Inibaru.id - Pekalongan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Kota di pesisir utara Jawa Tengah ini bahkan mendapat julukan Kota Batik karena tradisi membatik yang telah berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.
Namun, tahukah kamu dari mana nama Pekalongan berasal?
Ternyata, ada beberapa versi yang berkembang mengenai asal-usul nama kota tersebut. Salah satunya berkaitan dengan kisah Joko Bau, putra Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam sejarah kawasan Pekalongan.
Mengutip buku Asal Usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM, Joko Bau merupakan tokoh yang mengabdi kepada Sultan Agung, Raja Mataram. Ia kemudian mendapat tugas untuk memboyong Putri Ratansari dari Kalisalak, Batang, ke istana.
Dalam perjalanan, Joko Bau justru jatuh cinta kepada sang putri. Mengetahui hal tersebut, Sultan Agung memberikan hukuman kepada Joko Bau. Ia kemudian diperintahkan pergi ke wilayah pesisir untuk mengamankan daerah tersebut dari serangan bajak laut.
Baca Juga:
Lawan Tanah Asin! Padi Biosalin Jadi Andalan Petani Pesisir Pekalongan Utara Jelang KemarauBaca Juga:
Garam Asem H.Masduki, Ikon Kuliner Pekalongan yang Sukses Bikin Pelanggan Selalu Balik LagiJoko Bau lalu melakukan semedi di sebuah hutan bernama Gambiran. Dalam pertapaannya, ia melakukan topo ngalong, yakni bertapa dengan posisi bergelantungan seperti kelelawar atau kalong.
Konon, tempat Joko Bau melakukan pertapaan itulah yang kemudian dikenal sebagai Pekalongan.
Versi lain menyebut nama Pekalongan berasal dari kata pek dan along. Pek diartikan sebagai teratas, sedangkan along atau halong bermakna banyak.
Gabungan kedua kata tersebut kemudian menjadi pekalong, yang merujuk pada sebuah daerah tempat para nelayan mendapatkan hasil laut yang melimpah.
Ada pula pendapat yang mengaitkan kata along dengan kalong. Istilah tersebut dipercaya merujuk pada kebiasaan para nelayan yang mencari ikan pada malam hari, sebagaimana kalong yang keluar pada malam hari.
Disebut dalam Naskah Sunda Kuno
Asal-usul nama Pekalongan juga dikaitkan dengan naskah kuno Sunda dari abad ke-16. Dalam naskah yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian di Inggris tersebut, disebut sebuah wilayah bernama Pou-Kia-Loung.
Nama itu muncul dalam kisah perjalanan Bujangga Manik, seorang tokoh terpelajar dari Sunda yang melakukan perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Dalam perjalanannya, Bujangga Manik singgah di sejumlah daerah, antara lain Brebes, Pemalang, Batang, hingga wilayah yang kini dikenal sebagai Pekalongan.
Nama yang tercatat dalam naskah tersebut kemudian disebut-sebut sebagai salah satu jejak awal penyebutan Pekalongan.
Terlepas dari beragam versi asal-usul namanya, keberadaan Pekalongan telah tercatat sejak awal abad ke-16. Saat itu, wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang disinggahi orang-orang dari Kerajaan Demak dan Cirebon.
Memasuki abad ke-17, Pekalongan menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung. Ketika Mataram menyerang Batavia pada 1628, Pekalongan memiliki peran penting sebagai salah satu lumbung perbekalan karena lokasinya berada di jalur Pantura sekaligus jalur perdagangan laut.
Pada masa berikutnya, pengaruh VOC semakin kuat di wilayah Pekalongan. Sejak abad ke-19 hingga 1942, wilayah tersebut berada dalam administrasi Pemerintah Hindia Belanda.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, masyarakat Pekalongan turut berjuang merebut kekuasaan dari Jepang. Pada 3 Oktober 1945, rakyat berhasil merebut markas Tentara Jepang dan pada 7 Oktober 1945 Pekalongan dinyatakan bebas dari pendudukan Jepang.
Kini, Pekalongan berkembang sebagai salah satu kota penting di Jawa Tengah sekaligus salah satu pusat kebudayaan batik. Kota ini juga memiliki berbagai destinasi wisata, seperti Museum Batik yang menyimpan lebih dari 1.000 motif kain batik, Pantai Pasir Kencana, hingga Curug Cinde yang berada di kawasan hutan.
Jadi, di balik nama Pekalongan yang akrab sebagai Kota Batik, tersimpan berbagai kisah yang mempertemukan legenda, naskah kuno, dan perjalanan panjang sejarah pesisir utara Jawa. (Ike/E01)
