BerandaInspirasi Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 07:26

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

Penulis:

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa IndonesiaAdministrator
BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

Ilustrasi, satelit observasi bumi NEO-1 buatan BRIN ditargetkan meluncur pada Januari 2027 untuk mendukung pemetaan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, hingga pengawasan maritim di Indonesia. (Pinterest)

BRIN menargetkan peluncuran satelit observasi bumi NEO-1 pada Januari 2027 sebagai langkah memperkuat kemandirian teknologi antariksa Indonesia, dengan sebagian besar proses pengembangannya dilakukan oleh peneliti dalam negeri.

Inibaru.id - Indonesia selangkah lebih dekat menuju kemandirian teknologi antariksa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan peluncuran satelit observasi bumi Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) pada Januari 2027 sebagai bagian dari upaya membangun industri satelit nasional yang dikerjakan oleh anak bangsa.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan NEO-1 bukan sekadar satelit observasi bumi, melainkan fondasi bagi Indonesia untuk menguasai seluruh rantai teknologi satelit, mulai dari perancangan, produksi, pengujian, hingga pengoperasian.

"Insyaallah pada tahun depan, Januari 2027, BRIN akan meluncurkan NEO-1, satelit observasi bumi hasil karya putra-putri terbaik bangsa," kata Arif dalam peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Jakarta, seperti dilansir dari Katadata, Selasa (8/7).

Menurut Arif, penguasaan teknologi satelit menjadi investasi strategis untuk memperkuat kedaulatan digital Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri.

"Penguasaan teknologi telekomunikasi satelit merupakan strategi investasi untuk memperkuat kedaulatan digital, meningkatkan daya saing ekonomi, serta mengurangi ketergantungan terhadap penyedia teknologi dan layanan dari luar negeri," ujarnya.

NEO-1 merupakan satelit observasi bumi kelas mikrosatelit generasi keempat yang dikembangkan dalam proyek Nusantara Earth Observation (NEO). Konstelasi ini nantinya terdiri atas dua satelit beresolusi sangat tinggi, empat satelit beresolusi tinggi, serta dua satelit Synthetic Aperture Radar (SAR).

Menariknya, hampir seluruh proses pengembangan NEO-1 dilakukan di dalam negeri. Mulai dari perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, pengembangan perangkat lunak, hingga pembangunan stasiun bumi dikerjakan oleh peneliti Indonesia.

Arif menyebut tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) satelit ini telah mencapai sekitar 65 persen.

Fasilitas produksi dan integrasi satelit juga berada di kawasan Rancabungur, Bogor.

"Laboratorium dan tempat produksi satelit NEO-1 itu ada di Bogor, di wilayah Rancabungur. Putra-putri terbaik bangsa yang ada di BRIN ini bisa membuat satelit sendiri," kata Arif.

Dibekali Beragam Misi Strategis

NEO-1 mengemban misi utama sebagai satelit observasi bumi dengan membawa kamera multispektral beresolusi tinggi hingga 5 meter dan kamera resolusi menengah 16 meter. Kemampuan tersebut memungkinkan satelit menghasilkan citra yang dapat dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, lingkungan, hingga mitigasi bencana.

Tak hanya itu, satelit ini juga dilengkapi Automatic Identification System (AIS) Receiver yang berfungsi memantau lalu lintas kapal di wilayah perairan Indonesia.

NEO-1 turut membawa magnetometer untuk mengukur perubahan medan magnet bumi. Data yang dihasilkan diharapkan dapat dimanfaatkan para peneliti dalam mengamati gejala awal sebelum terjadinya gempa bumi.

Selain itu, satelit ini juga membawa kamera inframerah milik Hokkaido University, Jepang, untuk kepentingan riset, serta muatan telekomunikasi low data-rate yang dikembangkan perusahaan rintisan Indonesia, PT Netra.

BRIN memperkirakan NEO-1 akan beroperasi di orbit selama sekitar lima tahun.

Menurut BRIN, peluncuran NEO-1 hanyalah langkah awal. Target yang ingin dicapai jauh lebih besar, yakni membangun ekosistem industri antariksa nasional yang mampu menghasilkan teknologi dan layanan bernilai tambah tinggi.

Mengutip dari Katadata, Arif menegaskan hasil riset harus terus didorong agar tidak berhenti sebagai penelitian di laboratorium, tetapi mampu melahirkan inovasi yang memperkuat industri dan perekonomian nasional.

"Dari hasil riset nasional kita coba perkuat inovasi, dari inovasi menuju industri, dan dari industri menuju penguatan ekonomi. Inilah esensi hilirisasi riset yang terus didorong oleh BRIN," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto, memastikan pemerintah akan mendukung operasional satelit nasional, termasuk melalui koordinasi dengan International Telecommunication Union (ITU) dan penyediaan alokasi spektrum frekuensi.

Dengan peluncuran NEO-1 yang ditargetkan berlangsung awal tahun depan, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi juga semakin mampu bersaing sebagai pengembang satelit di tingkat global. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved