Inibaru.id - Pernah nggak sih kamu lagi asyik makan anggur atau semangka, terus tiba-tiba merasa bersyukur banget karena nggak perlu repot-repot lepeh bijinya? Buah seedless atau tanpa biji memang jadi primadona di supermarket karena dianggap praktis dan nggak bikin ribet. Tapi, di balik kemudahannya, ternyata ada diskusi menarik yang lagi ramai nih: apakah hilangnya biji dari buah kita cuma soal kenyamanan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang "dirampas" dari kita?
Baru-baru ini, sebuah unggahan dari akun Instagram @ikigai.mom memicu obrolan hangat mengenai makna filosofis dan kesehatan di balik buah tanpa biji. Dalam unggahan tersebut, ditekankan bahwa biji sebenarnya adalah simbol kehidupan dan kemandirian.
Baca Juga:
Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?Biji Lebih dari Sekadar 'Pengganggu' saat Makan
Bagi sebagian orang, biji mungkin cuma bagian buah yang mengganggu tekstur. Padahal, biji adalah pembawa energi, kecerdasan hayati, dan kemampuan untuk beregenerasi. Biji mengandung senyawa yang sangat kuat bagi tanaman, mulai dari antioksidan hingga mineral. Komponen inilah yang sebenarnya mendukung penyembuhan dan kekuatan seluler pada tubuh manusia.
Unggahan tersebut menyebut buah berbiji sebagai high-frequency food alias makanan yang utuh, hidup, dan reproduktif. Sementara itu, buah tanpa biji dianggap hanya menawarkan kenyamanan, namun kehilangan "kekuatan" alaminya.
Urusan Kemandirian
Poin paling menohok dari diskusi ini adalah soal ketergantungan kita sebagai konsumen. Gez, coba bayangkan kalau buah nggak punya biji, gimana caranya kita menanamnya kembali di halaman rumah? Ketika biji-biji itu menghilang dari piring kita, hilang juga kemampuan kita untuk menanam makanan sendiri.
Inilah yang disebut sebagai hilangnya independensi. Jika kita nggak bisa menanamnya, kita dipaksa untuk terus membelinya. Lagi, lagi, dan lagi. Hubungan kita dengan alam yang tadinya bersifat timbal balik (menanam dan memanen), kini bergeser menjadi hubungan transaksional antara pembeli dan supermarket.
Pergeseran Gaya Hidup
Tanpa kita sadari, kenyamanan telah menggantikan koneksi kita dengan tanah. Supermarket telah menggantikan kebun, dan kontrol industri telah menggantikan peran kita sebagai penjaga alam. Mengonsumsi buah tanpa biji memang praktis, tapi ada harga yang harus dibayar, yaitu ketergantungan penuh pada rantai pasok komersial.
Tentu saja, buah tanpa biji hasil pemuliaan tanaman nggak lantas jadi "racun". Namun, diskusi ini mengajak kita untuk lebih conscious atau sadar terhadap apa yang kita makan. Apakah kita hanya mengejar praktisnya saja, atau kita masih peduli dengan aspek keberlanjutan dan kemandirian pangan?
Jadi, gimana menurut kamu, Gez? Masih tim praktis buah tanpa biji, atau mulai rindu menanam bibit anggur sendiri dari bijinya di pot teras rumah? Yang pasti, sehat itu berawal dari kesadaran kita terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh! (Siti Zumrokhatun/E05)
