Inibaru.id - Lebih dari satu abad lalu, Raden Ajeng Kartini menuliskan kegelisahan dan harapannya tentang banyak hal: pendidikan, kebebasan, hingga posisi perempuan dalam masyarakat. Surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang" memperlihatkan bahwa Kartini bukan hanya sosok simbolik, tetapi juga pemikir yang serius dengan gagasan yang melampaui zamannya.
Menariknya, ketika dibaca hari ini, pemikiran-pemikiran itu nggak terasa usang. Justru sebaliknya, ia seperti sedang berbicara pada situasi kita sekarang. Banyak hal yang dulu ia pertanyakan, hingga kini masih menjadi isu yang kita hadapi bersama. Dari pendidikan, relasi, hingga cara pandang terhadap perempuan, Kartini sudah lebih dulu mengulasnya dalam bentuk refleksi yang jujur dan tajam.
Karena itu, alih-alih hanya merayakan sosoknya, mungkin kita juga perlu membaca ulang gagasannya. Berikut beberapa pemikiran Kartini yang masih terasa relevan hingga hari ini.
1. Pendidikan Perempuan adalah Kunci Perubahan
Kartini melihat pendidikan bukan sekadar soal kemampuan membaca atau menulis, tetapi sebagai jalan untuk membentuk cara berpikir dan kemandirian perempuan. Dalam surat-suratnya kepada Jacques Henri Abendanon, ia menyampaikan keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi dan membuka akses belajar yang lebih luas. Gagasan ini juga menjadi dasar berdirinya sekolah Kartini di beberapa kota setelah wafatnya. Hari ini, akses pendidikan memang lebih terbuka, tetapi kesenjangan kualitas dan kesempatan masih menjadi tantangan, membuat pemikiran Kartini tetap relevan untuk diperjuangkan.
2. Perempuan Berhak Menentukan Hidupnya Sendiri
Kartini menolak gagasan bahwa hidup perempuan harus mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh tradisi. Dalam surat-suratnya, ia kerap mengungkapkan kegelisahan terhadap praktik pingitan dan keterbatasan ruang gerak perempuan Jawa pada masa itu. Ia menginginkan kebebasan untuk belajar, berpikir, dan menentukan pilihan hidupnya. Apa yang ia tulis dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang" menunjukkan bahwa isu otonomi perempuan sudah menjadi kegelisahan sejak awal abad ke-20—dan hingga kini, tekanan sosial terhadap pilihan hidup perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang berbeda.
3. Kritik terhadap Relasi yang Tidak Setara
Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon sekitar tahun 1901, Kartini secara terbuka mengungkapkan kegelisahannya terhadap praktik poligami dan posisi perempuan dalam pernikahan yang tidak setara. Ia juga menulis kepada sahabatnya, Stella Zeehandelaar, tentang bagaimana perempuan sering kali tidak memiliki pilihan dalam relasi tersebut. Kritik ini menunjukkan bahwa Kartini tidak hanya melihat gejala, tetapi juga memahami struktur ketidakadilan yang ada di baliknya, sesuatu yang hingga kini masih menjadi bagian dari diskusi tentang relasi yang sehat dan setara.
4. Melawan Cara Berpikir yang Membatasi
Salah satu hal paling tajam dari pemikiran Kartini adalah kesadarannya bahwa masalah tidak hanya terletak pada aturan, tetapi juga pada pola pikir yang dibentuk sejak kecil. Dalam berbagai suratnya, ia menggambarkan bagaimana perempuan dididik untuk patuh dan menerima keadaan tanpa bertanya. Perspektif ini memperlihatkan bahwa Kartini sudah menyentuh aspek kultural dan psikologis dari ketidaksetaraan, bukan hanya aspek strukturalnya. Hingga hari ini, bentuk-bentuk pembatasan semacam ini masih sering muncul secara halus dalam kehidupan sehari-hari.
5. Menolak Dinilai dari Status Sosial
Sebagai anak bangsawan dan putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Kartini memiliki posisi sosial yang tinggi. Namun dalam surat-suratnya, ia justru mengkritik sistem feodal yang menilai manusia berdasarkan kelas dan gelar. Ia menyuarakan keinginannya untuk dipandang sebagai manusia seutuhnya. Sikap ini menunjukkan kesadaran sosial yang kuat dan menjadi salah satu kritik awal terhadap struktur sosial yang hierarkis, yang dalam konteks modern masih bisa kita temui dalam berbagai bentuk.
6. Pentingnya Ruang Diskusi dan Bertukar Pikiran
Kartini aktif berdiskusi melalui surat-menyurat dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, salah satunya Stella Zeehandelaar. Dari korespondensi ini, terlihat bagaimana Kartini memperluas perspektifnya melalui dialog lintas budaya dan pemikiran. Surat-surat tersebut, yang kemudian dihimpun oleh Abendanon, menjadi bukti bahwa proses berpikir Kartini berkembang melalui diskusi yang terbuka. Di tengah era digital saat ini, praktik bertukar gagasan secara mendalam justru menjadi sesuatu yang semakin langka, sehingga contoh yang ditunjukkan Kartini terasa semakin relevan.
7. Berpikir Kritis terhadap Sistem yang Tidak Adil
Kartini tidak hanya menerima realitas yang ada, tetapi juga mempertanyakannya, mulai dari tradisi Jawa, struktur sosial, hingga sistem kolonial Belanda. Para peneliti seperti Elisabeth Hessel menilai bahwa surat-surat Kartini mengandung pemikiran sosial dan politik yang kuat, bukan sekadar curahan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang pemikir kritis yang berani menyuarakan ketidakadilan. Dalam konteks hari ini, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi hal yang penting, terutama dalam menghadapi berbagai informasi dan realitas sosial yang kompleks.
Pada akhirnya, pemikiran Kartini bukan hanya masih relevan, tetapi juga menunjukkan bahwa banyak hal yang ia perjuangkan belum sepenuhnya selesai. Mungkin, di sinilah letak pentingnya membaca ulang Kartini hari ini, bukan untuk sekadar mengenang, tetapi untuk memahami bahwa gagasan-gagasannya masih hidup, dan masih menunggu untuk benar-benar diwujudkan. (IB01/E01)
