Piala Dunia Qatar 2022: Pesta yang Dibayangi Tudingan Perbudakan Modern

Piala Dunia Qatar 2022: Pesta yang Dibayangi Tudingan Perbudakan Modern
Meski sudah berlangsung, kontroversi Piala Dunia Qatar 2022 masih terjadi. (Getty Images/Matthias Hangst)

Piala Dunia Qatar 2022 sudah dimulai dengan meriah. Drama pertandingan sepak bola pun sudah bermunculan. Sayangnya, gegap gempita kompetisi ini masih diselimuti dengan kontroversi dan isu perbudakan modern.

Inibaru.id – Karena hanya berlangsung setiap 4 tahun, wajar jika Piala Dunia selalu menyedot atensi dunia. Apalagi, negara-negara yang bertanding berasal dari semua benua. Ditambah dengan drama-drama di dalam dan luar pertandingan, sorotan pada ajang sepak bola paling wah sejagat ini pun semakin tajam.

Sayangnya, sorotan pada Piala Dunia Qatar 2022 juga diiringi dengan berbagai kontroversi. Memang, cerita tentang pertandingan bersejarah seperti kemenangan Arab Saudi atas Argentina pada Selasa (22/11/2022) tetap bisa kamu temui di ajang ini. Namun, isu-isu di luar pertandingan seperti LGBTQ terus menggema. Apalagi, isu tentang tudingan perbudakan modern yang dilakukan Qatar saat membangun stadion dan infrastruktur lainnya seperti tak terselesaikan.

Wartawan senior Zen RS di akun Twitternya @zenrs mengungkap bahwa jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang menyelenggarakan Piala Dunia, Qatar memang terkesan lebih ngoyo. Bagaimana nggak, mereka harus membangun 7 stadion baru, lengkap dengan kota-kota pendukung ajang ini.

Mengingat populasi Qatar hanya 2,7 juta orang per 2020 lalu, mereka pun membutuhkan tenaga kerja asing (TKA) untuk menyukseskan pembangunan berbagai macam infrastruktur Piala Dunia. Nah, dari inilah tudingan perbudakan modern dimulai.

Sistem Kafala

Isu perbudakan para pekerja pembangunan infrastruktur Piala Dunia Qatar 2022. (AP Photo/Hassan Ammar)
Isu perbudakan para pekerja pembangunan infrastruktur Piala Dunia Qatar 2022. (AP Photo/Hassan Ammar)

Mojok, (14/5/2022) menulis, Human Rights Watch menyebut tenaga kerja asing di Qatar mencapai 2 juta orang. Satu juta di antaranya khusus dipekerjakan di bidang konstruksi, tepatnya pembangunan stadion dan infrastruktur Piala Dunia lainnya.

Untuk mengakomodasi banyaknya kebutuhan tenaga kerja asing tersebut, Qatar menggunakan Sistem Kafala. Sistem ini memungkinkan individu atau perusahaan-perusahaan dari Qatar menjadi sponsor untuk mendatangkan tenaga kerja dari luar Qatar.

Para sponsor inilah yang menyiapkan biaya logistik dan akomodasi, termasuk tempat tinggal bagi para tenaga kerja asing saat bekerja di Qatar. Terkesan tidak masalah, ya? Sayangnya, praktiknya tidak semulus itu, Millens.

Nyatanya, para sponsor ini justru berperan seperti majikan semena-mena dan memperlakukan para tenaga kerja asing ini sebagai budak. Para pekerja harus tunduk pada aturan-aturan ketat yang dibuat saat menandatangani kontrak kerja seperti tidak boleh berganti pekerjaan, berhenti dari pekerjaannya, atau meninggalkan Qatar.

Boikot Piala Dunia 2022 Menggema

Para pemain sepak bola melakukan protes pelanggaran Hak Asasi Manusia. (VOI/Antara)
Para pemain sepak bola melakukan protes pelanggaran Hak Asasi Manusia. (VOI/Antara)

Dampaknya fatal. Menurut laporan The Guardian, setidaknya ada 6.750 pekerja asing dari India, Pakistan, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, dan negara-negara lain yang meninggal selama proses pembangunan infrastruktur Piala Dunia. Mereka meninggal karena jam kerja yang berlebihan, gaji yang rendah, dan perlindungan yang minim saat bekerja, khususnya saat cuaca ekstrem atau di lokasi kerja yang berbahaya.

Dari laporan-laporan itulah, boikot Piala Dunia 2022 menggema sebelum ajang ini digelar. Banyak negara yang menganggap Qatar telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) kepada para pekerja migran tersebut. Apalagi, protes dari keluarga para pekerja yang meninggal atau tidak mendapatkan haknya juga terus bermunculan di berbagai media.

Memang, sejumlah pemain atau offisial dari negara-negara yang bertanding di Piala Dunia tetap mengumandangkan protes atas hal ini. Denmark, misalnya, sengaja memakai jersey polosan yang menunjukkan protes akan pelanggaran tersebut. Selain itu, bek Inggris Erik Dier juga sempat mengaku antusiasmenya berkurang saat bertanding di ajang ini saat masalah-masalah tersebut belum terselesaikan.

“Kami kehilangan banyak (kegembiraan) itu. Tapi kami tidak bisa menyembunyikannya, akan salah jika mengabaikannya,” ucapnya sebagaimana dilansir dari Goal, (20/11/2022).

Tapi, nyatanya euforia Piala Dunia lebih kuat dari protes-protes tersebut. Laga-laga tetap berlangsung dengan meriah. Drama-drama sepak bola bakal terus membanjiri lini masa media sosial, dan akhirnya, protes-protes tersebut akan meredup dengan sendirinya saat ajang ini berakhir akhir Desember 2022 nanti. (Arie Widodo/E10)