Inibaru.id – Diskusi pasca-pentas acap nggak mendapatkan tempat istimewa dalam praktik teater. Namun, hal itu sepertinya nggak berlaku untuk para pegiat teater Mentas.id yang mencoba melakukannya seusai menggelar pertunjukan Tengul, adaptasi karya Arifin C Noer yang disutradarai Afif Khoiruddin Sanjaya.
Digelar bersama Kelompok Kajian Teater Tigakoma dan Tikusputih Collective belum lama ini, mereka mencoba mendiskusikan pertunjukan teater yang dipentaskan di Kudus dan Yogyakarta beberapa bulan sebelumnya itu dengan mengangkat tema utama “Etika, Kuasa, dan Tafsir dalam Tengul”.
Forum ini sejak awal dimaksudkan sebagai “teater ketiga”, sebuah wilayah refleksi kritis setelah proses penciptaan sebagai "teater pertama" dan peristiwa pementasan sebagai "teater kedua". Mereka mencoba membaca ulang pertunjukan secara sosial dan etis dari sudut pandang seniman, pengamat, dan penonton.
Dipandu Petrus Budi Utomo dari Tikusputih Collective, diskusi itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Afif Khoiruddin Sanjaya sebagai sutradara, Ahmad Zaki Yamani dari Teater Keset, dan Abimanyu Ianocta P dari Teater Samar.
Di ruang inilah Tengul nggak lagi berdiri sebagai pertunjukan yang selesai di atas panggung, melainkan sebagai teks terbuka yang diperdebatkan, diuji, dan dipertaruhkan maknanya. Afif Khoiruddin Sanjaya mengawali diskusi dengan mengakui bahwa Tengul adalah karya yang penuh risiko.
“Sejak dalam perencanaan, Tengul sudah saya pahami sebagai naskah rumit, nakal, dan njelimet. Maka, jadi tantangan bagaimana saya mengimplementasikan harapan pada dialog kesenian yang jelas dan jujur atas kehendak yang akan saya sampaikan, yaitu dunia, cinta, sistem, harta, tahta, gender, dan agama,” lontarnya.
Namun, kesadaran atas kerumitan itu justru mendorong lelaki yang akrab disapa Apop itu, bersama Teater Tigakoma, untuk memikirkan upaya agar nggak mengulang jejak pementasan Tengul yang telah berulang kali “terarsipkan” di panggung teater Indonesia.
“Tengul telah sering terarsipkan ke panggung Indonesia. Maka, kami butuh suatu percikan eksperimen, bahkan sesuatu yang berbau provokatif; sekalipun harus bertaruh dengan konsep, terkesan hilang arah dalam fragmen narasi, dan post-gagasan dalam pertunjukan,” tukasnya.
Eksperimen tersebut tampak jelas dalam pilihan bentuk: fragmentaris, post-dramatik, dan menempatkan tubuh aktor sebagai teks sosial. Bahasa nggak lagi menjadi penopang utama makna, sementara ruang panggung justru menekan, membatasi, dan mengurung.
Apop secara sadar mengatakan bahwa dia menolak menjadikan Tengul sebagai hiburan semata.
“Saya tidak ingin membuat Tengul sebagai sekadar objek hiburan. Ia saya arahkan untuk memaksa orang bertanya, bagaimana kita menyediakan ruang untuk memahami manusia? Ini menantang kenyamanan,” sebutnya.
Bagi Apop, absurditas dalam Tengul bukanlah nihilisme total, melainkan kondisi manusia yang terus memainkan tawar-menawar dengan sistem yang menjeratnya. Tengul adalah sosok yang ingin hidup baik, tapi dunia nggak menyediakan ruang yang layak.
"Absurditas sejati bukanlah nihilisme total, melainkan pencarian makna yang tak selesai. Negosiasi abadi antara idealitas dan tuntutan bertahan hidup," tutur Apop. "Arifin C Noer selalu menyajikan manusia yang terbentur sistem."
Pilihan estetik lain yang disengaja adalah cara Tigakoma memperlakukan penonton. Dengan konsep arena Tapal Kuda, penonton sengaja ditempatkan saling berhadapan.
“Kami tempatkan penonton dalam posisi yang tidak lagi nyaman sebagai pihak yang disajikan hiburan. Mereka saling menatap dan secara implisit saling menghakimi. Biar. Biar mereka menikmati gusar itu. Biar mereka meraba satu-satu,” ungkap Apop.
Baginya, kegusaran tersebut adalah pengalaman etis yang penting; panggung yang menjadi cermin untuk menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Pandangan ini beresonansi dengan pembacaan Abimanyu Ianocta P dari Teater Samar.
Dalam diskusi yang digelar di halaman depan Sanggar Teater Tiga Koma Universitas Muria Kudus itu, Abimanyu menilai bahwa Tengul nggak berkembang sebagai karakter dramatik konvensional.
“Tengul hadir sebagai metafora manusia Indonesia. Hidup tergantung, terikat sistem, sadar akan ketidakadilan, tetapi terus beradaptasi tanpa kemungkinan keluar,” jelasnya.
Dalam pembacaan Abimanyu, absurditas tersebut nggak ditolak, melainkan diterima sebagai kebiasaan. Absurditas bekerja dalam ketidakmasukakalan yang mustahil untuk ditolak, sehingga diterima sebagai bagian dari keseharian.
Abimanyu juga menyoroti cara pertunjukan ini memperlakukan penonton. Dengan gaya post-dramatik, jarak sengaja diciptakan agar penonton nggak larut dalam empati atau katarsis. Harapannya, penonton dapat menjadi saksi etis melihat persoalan Tengul secara lebih objektif.
"Tugas teater modern yang bergulat dengan absurdisme bukan untuk menghibur, melainkan mengganggu," cetusnya. “Bukan untuk membersihkan emosi, melainkan mengganggu tawa; memperlihatkan bahwa yang kita anggap lucu sesungguhnya adalah luka sosial yang belum sembuh.”
Dalam konteks ini, tawa menjadi mekanisme bertahan hidup sekaligus penanda luka. Abimanyu juga membaca kehadiran lagu pada akhir pertunjukan sebagai bentuk perlawanan simbolik, bukan untuk menertawakan luka, melainkan meledakkannya sebagai bentuk sikap.
Sementara itu, Petrus Budi Utomo dari Tikusputih Collective membaca Tengul sebagai upaya mengacak nalar dan moral penonton. Teater Tigakoma seakan menerobos masuk ke dalam nalar, mengacak-acak moral, dan menggugah kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia di hadapan penderitaan.
"Saya menyoroti gerak aktor yang mekanis sebagai pernyataan politik. Gerakan yang mekanis menegaskan kondisi yang dikekang. Tubuh menjadi arsip penderitaan sekaligus medan politik bagi para pemilik kepentingan," simpulnya.
Petrus juga mencatat bagaimana pertunjukan sejak awal memancing ilusi kebahagiaan yang kemudian runtuh. Pertunjukan dibuka dengan irama kebahagiaan semu para pemain yang riuh menebak angka dan berbaris seolah nasib akan berubah. Dorr! Tembakan pertama segera mengusik pikiran penonton.
"Pertunjukan Tengul bukanlah cerita yang selesai ketika lampu panggung padam. Ini bukan hanya kisah di atas panggung, tetapi kegelisahan yang dibawa pulang; tentang hidup, pilihan, dan kapan manusia harus berhenti bertaruh," akunya.
Diskusi pascapentas malam itu menegaskan bahwa makna pertunjukan nggak pernah tunggal. Ia lahir dari perjumpaan tafsir, perbedaan sudut pandang, dan gesekan gagasan. Di sinilah Teater Ketiga menemukan relevansinya sebagai praktik demokrasi kultural ruang tanpa otoritas tunggal atas makna.
Malam itu, Apop menutup dengan pernyataan menarik, bahwa tradisi seni pertunjukan nggak cukup dipeluk, tapi perlu diuji dan diguncang; karena proses penciptaan pertunjukan adalah sebuah “peristiwa kesadaran” dengan pertaruhan makna yang tegas dan berani.
Diskusi pun berakhir tanpa kesimpulan tunggal. Namun, justru di sanalah teater ketiga bekerja. Ia membuka ruang, memperpanjang pertanyaan, dan membiarkan kegelisahan hidup lebih lama di benak penontonnya. (Imam Khanafi/E10)
