Inibaru.id - Pernah nggak sih, Gez, kamu melihat adik atau anak kecil menangis sesenggukan cuma gara-gara mainannya rusak atau nggak diajak main temannya? Kadang kita refleks bilang, "Halah, gitu doang kok nangis, lebay ah!"
Eits, tahan dulu! Ternyata kalimat sakti "gitu doang" itu bisa berdampak serius buat mental mereka, lo. Menurut dr. Widi Primaciptadi, dokter psikiatri anak dari RS Marzoeki Mahdi, perasaan anak kecil itu haram hukumnya buat disepelekan.
Masalah bagi orang dewasa mungkin soal cicilan atau kerjaan, tapi bagi anak-anak, kehilangan pensil warna kesayangan bisa terasa seperti kiamat kecil. Hal ini karena sistem regulasi emosi mereka memang belum matang, Gez.
Mengutip ANTARA (13/2), dr. Widi menjelaskan kalau orang dewasa sering meremehkan perasaan anak dengan dalih "nanti juga lupa". Padahal, masalah itu terasa sangat nyata dan besar di mata mereka. Kita nggak bisa menyamakan cara pikir kita yang sudah "senior" dengan mereka yang identitas dirinya masih berkembang.
Saat Tekanan Bertemu Emosi yang Belum Matang
Bagi kita, konflik sama teman sebaya atau nilai tugas yang jelek mungkin hal biasa. Tapi bagi anak, itu adalah tekanan besar. Kalau tekanan ini bertemu dengan kemampuan mengelola emosi yang masih minim, dampaknya bisa meledak. Anak bukan stres karena kejadiannya saja, tapi karena cara mereka memaknai kejadian itu yang terasa sangat berat.
Stres pada anak itu nggak selalu ditunjukkan dengan drama besar atau teriakan. Sering kali, gejalanya muncul pelan-pelan tapi konsisten. Kamu harus waspada kalau si kecil mulai menunjukkan tanda-tanda ini:
- Jadi Pendiam: Tiba-tiba menarik diri dari geng bermainnya.
- Self-Blame: Sering menyalahkan diri sendiri atas hal-hal sepele.
- Sumbu Pendek: Jadi gampang marah atau tersinggung.
- Gangguan Fokus: Sulit konsentrasi atau susah tidur.
- Kehilangan Minat: Nggak lagi semangat melakukan hobi yang biasanya dia suka.
Kalau tanda-tanda ini diabaikan, stres yang menumpuk bisa berbahaya dan memicu keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Ngeri, kan?
Jadilah "Ruang Aman" buat Mereka
Terus, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang dewasa yang lebih "bijak"? Dr. Widi menyarankan beberapa langkah simpel tapi bermakna:
- Validasi Perasaannya: Kalau dia sedih, biarkan dia sedih. Bilang, "Iya, Ibu/Ayah paham itu pasti sedih banget ya."
- Ngobrol Rutin: Jangan cuma nanya soal nilai sekolah, tanya juga gimana perasaannya hari ini.
- Stop Banding-bandingin: Kalimat "Dulu Ayah pas kecil nggak gitu" itu mending disimpan rapat-rapat ya!
- Ciptakan Safe Space: Pastikan rumah dan sekolah jadi tempat paling nyaman buat mereka bercerita tanpa takut di-judge.
Dunia anak mungkin terlihat kecil bagi kita, tapi bagi mereka, itulah seluruh dunianya.
Ingat ya, dengan mendengarkan mereka sekarang, kita sedang membantu mereka tumbuh jadi orang dewasa yang punya mental kuat di masa depan. Yuk, lebih menghargai setiap tetes air mata mereka! (Siti Zumrokhatun/E05)
