Nestapa Pengusaha Pertashop; Di Ambang Kebangkrutan Sejak Harga BBM Naik

Nestapa Pengusaha Pertashop; Di Ambang Kebangkrutan Sejak Harga BBM Naik
Sejak harga BBM naik, bisnis Pertashop semakin sulit. Banyak yang sudah terancam gulung tikar. (Pertamina.com)

Sejak harga BBM naik, banyak Pertashop yang kehilangan pelanggan. Selain karena harga Pertamax yang makin mahal, selisih dengan harga Pertalite yang terlalu jauh membuat pelanggan beralih ke BBM subsidi.

Inibaru.id – Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Pertashop Seluruh Indonesia (DPD HIPSI) Jawa Tengah Jengkar Tundung Janu Prihantoro melaporkan ratusan pengusaha Pertashop di Jateng terancam bangkrut gara-gara harga bahan bakar minyak (BBM) naik sejak awal September 2022.

Menurut laporan Liputan6.com, Rabu (21/9/2022), kenaikan harga Pertamax secara bertahap dari Rp 9.000 menjadi Rp 12.500 lalu yang terakhir menjadi Rp 14.500 berdampak pada semakin berkurangnya jumlah pelanggan Pertashop. Hal ini wajar terjadi karena banyak masyarakat beralih ke BBM yang lebih murah, yaitu Pertalite meski secara kualitas jauh lebih rendah dari Pertamax.

“Banyak teman-teman yang sekarang sudah tutup itu. Pertashopnya juga nggak dipakai,” cerita Jengkar, Rabu (21/9).

Jengkar sendiri mengaku mengalami penurunan omzet secara drastis. Pertashop miliknya yang ada di Karaban, Kabupaten Pati sudah nggak menguntungkan. Soalnya, jika dibandingkan dengan penjualan per hari pada bulan Maret 2022 yang mencapai 1.400 -1.500 liter, kini penjualannya hanya 400 sampai 500 liter saja per hari.

“Penurunan (omzet) sampai 70 persen. Karyawan saja saya pertahankan hanya karena faktor kemanusiaan,” ungkap Jengkar sebagaimana dikutip dari Suara Merdeka, Rabu (21/9).

Hal yang sama juga diungkap pengelola tiga unit Pertashop di Pati Sudardi. Sejak harga Pertamax naik pada April 2022, omzet bisnisnya terus menurun. Dia bahkan mengaku sudah mengurangi karyawan karena kesulitan menggaji.

“Awalnya kami mampu menjual 800-900 liter per hari. Kini tinggal 200 liter,” ucap Sudardi, Rabu (21/9).

Banyak pelanggan Pertashop memilih membeli BBM subsidi di SPBU. (Gridoto/Pertamina Sumbagut)
Banyak pelanggan Pertashop memilih membeli BBM subsidi di SPBU. (Gridoto/Pertamina Sumbagut)

Jengkar dan Sudardi kompak menyalahkan selisih harga antara Pertamax dan Pertalite yang terlalu jauh menjadi penyebab hengkangnya pelanggan mereka. Andai selisih harga di antara kedua jenis BBM tersebut nggak terlalu jauh, mungkin ceritanya akan berbeda.

“Idealnya, selisih Rp 2 ribu saja,” ujar Jengkar.

Gugurnya bisnis Pertashop di berbagai tempat sampai mendapatkan tanggapan dari Bupati Magetan, Jawa Timur, Suprawoto. Dilansir dari Gridoto, Rabu (21/9), dia menyarankan Pertamina untuk membolehkan Pertashop mengganti dagangannya dari Pertamax menjadi Pertalite dan Solar.

Hal yang serupa juga diungkap Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Patriot Noorman Susanto. Dia meminta Pertamina mengganti produk yang dijual Pertashop menjadi BBM subsidi.

“Mestinya yang dijual Pertashop adalah produk BBM subsidi karena berada di pelosok dan lingkungan warga strata ekonomi bawah,” saran Noorman.

Meski banyak ide disampaikan demi menyelamatkan Pertashop-Pertashop yang sedang sekarat di banyak tempat, Jengkar, Sudardi, dan pengelola bisnis lainnya sudah pasrah. Padahal, mereka sudah mengeluarkan modal sampai lebih dari Rp 500 juta selain tanah untuk membukanya. Ada juga yang kini kesulitan untuk mengembalikan pinjaman dari bank gara-gara kenaikan harga BBM.

“Kami tidak tahu apakah mampu bertahan atau tidak,” pungkas Sudardi.

Kalau menurutmu, apakah Pertashop memang sebaiknya diperbolehkan menjual BBM subsidi saja, Millens? (Arie Widodo/E05)