Inibaru.id - Selama ini kalau bicara soal kelestarian alam, pikiran kita pasti langsung tertuju pada hutan rimba yang rimbun. Padahal, ada satu ekosistem yang sering dianggap "cuma rumput" tapi punya peran super vital buat bumi yaitu padang rumput.
Sayangnya, kabar terbaru dari dunia sains bikin kita harus waspada. Riset terbaru yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (Februari 2026) mengungkap fakta mencengangkan: padang rumput dunia menghilang empat kali lebih cepat dibandingkan hutan!
Yuk, kita bedah kenapa fenomena ini gawat dan kenapa padang rumput itu sebetulnya "pahlawan tanpa tanda jasa" bagi iklim kita.
Si Penyerap Karbon yang Rendah Hati
Mungkin tampilannya nggak semegah hutan hujan tropis, tapi jangan remehkan kekuatannya. Padang rumput adalah "bank karbon" raksasa. Sekitar 20 hingga 35 persen karbon dunia tersimpan rapi di dalam ekosistem ini. Hebatnya lagi, jika hutan menyimpan karbon di batang pohon yang rawan terbakar, padang rumput menyimpan sebagian besar karbonnya di bawah tanah (akar dan tanah). Artinya, simpanan karbon ini lebih aman dan stabil.
Selain jadi benteng perubahan iklim, padang rumput adalah rumah bagi 33 persen hotspot keanekaragaman hayati dunia. Mulai dari serangga penyerbuk, burung migran, hingga mamalia besar, semuanya menggantungkan hidup di hamparan hijau ini. Dr. Siyi Kan, peneliti dari Jerman, menyebutkan kalau ekosistem ini juga juara dalam urusan menyimpan cadangan air dan melindungi tanah dari erosi.
Hilang dalam Senyap
Masalahnya, karena dianggap "lahan kosong", padang rumput sering jadi sasaran empuk alih fungsi. Selama periode 2005 hingga 2020, luasnya menyusut drastis demi memenuhi ambisi perut manusia.
Penyebab utamanya? Apalagi kalau bukan ekspansi lahan pertanian dan peternakan. Permintaan pasar global akan daging, serealia, dan biji penghasil minyak (seperti kedelai) memaksa padang rumput dirombak menjadi ladang produksi.
Menariknya, kalau deforestasi hutan identik dengan negara tropis, "pembantaian" padang rumput justru masif terjadi di negara-negara besar seperti Brasil (yang memimpin dengan 13 persen kehilangan), disusul Rusia, Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.
Saatnya 'Move On' dari Fokus ke Hutan Saja
Penelitian ini jadi pengingat buat kita semua bahwa konservasi nggak boleh pilih kasih. Kita nggak bisa cuma fokus menyelamatkan pohon, tapi membiarkan hamparan rumput dihancurkan. Martin Persson dari Swedia menekankan bahwa rantai pasok global, alias apa yang kita makan sehari-hari punya andil besar dalam hilangnya ekosistem ini.
Jika tren ini terus berlanjut, kita nggak cuma kehilangan pemandangan indah ala sabana, tapi juga melepaskan cadangan karbon raksasa ke atmosfer yang bakal bikin bumi makin gerah. (Siti Zumrokhatun/E05)
