Hidup dari Bisnis Kematian; Kisah Pengusaha Peti Mati di Tengah Pandemi

beberapa orang hidup dari bisnis kematian, mulai dari menjadi pengantar jenazah hingga penyedia peti mati. Di tengah pandemi, usaha ini rupanya menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Gimana bisnis tersebut berjalan? 

Inibaru.id - Dua mobil ambulans bercat putih pekat terparkir rapi di pinggir Jalan Menoreh Raya Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kendaraan pengangkut jenazah ini milik Emy, pengusaha peti mati yang cukup dikenal di Kota Lunpia.

Cahaya Dirgantara, begitulah jenama "usaha kematian" yang dijalankan Emy bersama sang suami sejak 2011. Di tengah pandemi Covid-19 yang kian banyak menelan korban kematian, bisnis yang dijalankan Emy justru semakin berkembang.

Situasi ini tentu saja sedikit mengerikan. Namun, terlepas dari moral dan kemanusiaan, memang harus diakui bahwa ada orang-orang yang meraih keuntungan dari duka cita yang menyelimuti sebagian besar orang, misalnya penjual peti mati seperti Emy. 

Selama Mei-Juni 2021 silam, Emy mengaku bisa menjual belasan peti mati per hari, jumlah yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya. Waktu tersebut, lanjutnya, bertepatan dengan grafik penderita Covid-19 yang membumbung tinggi di Kota Semarang.

“Mei dan Juni itu terparah. Bahkan, lebih parah dari 2020. Satu hari saja, kami bisa jual 10-20 peti mati,” ujar perempuan berjilbab tersebut.

Penjualan tersebut, lanjut Emy, baru menurun pada Juli ini. Kendati penjualan peti matinya ikut turun cukup drastis, dia mengaku lega karena berarti kematian karena Covid-19 juga ikut menurun. Emy menduga, penurunan ini merupakan dampak dari PPKM Darurat yang diterapkan di Kota Semarang.

Hidup di Tengah Cibiran

Nggak hanya menyediakan peti mati plus batu nisan dan perlengkapan jenazah. selama pandemi Cahaya Dirgantara juga melayani jasa pengantaran jenazah penderita Covid-19. Emy dan suami menggunakan dua ambulans yang biasa diparkir di depan tokonya itu.

Bagi sebagian orang, bisnis ini mungkin tampak mengerikan. Namun, karena di situlah ladang bisnis Emy, dia mengaku menjalani usaha itu dengan sepenuh hati. Dia bahkan nggak mengindahkan cibiran yang kerap mampir kepada keluarganya.

Terkait dengan cibiran ini, dia memang harus menebalkan telinga. Menjalankan bisnis yang berhubungan langsung dengan kematian tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Emy dan suami. Nggak jarang orang-orang berkata nyinyir.

“Banyak yang nyinyirin kami, tapi kami berusaha menyikapinya dengan dewasa,” terangnya. "Bagi saya, usaha ini ibadah sambil cari rezeki."

Emy mengungkapkan, bisnis dalam pandangannya nggak melulu tentang uang. Kendati selama pandemi bisnisnya maju pesat, dia mengaku tetap prihatin dengan situasi yang terjadi belakangan ini karena karyawannya juga ikut terdampak.

“Dua supir ambulans saya sudah tumbang, jatuh sakit, karena mobilitasnya tinggi sekali,” ujar Emy, diikuti raut muka yang menunjukkan kesedihan. "Ini benar-benar mengingatkan pada kematian!" serunya.

Setali tiga uang, pengakuan serupa juga diungkapkan Dwi, salah seorang karyawan Cahaya Dirgantara. Selama menjadi bagian dari usaha tersebut, Dwi mengaku jadi lebih sering ingat sang pencipta karena pekerjaan ini.

“Setiap hari ngangkut dan menghias peti mati. Semuanya berhubungan dengan kematian. Pekerjaan ini seolah-olah jadi pengingat akan Gusti Allah SWT,” ujar Dwi yang mengaku selama pandemi telah menangani jenazah dari berbagai rentang usia mulai dari tua hingga anak-anak.

Menghadapi kematian orang-orang Dwi nggak bisa nggak percaya bahwa Covid-19 itu memang nyata adanya dan telah menelan begitu banyak korban. So, buat kamu yang masih nggak percaya keberadaan virus ini, main-mainlah ke Cahaya Dirgantara, biar kamu tahu sendiri situasinya. Berani? (Triawanda Tirta Aditya/E03)