BerandaHits
Senin, 22 Des 2025 13:12

Membantu Anak Belajar Bahasa: Strategi Efektif untuk Diterapkan sejak Dini

Penulis:

Membantu Anak Belajar Bahasa: Strategi Efektif untuk Diterapkan sejak DiniSiti Khatijah
Membantu Anak Belajar Bahasa: Strategi Efektif untuk Diterapkan sejak Dini

Ilustrasi: Bukan saat mengenal kata-kata, anak sudah belajar bahasa sejak mereka membuat isyarat tertentu, bahkan ketika mereka menangis. (Haver)

Mengembangkan kemampuan bahasa bukan dimulai saat anak mulai mengenal kata-kata, tapi jauh lebih dini, yakni ketika mereka mulai merespons komunikasi nonverbal. Berikut ini adalah beberapa cara untuk memaksimalkan potensi tersebut.

Inibaru.id - Perkembangan bahasa pada anak nggak dilakukan sejak mereka mengenal kata-kata. Belajar berkomunikasi pada anak sejatinya telah dimulai sejak bayi menangis, misalnya karena lapar atau nggak nyaman, atau tertawa senang melihat wajah orang yang dikenalnya.

Sementara pada balita, komunikasi juga dilakukan saat dia menunjuk mainan favoritnya. Semua bentuk komunikasi tersebut merupakan fondasi penting bagi perkembangan bahasa.

Menurut ahli patologi wicara dan bahasa Rachel Cortese, cara orang dewasa merespons upaya komunikasi anak dapat mempercepat atau justru memperlambat perkembangan bahasanya.

“Perkembangan bahasa awal adalah sesuatu yang alami dan instingtif,” tulis Cortese di Child Mind Institute. "Namun, bagaimana kita menanggapi usaha mereka berkomunikasi bisa berdampak besar pada kemajuan mereka.”

Bahasa Dimulai sebelum Kata

Sebagian besar orang tua umumnya menyadari bahwa sebelum anak berbicara, mereka telah bekomunikasi untuk mengutarakan kebutuhan dan keinginan melalui kontak mata, gerak tubuh, hingga gestur menunjuk.

Namun, Rachel menyebutkan bahwa komunikasi sebetulnya telah terjalin sebelum itu. Komunikasi dengan anak, lanjutnya, telah terjadi ketika bayi menangis dan orang tua merespons. Ikatan komunikasi sudah mulai terbentuk pada saat itu.

"Respon orang tua membantu bayi memahami hubungan timbal balik," tuturnya. "Bayi berpikir, 'Jika aku mengeluarkan suara, seseorang akan memperhatikanku.' Dari sinilah muncul kesadaran bahwa komunikasi itu berguna, yang menjadi dasar bagi tumbuhnya bahasa."

Perkembangan bahasa, imbuhnya, juga sangat terkait dengan symbolic play atau permainan simbolik. Pada usia sekitar 12–13 bulan, ketika anak mulai mengucapkan kata pertama, mereka juga mulai bermain simbol, misalnya memegang pisang dan berpura-pura menelepon seseorang.

“Untuk bisa berbahasa, anak harus mampu berpikir simbolik,” jelas Rachel. “Karena kata adalah simbol.”

Menciptakan Kesempatan untuk Berkomunikasi

Salah satu metode sederhana yang efektif adalah dengan menciptakan situasi yang mendorong anak untuk meminta sesuatu. Misalnya, meletakkan mainan atau camilan sedikit di luar jangkauan, agar anak berusaha mengomunikasikan kebutuhannya.

Selain itu, menurut Rachel, kita juga bisa mengatur lingkungan rumah untuk mendorong lebih banyak interaksi. Letakkan mainan favorit di tempat yang mudah terlihat tapi sulit diambil atau berikan anak sebagian potongan puzzle agar mereka meminta sisanya.

"Tujuan dari cara ini bukan untuk membuat anak frustrasi, tetapi merangsang anak untuk meminta, menunjuk, atau menggunakan suara dan menyebutkan kata," jelasnya.

Cara lainnya adalah dengan berpura-pura lupa dalam kegiatan rutin atau aktivitas berurutan, semisal sengaja nggak memasangkan kaus kaki sebelum sepatu agar anak mengoreksi "kesalahan" kita. Atau, bisa juga dengan berhenti tiba-tiba saat menyanyikan lagu favoritnya agar anak bisa melanjutkan.

Aktivitas semacam ini membantu anak belajar mengambil giliran, melatih kosa kata, dan memahami pola komunikasi dua arah.

Membantu Anak Naik Satu Tingkatan Bahasa

Ilustrasi: Orang tua perlu merespons setiap anak berusaha berkomunikasi. (Unsplash/Kuanish Reymbaev)
Ilustrasi: Orang tua perlu merespons setiap anak berusaha berkomunikasi. (Unsplash/Kuanish Reymbaev)

Rachel menekankan bahwa tujuan utama orang tua merangsang komunikasi adalah untuk membantunya mencapai level komunikasi berikutnya. Jika anak baru bisa mengucapkan satu kata, orang tua bisa mencontohkan kalimat berisikan dua atau tiga kata.

“Komunikasi harus terasa menyenangkan,” sebutnya. "Karena itu, orang tua perlu mengikuti minat anak, merespons setiap usaha komunikasi, dan memperluasnya sedikit demi sedikit."

Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan pada anak usia 0–5 tahun sesuai level perkembangan mereka:

1. Imitasi

Tiru suara atau tindakan anak, termasuk babbling atau memukul-mukul sendok. Ini menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan mengapresiasi apa yang mereka lakukan, serta mengundang mereka untuk meniru kembali bahasa kita.

2. Interpretasi

Jika anak menunjuk jus apel, kamu bisa merespons dengan menyebutkan, “Jus apel? Kamu mau jus apel?” Cara ini akan menegaskan maksud anak sekaligus memberi contoh penggunaan kata.

3. Perluas dan perbaiki dengan lembut

Ketika anak berkata, “Truk merah,” kita bisa membalas, “Iya, truk merah besar!” Jika anak berkata, “Naga lompat kasur,” kita bisa perbaiki struktur kalimatnya menjadi, “Naga sedang melompat di kasur!”

4. Beri Komentar, bukan instruksi

Jadilah komentator alih-alih pengarah. “Kamu sedang menyusun balok tinggi sekali, ya?” Nah, komentar semacam ini memperkaya kosakata anak tanpa menekan mereka.

5. Hindari bahasa negatif

Jangan buru-buru mengatakan, “tidak ada sapi di situ” atau “langit tidak berwarna pink”. Fokuslah pada penguatan positif agar anak lebih percaya diri dalam bereksplorasi.

6. Respons dengan cepat

Tanggapi setiap bentuk komunikasi, termasuk gestur dan tatapan mata. Respons yang cepat menunjukkan bahwa komunikasi itu penting dan bermakna.

7. Ambil giliran secara seimbang

Biarkan anak memimpin sebagian percakapan; termasuk melalui tatapan, isyarat, atau pemberian benda; untuk mengajarkan pola dasar komunikasi dua arah.

8. Memberi label

Saat snack time, sebutkan “apel”, “juice”, dan “biskuit”. Saat mandi, ulangi kata “busa”. “air”, dan “bersih”. Pemberian label pada benda secara konsisten akan membantu anak membangun kosakata pasif dan aktif.

9. Jangan terus-menerus menguji

Jika kita sudah tahu bahwa anak mengetahui suara babi, jangan terus bertanya, “Bagaimana bunyi babi?” Gunakan energi anak untuk hal lain dan fokuslah bermain bersamanya ketimbang terus-menerus menguji hal yang dia sudah tahu.

10. Beri pujian berlabel

Daripada mengatakan “pintar”, gunakan kalimat yang spesfik seperti, “Pintar kamu bilang ‘mau jus’ tadi!” atau “Hebat, kamu mengembalikan semua baloknya!”

Pujian berlabel membantu anak merasa bangga atas upaya komunikasinya dan mendorongnya untuk mencoba lagi.

Pada akhirnya, perkembangan bahasa adalah proses alami. Namun, peran orang tua sangat penting untuk menjaga agar proses itu tetap menyenangkan dan bermakna.

Dengan menanggapi semua usaha komunikasi anak, menciptakan peluang agar mereka mencoba menyampaikan maksudnya, serta memperluas bahasa mereka dengan cara lembut, kita telah membantu membangun fondasi komunikasi yang kuat sepanjang hidup. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved