Inibaru.id – Di tengah panasnya siang Kota Yogyakarta, ada satu tempat yang sejak puluhan tahun lalu setia jadi penyelamat dahaga warga lokal maupun wisatawan, yaitu Warung Moerni 78 Jogja. Berdiri sejak 1978, warung legendaris ini dikenal luas berkat aneka es segarnya, terutama es teler, yang rasanya konsisten dari generasi ke generasi.
Sekali melihat semangkuk es teler Moerni 78, rasanya susah untuk tidak tergoda. Isinya lengkap dari potongan alpukat, kelapa muda yang lembut, tapai hijau, jeli, nangka, hingga roti tawar kecil yang menyerap kuah santan manis. Perpaduan santan, gula cair, es serut, dan kental manisnya terasa segar tanpa bikin enek. Pas banget diminum saat matahari lagi galak-galaknya.
Menariknya, semua rasa manis itu datang tanpa bantuan pemanis buatan. Pemilik generasi ketiga Moerni 78, Yeremia Okky, menjelaskan bahwa sejak awal kakeknya memang berkomitmen menggunakan bahan-bahan alami.
“Dulu pendirinya pakai nama Moerni karena semua bahannya murni, nggak pakai pemanis buatan atau bahan kimia. Filosofinya itu yang kami jaga sampai sekarang,” katanya sebagaimana dinukil dari Detik, Kamis (12/10/2023).
Nama Moerni sendiri sempat berubah-ubah. Awalnya warung ini bernama Moerni 83, mengikuti nomor rumah. Baru kemudian disesuaikan menjadi Moerni 78 untuk menandai tahun berdirinya, sekaligus memakai ejaan lama yang memberi kesan klasik. Kini Moerni 78 tetap berdiri tanpa cabang, meski punya “saudara” bernama Djadjan Moerni 78 di kawasan Prawirotaman.
Kalau kamu masuk ke dalam warungnya, nuansa lawas langsung terasa. TV tabung, radio zadul, hingga buku-buku lama jadi hiasan yang bikin waktu seolah mundur ke Jogja tempo dulu. Tak heran kalau tempat ini selalu ramai, terutama saat jam makan siang.
O ya, selain es teler, menu bistik juga jadi legenda di sana. Racikan saus gurihnya dibuat dengan resep turun-temurun, dan dalam sehari bisa ludes lebih dari 100 porsi. Okky bahkan bercerita dulu es telernya sempat memakai anggur Malaga, yang memberikan sensasi hangat setelah tegukan dingin, meski kini sudah dihentikan karena regulasi.
Soal rasa, pelanggan setia sepakat kalau sejak dulu tetap enak dan tidak berubah. Ratri, warga Kusumanegaran yang sudah berlangganan sejak SMA bilang, “ŕasanya itu nggak berubah sama sekali. Isinya tetap sama, segarnya juga masih seperti dulu,” ucapnya pada Senin (16/2/2026).
Hal serupa dirasakan Niki, warga Pogung yang kerap main ke warung tersebut. “Saya paling suka bistiknya. Dari SMP sering makan di sini sama ibu, dan sampai sekarang rasanya tetap juara.”
Dengan harga yang ramah kantong dan jam buka yang panjang dari pukul 09.00 sampai 20.30 WIB, warung Moerni 78 bukan cuma tempat makan, melainkan potongan sejarah kuliner Jogja yang masih hidup. Di tengah tren kafe modern, warung ini membuktikan bahwa rasa otentik dan kesederhanaan justru tak pernah kehilangan penggemar, Gez. Arie Widodo/E07)
