Inibaru.id - Kalau bicara soal tunawisma, bayangan yang muncul biasanya adalah deretan tenda di trotoar atau orang tidur di bawah jembatan. Tapi di Jepang, ceritanya agak berbeda. Negara dengan populasi sekitar 123 juta jiwa ini secara resmi hanya mencatat 2.591 tunawisma per Januari 2025.
Buatmu yang merasa angka ini biasa saja. Bayangkan saja Jepang yang ukurannya nggak jauh beda dari Pulau Sumatra yang besar banget itu, hanya memiliki dua ribuan tunawisma.
Data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan sebagian besar tunawisma adalah laki-laki, yaitu 2.346 orang. Sisanya terdiri atas 163 perempuan dan 82 orang yang identitasnya tidak diketahui. Kota dengan jumlah tertinggi adalah Osaka dengan 763 orang, disusul Tokyo sebanyak 565 orang.
Angka ini turun sekitar 8,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Kalau ditarik lebih jauh ke belakang, jumlah tunawisma di Jepang pernah mencapai lebih dari 25 ribu orang pada 2003. Artinya, secara statistik, Jepang berhasil menekan angka tunawisma secara signifikan.
Namun, angka resmi itu ternyata hanya bagian kecil dari cerita.
Tunawisma “tak terlihat”
Di Jepang, definisi tunawisma sangat spesifik. Mereka yang dihitung hanya orang yang benar-benar tidur di ruang terbuka seperti taman, pinggir sungai, atau jalanan. Sementara itu, orang yang tinggal di warnet 24 jam, hotel kapsul, atau bahkan di mobil pribadi tidak masuk hitungan resmi. Kelompok ini sering disebut sebagai “hidden homeless” atau tunawisma tersembunyi.
Meski punya pekerjaan, banyak dari mereka tidak mampu menyewa apartemen karena biaya hidup di kota besar Jepang sangat tinggi. Akhirnya, warnet jadi solusi sementara. Dengan membayar biaya harian yang relatif murah, mereka bisa tidur, mandi, dan tetap punya akses internet.
Beberapa survei independen memperkirakan jumlah “pengungsi warnet” di Jepang bisa mencapai 100 ribu hingga 300 ribu orang. Angka ini jauh lebih besar dari statistik resmi.
Bekerja, tapi tetap tak punya rumah
Yang mengejutkan, sebagian tunawisma tersembunyi sebenarnya punya pekerjaan. Ada yang bekerja paruh waktu, ada juga yang bekerja penuh waktu. Tapi pendapatan mereka tetap tidak cukup untuk hidup mandiri.
Pandemi COVID-19 memperburuk situasi. Banyak pekerja kontrak, pekerja asing, dan anak muda kehilangan penghasilan. Tanpa tabungan atau keluarga di dekat mereka, warnet dan hotel kapsul menjadi satu-satunya pilihan.
Bagi warga asing, situasinya bisa lebih rumit. Hambatan bahasa, status visa, dan keterbatasan akses bantuan sosial membuat mereka lebih rentan kehilangan tempat tinggal.
Sistem bantuan yang terus berkembang
Pemerintah Jepang sebenarnya sudah mengambil langkah sejak awal 2000-an dengan membuat undang-undang khusus untuk membantu tunawisma. Program ini menyediakan pelatihan kerja, pusat dukungan, dan hunian sementara.
Upaya ini terbukti efektif menurunkan jumlah tunawisma yang terlihat di jalanan. Namun, fenomena tunawisma tersembunyi menunjukkan bahwa masalahnya belum sepenuhnya selesai.
Di balik citra Jepang sebagai negara maju, masih ada orang-orang yang hidup tanpa kepastian tempat tinggal. Mereka tidak selalu terlihat, tidak selalu tercatat, tapi tetap ada.
Angka 2.591 mungkin terlihat kecil. Tapi kenyataannya, kisah di balik angka itu jauh lebih kompleks. dan menjadi pengingat bahwa bahkan di negara paling tertib sekalipun, masih ada sisi kehidupan yang jarang terlihat. (Arie Widodo/E07)
