Inibaru.id - Sedimentasi tebal dan sampah yang terus menumpuk masih menjadi masalah klasik di sejumlah sungai di Kota Semarang. Kondisi ini membuat aliran air nggak optimal, yang tentu saja meningkatkan risiko banjir jika nggak rutin ditangani secara serius.
Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat mengikuti aksi bersih Sungai Tawang Mas dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Selasa (24/2/2026). Kegiatan peduli lingkungan juga digelar secara serentak di kabupaten dan kota Jawa Tengah (Jateng).
"Ini sudah kelima kalinya kami melakukan bersih-bersih sungai. Karena penyakit utama sungai di Kota Semarang itu endapannya sangat banyak," kata Agustina kepada Inibaru.id seusai acara. "Ini masih diperparah dengan sampah yang dibuang masyarakat, baik dari hulu maupun dari bantaran sungai."
Meski yang diinstruksikan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) adalah dua kali sepekan, Agustina menegaskan bahwa Pemkot Semarang akan meningkatkan pembersihan lingkungan menjadi tiga kali sepekan. Pembersihan akan meliputi kebersihan jalan, lingkungan permukiman, saluran air, hingga bantaran sungai.
Fungsi Saluran Nggak Optimal
Sebagai wilayah hilir yang menampung aliran dari kawasan hulu, Kota semarang seringkali menghadapi banjir karena fungsi saluran nggak optimal. Salah satu penyebab utamanya ialah sumbatan sampah yang menghambat aliran air.
"Hari Sabtu di Sungai Jaten, kami mendapatkan sekitar 1,4 ton sampah dengan keterlibatan masyarakat 350 orang. Di Sungai Tawang Mas hari ini kami mengeruk sampah dua dump truk ditambah sekitar 1,1 ton dengan partisipasi masyarakat 450 orang," tutur Agustina.
Sebagai langkah lanjutan, Agustina menyebut pihaknya telah membentuk Satuan Tugas Bersih Lingkungan (Satgas Berlian) di setiap kelurahan. Tim ini diharapkan mampu menangani sumbatan sampah di aliran sungai yang selama ini kerap memicu banjir di Kota Semarang.
"Keberadaan Satgas Berlian di tiap kelurahan semoga berfungsi baik sehingga sumbatan sampah di sungai dan aliran air pemicu banjir bisa tertangani," sebutnya.
Menanam Pohon Tabebuya
Nggak hanya fokus pada pembersihan, Pemkot Semarang juga membawa pohon tabebuya untuk ditanam di median jalan maupun area yang memungkinkan. Penanaman ini menjadi bagian dari upaya penataan lingkungan sekaligus menambah ruang hijau kota.
Melalui upaya tersebut, selain mampu memulihkan ekosistem di sepanjang bantaran sungai, Agustina berharap risiko banjir juga dapat ditekan. Untuk perawatan tanaman, Pemkot akan menyerahkannya kepada masyarakat agar keberlanjutannya terjaga.
"Setelah kami pergi, (pohon) yang ditanam itu akan dipasrahkan kepada masyarakat. Mereka yang merawat, agar nantinya menjadi pohon yang kuat dan indah," tandas Agustina.
Penanganan sungai nggak bisa menunggu Pemkot bergerak atau berhenti pada aksi bersih-bersih satu-dua kali. Konsistensi, pengelolaan sampah dari hulu, dan peran warga jadi penentu agar aliran air tetap lancar dan kota lebih tahan banjir. Setuju Gez? (Sundara/E10)
