Di Balik Layar; Para Penjual Bakso Cinta Bergaya Perlente di Semarang

Di Kota Semarang, tepatnya di Tembalang, ada abang-abang bakso yang berjualan dengan gaya parlente; mengenakan setelan jas, bawahan celana bahan, dan sepatu pantofel. Mereka adalah para penjual 'Bakso Cinta' yang belakangan jadi perbincangan orang-orang.

Inibaru.id - Suparjo menghadap cermin, lalu menjemba sedikit pelicin rambut di kaleng mengilat nggak jauh dari jangkauannya. Setelah pelicin itu dioleskannya ke rambut, tangannya yang lain meraih sisir untuk merapikan rambutnya yang masih agak basah.

Setelah urusan rambut beres, dia meraih kemeja yang telah disetrika dengan licin, lalu mengenakannya, dipadu dengan celana bahan yang nggak kalah necis. Bajunya dimasukkan; diikat ikat pinggang bergesper. Nggak lupa, dia meraih dasi, kemudian diakhiri dengan jas polos. Perlente sekali!

Sekali lagi, Suparjo menatap cermin seraya mengambil kaca mata hitam. Maka, lengkap sudah, penampilan flamboyannya itu sudah bak esmud yang "mangkal" di gedung bertingkat puluhan. Sebelum berangkat, nggak lupa dia menyematkan sepatu pantofel yang nggak kalah mengilat.

Dandanan maksimal itu merupakan penampilan sehari-hari Suparjo saat menjalani profesinya sebagai tukang bakso. Ya, bukan di gedung bertingkat dia bekerja. Lelaki yang biasa tampil perlente itu adalah penjual bakso keliling dengan jenama “Bakso Cinta”.

Usaha kecil Suparjo ini dikerjakan bersama dua keponakannya, yakni Ahmad dan kakaknya Eko Saputra. Suparjo merintis usaha tersebut sejak 2016. Alih-alih tampil ala kadarnya, Suparjo dan koleganya itu sengaja memilih strategi berjualan dengan mengenakan setelan rapi dan perlente.

“Kalau mau menarik di mata orang kita harus tampil beda,” terang Suparjo di kediamannya yang agak masuk ke sebuah lorong kecil di Jalan Waru Timur 1 No 38, Kecamatan Tembalang, Minggu (14/3/2021).

Di bangunan yang tampak sempit inilah mereka menyiapkan "bakso cinta". Dengan gerobak yang dibonceng di belakang sepeda motor, Suparjo dkk biasa beredar di sekitar Tembalang. Sebelum pandemi, dagangannya cukup laku karena masih banyak mahasiswa, tapi kini mulai lesu.

Bukan Sekadar Viral

Gaya perlente Suparjo sempat viral. Namun, itu bukanlah keinginannya, karena sejatinya dia memang sudah suka memakai baju rapi sejak lama. Meski belum setotal sekarang, lelaki yang sudah berdagang bakso sejak 2007 itu sudah berpakaian necis sejak masih ikut orang.

Menurutnya, berpakaian dengan baik dan sopan sengaja dilakukannya untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar serius menggeluti pekerjaannya, meski "sekadar" sebagai penjual bakso.

“Kalau cuma buat viral-viralan, saya nggak mungkin bertahan sampai sekarang. Memang enak bekerja pakai jas seperti ini,” jelas lelaki murah senyum yang mengaku sempat dicibir dan ditertawai orang karena berpakaian demikian.

Perlakuan kurang menyenangkan memang pernah diterimanya karena gayanya tersebut. Ada yang menganggapnya seperti badut. Ada yang bilang, gaya itu sia-sia. Bahkan, ada yang menyangka dia adalah orang tua yang tengah mengantar anaknya wisuda.

“Iya, ada pembeli yang menyangka saya orang tua yang mengantar anaknya wisuda,” terang Suparjo, yang selalu menganggap cibiran itu sebagai pelecut semangatnya.

Kini, dia justru mudah dikenali karena mengenakan jas, selain bentuk baksonya yang unik, laiknya simbol "cinta". Namun, mengenakan jas dalam berjualan bakso bukanlah hal mudah, karena jas sejatinya didesain untuk dikenakan di dalam ruangan yang ber-AC. 

Suparjo mengaku sering mengeluh kepanasan karena memakai jas di tengah terik matahari. Namun, dia biasa menyiasatinya dengan mangkal di dekat supermarket.

“(Mangkal di dekat supermarket), kalau panas bisa berteduh (di dalam),” kelakarnya.

Penyambung Hidup

Di antara ketiga penjual Bakso Cinta, Eko Saputra adalah pedagang yang terbilang baru bergabung. Dia mulai berjualan awal Januari lalu selepas diberhentikan dari pekerjaan sebagai satpam di sebuah pabrik di Ungaran. Awal berjualan bakso dengan penampilan perlente, dia sempat mengaku canggung.

“Awalnya malu karena nggak biasa. Kalau ada orang beli serba grogi tapi selepas tiga hari, sudah biasa,” terangnya.

Eko memang nggak berniat selamanya menjadi penjual bakso. Berjualan ini hanyalah penyambung hidup dan tetap berusaha melamar kerja di perusahaan lain. Namun, menurutnya, usaha ini lumayan mampu menopang hidup dan menafkahi keluarganya  untuk sekarang ini.

Saya tentu salut dengan cara berdagang penjual Bakso Cinta ini. Dengan ramainya hiruk-pikuk dunia ini untuk lebih maju menjadi beda adalah salah satu cara yang harus ditempuh. Yang penting halal dan nggak mencuri! Ha-ha.

Ah, saya jadi ingat candaan Suparjo. Dia punya slogan yang unik: Yang bisa berdasi nggak cuma mereka yang korupsi! Aih, aih, nyinyir sekali! (Audrian F/E03)