong atau sekadar mau mengecek harga. Selain itu, dia juga bisa dengan mudah mengenali perbedaan emas asli dengan palsu.

Untuk terhindar dari penipuan dan kerugian yang besar, seorang penadah emas memang sudah sepatutnya punya kemahiran seperti yang dimiliki Barni. Namun, kalau dipikir-pikir, tega juga orang yang berusaha menipu mereka ya, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)