BerandaHits
Senin, 17 Agu 2026 11:13

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

Penulis:

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang SampahAdministrator
Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

Warga Kampung Puntan mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan mengenakan beragam pakaian adat dan kostum profesi, Senin (17/8). (Inibaru.id/ Saiful Anam)

Upacara HUT ke-81 RI di Kampung Puntan, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, Semarang, berlangsung unik dengan keterlibatan ibu-ibu sebagai petugas upacara serta kreativitas warga yang mengenakan kostum berbahan limbah plastik, termasuk bubble wrap dan kemasan deterjen.

Inibaru.id - Kemerdekaan barangkali memang tak selalu harus dirayakan dengan cara yang seragam. Sebab, bagi setiap warga, ada cara masing-masing untuk memaknai merah putih: dengan menjaga kerukunan, mengenalkan budaya, berkarya, atau sekadar hadir dan mengambil bagian dalam sebuah perayaan bersama.

Gambaran itu terasa di Kampung Puntan, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Senin (17/8/2026) pagi. Sejak pukul 07.00 WIB, warga mulai memenuhi lapangan untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Pagi itu, suasana lapangan tampak lebih berwarna dari biasanya. Dari barisan peserta, terlihat pakaian adat dari berbagai daerah, diselingi warga yang mengenakan kostum profesi. Di tengah kerumunan, beberapa ibu-ibu dan remaja putri berdiri di barisan paling depan, bersiap menjalankan tugas sebagai petugas upacara.

Yang tak kalah mencuri perhatian, ada pula warga yang mengenakan kostum unik berbahan limbah plastik. Barang-barang yang biasanya berakhir di tempat sampah pagi itu berubah menjadi pakaian yang ikut menyemarakkan perayaan kemerdekaan.

Suasana pun terasa jauh dari sekadar seremoni tahunan. Di Kampung Puntan, kemerdekaan seperti dirayakan lewat banyak cara sekaligus: melalui keberagaman, kreativitas, peran perempuan, dan tentu saja guyub rukun antarwarga.

Pemandangan berbeda sudah terlihat dari jajaran petugas upacara. Posisi protokol atau pembawa acara, pasukan pengibar bendera, hingga pembaca UUD 1945 dipercayakan kepada ibu-ibu dan remaja putri Kampung Puntan.

Kehadiran mereka bukan sekadar untuk mengisi posisi petugas. Bagi warga, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat dan menjadi soko guru peradaban bangsa.

Lewat upacara pagi itu, para perempuan menunjukkan bahwa ruang publik juga menjadi tempat mereka untuk mengambil peran, tampil, dan berkontribusi dengan penuh percaya diri. Sementara itu, barisan peserta tak kalah semarak. Pakaian adat dari Sumatra hingga Papua tampak berpadu dengan beragam kostum profesi.

Masing-masing seperti membawa cerita sendiri tentang Indonesia dan tentang cara warga mengisi kemerdekaan.

Namun, dari sekian banyak kostum yang dikenakan, beberapa justru punya cerita yang tak biasa. Bukan dibeli dari toko atau disewa dari penyedia kostum, melainkan dibuat dari barang-barang yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah.

Bubble Wrap Bekas Jadi Pakaian Adat

Emma Apriliana, warga RT 03/RW 01, misalnya. Ia memanfaatkan bubble wrap bekas pembungkus paket belanja online untuk membuat outer dan rok yang terinspirasi dari pakaian adat Kalimantan.

Bubble wrap yang biasanya hanya dibuka lalu dibuang itu dikumpulkan Emma di rumah. Dengan keterampilan menjahit yang dimilikinya, ia kemudian mengubahnya menjadi kostum untuk perayaan 17 Agustus.

"Inikan ada bekas buble warp banyak dirumah, biasanya buat bungkus paket belanja online, nah ini daripada dibuang saya kumpulin kemudian saya jahit sendiri, saya eksplore dan saya buat kostum 17an" kata Emma kepada media.

Ide tersebut ia dapatkan dari media sosial. Emma mengaku kerap melihat berbagai kreasi kostum yang dibuat dari limbah plastik, lalu mencoba mengembangkan ide tersebut dengan kemampuannya sendiri.

"ya saya dapat idenya dari sosial media, sering lihat modifikasi modifikasi kostum dari sampah plastik" jelas Emma

Kostum buatannya ternyata tak hanya menarik perhatian warga Kampung Puntan. Setelah diunggah melalui status WhatsApp, ada warga dari kampung lain yang tertarik untuk menyewanya.

"Alhamdulillah sudah ada yang pesan sewa kostum saya mas, gara gara saya posting di status WhatsApp" ungkap Emma.

Petugas upacara di Kampung Puntan mengenakan kostum hasil daur ulang limbah plastik sebagai bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8). (Inibaru.id/ Saiful Anam)
Petugas upacara di Kampung Puntan mengenakan kostum hasil daur ulang limbah plastik sebagai bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8). (Inibaru.id/ Saiful Anam)

Emma bukan satu-satunya warga yang memanfaatkan limbah untuk kostum kemerdekaan. Ratna Wardani, warga RT 02/RW 01, juga membuat kostum dari tumpukan limbah plastik kemasan deterjen yang ada di rumahnya.

Untuk menghasilkan kostum tersebut, Ratna membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Baginya, kemasan yang sudah tidak terpakai itu masih bisa diberi kehidupan kedua.

"Ya daripada bungkus deterjennya dibuang ya mending dimanfaatkan untuk kostum 17an mas, siapa tau bisa jadi inspirasi banyak orang. Ini saya butuh Waktu seminggu" jelas Ratna.

Kreasi Emma dan Ratna akhirnya menjadi lebih dari sekadar kostum 17 Agustus. Ada pesan sederhana yang ikut dibawa: barang bekas pun bisa menjadi sesuatu yang menarik ketika diberi sedikit kreativitas.

Di balik pakaian adat, kostum profesi, dan busana daur ulang itu, ada semangat yang ingin dibangun warga Kampung Puntan.

Bhinneka Tunggal Ika

Bertindak selaku Pembina Upacara, tokoh masyarakat Puntan, Waimin S.Pd, mengatakan tema besar yang diusung dalam kegiatan tersebut adalah Bhinneka Tunggal Ika.

Ia menilai keberagaman bukan sesuatu yang membuat warga terpisah. Sebaliknya, perbedaan justru menjadi bagian dari kekuatan masyarakat Puntan untuk tetap berdiri bersama.

"Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya menjaga guyub rukun antar warga, bergotong-royong, dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat," terang Waimin.

Menurut Waimin, penggunaan pakaian adat juga memiliki pesan bagi generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, masyarakat tetap perlu mengenal dan mencintai budaya bangsa.

"Selain itu, kostum profesi membawa pesan tersirat bahwa di usia kemerdekaan ke-81 ini, masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus berkontribusi melalui profesinya masing-masing" kata Waimin.

Salah satu warga, Suharsulasmono, tampak gagah mengenakan beskap yang menyimbolkan adat Jawa. Ia mengaku bahagia melihat antusiasme warga dalam mengikuti upacara tahun ini.

"Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya berharap cerminan upacara hari ini dapat menjadi pemantik semangat persatuan, tidak hanya bagi warga di sini, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara luas," ujar Suhar.

Kekompakan warga juga membuat Ketua RT 02, Santoso, merasa terharu dan bangga. Menurutnya, antusiasme warga menunjukkan bahwa kegiatan bersama masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan kampung.

"Saya sangat bangga dan senang warga Puntan kompak kompak, agenda positif seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang" tutur Santoso.

Ketua RT 03, Puji Riyanto, melihat hal serupa. Baginya, keberhasilan upacara tersebut menjadi bukti nyata bahwa warga mampu menjaga kerukunan.

"Ini membuktikan bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan yang ada, warga Puntan bisa bersatu dan sukses melaksanakan agenda upacara bersama-sama. Ini adalah wujud guyub rukun yang sesungguhnya," pungkas Puji.

Kampung Gang Presiden

Kampung Puntan RT 02-RT 03 RW 01 memang punya cerita lain yang membuatnya berbeda. Selain tradisi upacara bersama, kawasan ini dikenal sebagai “Kampung Gang Presiden”.

Bukan tanpa alasan. Sejumlah gang di kampung tersebut menggunakan nama para presiden Indonesia. Ada Gang Soekarno, Gang Soeharto, Gang Habibie, Gang Gusdur, Gang SBY, hingga Gang Jokowi.

Menurut Waimin, penamaan tersebut merupakan bentuk kecintaan warga terhadap para pemimpin bangsa.

Namun, nama-nama itu sekaligus menjadi harapan agar para pemimpin yang pernah memimpin Indonesia dapat memberikan teladan dan kinerja terbaik bagi masyarakat.

"Harapannya dengan ungkapan kecintaan warga dengan pemimpinnya melalui nama gang ini juga direspon para pemimpin agar memberikan teladan dan kinerja terbaik untuk rakyat" tutur Waimin.

Ya, pagi itu, bendera Merah Putih akhirnya berkibar di Kampung Puntan. Namun, yang ikut berkibar sebenarnya bukan hanya bendera. Ada semangat warga untuk tetap berkumpul, ada kreativitas yang lahir dari barang bekas, ada perempuan yang mengambil peran di ruang publik, dan ada keberagaman yang dirayakan bersama.

Mungkin memang begitu cara sebuah kampung memaknai kemerdekaan: tidak selalu dengan sesuatu yang besar, tetapi dengan hal-hal sederhana yang dikerjakan bersama. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved