Ajak Eks Napiter ke Sekolah sebagai Usaha Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar 

Ajak Eks Napiter ke Sekolah sebagai Usaha Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar 
Ilustrasi: Terorisme perlu dicegah dengan menamankan ideologi Pancasila pada pelajar. (Ist via Jawapos)

Sekolah menjadi tempat strategis untuk menanamkan ideologi. Karena itu, upaya Densus 88 Anti-Teror yang pengin mengedukasi pelajar mengenai bahaya terorisme dengan menggandeng eks napiter dinilai tepat.

Inibaru.id – Terorisme merupakan bahaya laten yang musti dilibas dan dicegah sedini mungkin. Karena itu, langkah Densus 88 Anti-Teror yang masuk ke sekolah-sekolah bersama eks napi terorisme (napiter) untuk mengedukasi para siswa dinilai sangat efektif.

"Ini kami anggap lebih efektif karena anak-anak sangat rentan, tapi ketika diceramahi oleh penyintas menjadi lebih efektif untuk sebagai narasumber," ungkap Direktur Indentifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti-Teror Polri Brigjen Pol Arif Makhfudiharto.

Harus diakui bahwa Jawa Tengah menjadi  episentrum dari radikalisme. Untuk itu, dukungan pemerintah provinsi menjadi sangat penting terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Berdasarkan data Densus 88 AT Polri, hingga awal September 2022, di Jawa Tengah ada 212 narapidana terorisme yang ditahan. Sementara, mantan napiter berjumlah 230 orang; 47 orang di antaranya dari Surakarta, 43 orang dari Sukoharjo, dan 20 orang di Semarang.

Sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menilai program Densus 88 Anti-Teror untuk masuk ke sekolah-sekolah dengan melibatkan eks Napiter sangat tepat. Selain sebagai upaya deradikalisasi eks napiter, langkah itu juga mampu memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme kepada anak-anak sekolah.

"Tentu saja kita harus mengajak banyak pihak untuk terlibat, umpama para aktor itu kita ajak menjadi juru bicara kita untuk menjelaskan deradikalisasi itu musti dilakukan seperti apa, terorisme itu bahayanya seperti apa, dan masuk ke sekolah," kata Ganjar usai menerima tim dari Densus 88 Anti-Teror Polri di kantornya, Rabu (21/9/2022).

Ada 212 narapidana terorisme di Jawa Tengah. (Ist via Liputan6) 
Ada 212 narapidana terorisme di Jawa Tengah. (Ist via Liputan6) 

Ganjar juga menyampaikan bahwa selama ini, Pemprov Jateng telah mencoba menggandeng eks napiter untuk bercerita mengenai bahaya radikalisme dan terorisme melalui program Gubernur Mengajar. Dalam kegiatan tersebut, disisipkan pula pendidikan karakter, bahaya narkoba, hingga pencegahan radikalisasi kepada para pelajar.

Teroris Hanya Korban

Arif berpendapat bahwa mereka yang terlibat dalam jaringan teroris sejatinya hanya korban. Ketika mereka ditangkap, ada keluarga yang terkena getahnya, terutama jika itu adalah kepala keluarga. Otomatis, mereka butuh penopang kehidupan.

Pada saat seperti inilah pemerintah diharapkan hadir untuk memberikan kepastian kebutuhan keluarga tercukupi. Jika tidak, dikhawatirkan keluarga yang ditinggalkan akan dipengaruhi jaringan teroris.

"Mereka yang ditangkap itu korban dan yang terdampak adalah keluarganya. Maka, kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka ini juga masyarakat, keluarga kita, dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya agar terputus dengan jaringan mereka (radikal)," papar Arif.

Keluar dari jeratan terorisme memang nggak mudah. Karena itu tepat rasanya jika semua kalangan bekerja sama agar rantai itu terputus. Setuju deh kalau yang seharusnya kita musuhi adalah perbuatannya, bukan orangnya.

Betewe, kamu mendukung nggak dengan kolaborasi Densus 88 Anti-Teror dengan eks napiter ini, Millens? (Siti Zumrokhatun)