Inibaru.id - Disbudpar Kota Semarang menetapkan Kawasan Kota Lama sebagai salah satu magnet utama wisatawan sepanjang 2025 lalu, dengan daya tarik utama deretan bangunan heritage yang sekaligus menjadi ikon sejarah Kota Lunpia.
Dalam setahun penuh, Disbudpar menyebutkan bahwa Kota Lama telah dikunjungi lebih dari 3,5 juta orang. Rinciannya, 3.510.860 orang merupakan pengunjung domestik, sementara 23.765 lainnya adalah para wisatawan asing.
Nggak hanya di Semarang, jutaan pengunjung tersebut juga sukses menempatkan Kota Lama sebagai salah satu lokawisata dengan tingkat kunjungan tertinggi di Jawa Tengah (Jateng). Pertanyaannya, gimana mereka menghitung jumlah kunjungan sehingga bisa mendapatkan angka-angka tersebut?
Untuk tempat wisata yang menerapkan sistem tiket masuk, menghitung jumlah pengunjung bukanlah perkara sulit karena bisa mengacu pada banyaknya tiket yang terjual. Namun, Kota Lama adalah kawasan tanpa tarif. Mereka juga nggak memiliki sistem pencatatan khusus untuk mendeteksi kunjungan. Lalu?
Taman Srigunting Tertinggi
Terkait penghitungan jumlah kunjungan, Kepala Disbudpar Semarang Indriyasari mengatakan bahwa metode perhitungan jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Lama merupakan kolaborasi dengan tim dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.
"Kami dapat data dari provinsi, lalu kami hitung ulang dengan metode yang sudah kami laksanakan dari tahun ke tahun," sebut Iin, sapaan akrabnya, belum lama ini.
Baca Juga:
Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi BaruMeski nggak merinci secara detail bagaimana teknis perhitungannya, Disbudpar memastikan metode pendataan pengunjung di kawasan bersejarah itu dapat dipertanggungjawabkan. Iin mengungkapkan, Taman Srigunting saat ini menjadi titik dengan kunjungan terbanyak.
"Kawasan ini menjadi titik utama karena memiliki sejumlah spot andalan seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, hingga Gedung Spiegel," terangnya.
Evaluasi Spot yang Sepi
Data tersebut, Iin menuturkan, nggak hanya digunakan untuk mengecek spot-spot kunjungan tertinggi, tapi juga tempat-tempat yang sepi. Hasilnya, dia mengatakan, wisatawan kerap melewatkan spot yang justru sarat nilai edukasi, misalnya Museum Kota Lama.
"Spot wisata di Jalan KH Agus Salim ini sebetulnya menjadi salah satu yang wajib dikunjungi kalau ke Kota Lama," kata Iin, berpromosi. "Karena itulah kami akan mencoba memberikan hal menarik lain di museum, karena tempat ini sangat menarik, hanya belum banyak dieksplorasi masyarakat."
Kendati disebut sepi, Iin mengungkapkan, bukan berarti pengunjungnya nggak ada. Pada libur sekolah terakhir, pengunjung spot wisata yang ditetapkan sebagai salah satu museum cerdas di Indonesia itu itu rata-rata sekitar 200 orang. Pengunjungnya didominasi para pelajar.
"Kami memang mendorong siswa sekolah untuk berkunjung ke museum sebagai sarana edukasi dan belajar sejarah," jelas Iin terkait banyaknya pengunjung pelajar ke Museum Kota Lama. "Maka, Disbudpar perlu menghadirkan program pemikat lain agar wisatawan tertarik ke museum."
Bukan untuk gaya-gayaan; statistik jumlah kunjungan ke tempat wisata sejatinya memang akan lebih berguna sebagai bahan evaluasi sebagaimana dilakukan Disbudpar Semarang. Semoga evaluasi itu menghasilkan program yang lebih baik lagi ya tahun ini! (Sundara/E10)
