Selain Kenangan, Apa yang Ada di Museum Mandala Bhakti Semarang?

Selain Kenangan, Apa yang Ada di Museum Mandala Bhakti Semarang?
Starbuks, salah satu coffee shop yang ada di sentra makanan museum. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Bangunan utama hanyalah bagian kecil dari kawasan wisata seluas satu hektare di pusat kota Semarang ini. Lalu, apa lagi yang ada di Museum Mandala Bhakti?

Inibaru.id – Empat dari lima orang yang saya tanyai setelah berkunjung ke Museum Mandala Bhakti Semarang mengatakan, mereka ke museum bukanlah untuk berwisata sejarah, tapi kuliner. Fakta ini nggak mengejutkan, karena setahu saya museum itu memang baru ramai pasca-renovasi pada 2019 lalu.

Bertahun-tahun dibuka untuk umum, museum yang berlokasi di jantung Kota Lunpia tersebut nggak pernah menarik minat saya untuk menyambanginya. Namun, angin segar berembus saat bangunan bersejarah ini direnovasi, yang kemudian saya tahu sebagian lahannya bakal jadi sentra kuliner.

Sekitar 2019, museum yang menyimpan "kenangan" tentang Pangeran Diponegoro dan barang-barang bersejarah TNI itu kembali dibuka untuk umum. Saya berniat datang, tapi pandemi Covid-19 menyapa nggak lama kemudian. Keinginan itu akhirnya terwujud pada Sabtu, 13 November 2021, lalu.

Hari itu sektor pariwisata di Semarang sudah dibuka lebar. Akhir pekan, banyak kendaraan terparkir di halaman museum. Namun, saya yang semula berharap bertemu banyak orang di museum harus menelan kekecewaan karena yang datang hanya segelintir, sisanya adalah pengunjung resto dan kafe.

Kecewa? Tentu saja. Ah, sudahlah! Nggak semua orang datang ke museum untuk melihat sejarah, kok.

Jelajah Kuliner di Museum

Luas kawasan Museum Mandala Bhakti nggak kurang dari satu hektare. Bangunan museum berada pada bagian tengah, agak ke depan. Sementara, bagian samping dan belakang gedung kini berdiri gerai-gerai resto dan kafe yang cukup mentereng. Apa saja yang menarik?

1. Kedai Kopi Kekinian

Antara Coffee salah satu coffee shop lokal Semarang yang ada di sentra makanan museum. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Antara Coffee salah satu coffee shop lokal Semarang yang ada di sentra makanan museum. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Begitu masuk kawasan museum yang berlokasi sepelemparan batu dari bunderan Tugu Muda itu, saya langsung disuguhi coffee shop kenamaan asal Negeri Paman Sam, Starbucks. Kedai kopi yang berada tepat di samping kanan bangunan utama ini menempati bangunan dua lantai bertema semi-minimalis. 

Nggak jauh dari Starbucks, ada Antarakata Coffee. Saya agak kaget mendapati dua kedai kopi kekinian bersanding bersebelahan laiknya Indomaret dan Alfamart; apa maksudnya? Naumun, saya bisa melihat kedua kedai punya pengunjung, kok. Seenggaknya lebih ramai ketimbang museum. Ha-ha.

2. Menu Kuliner Nusantara

Gultik salah satu resto yang memiliki beragam menu khas masakan Indonesia. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Gultik salah satu resto yang memiliki beragam menu khas masakan Indonesia. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kamu yang pengin sekadar ngongkrong santai sambil curhat tipis-tipis bisa ke kedai kopi. Nah, buat yang lagi lapar parah habis keliling museum atau buru-buru ngajak jalan gebetan sampai lupa sarapan bisa mampir ke resto-resto penyedia menu makan siang yang juga ada di kawasan museum ini.    

Wo Yao Mie, resto yang dari pintu masuk berlokasi tepat di sebelah kiri Antarakata ini bisa menjadi referensi menarik untuk kamu yang nggak pengin makan nasi. Dari namanya, kamu tentu tahu, resto ini menyediakan olahan mi atau bakmi dengan pelbagai pilihan side dish unik.

Kemudian, ada juga Gultik a.k.a Gule Tikungan. Resto ini menyajikan beberapa menu makan siang yang utamanya adalah gulai, sup bercita rasa Nusantara yang kaya rempah dan santan. Rasanya? Ehm, sambangi sendiri saja ya, karena saya juga belum pernah coba! Ha-ha.

3. Menu Cepat Saji

Ada juga Yoshinoya, resto yang terkenal akan makanan Jepang ini ikut andil meramaikan sentra makanan di museum. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Ada juga Yoshinoya, resto yang terkenal akan makanan Jepang ini ikut andil meramaikan sentra makanan di museum. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Nggak hanya Starbucks, resto andalan food court di mal lainnya juga ada di sini. Yap, Yoshinoya. Resto yang terkenal dengan beef-bowl, menu cepat saji yang berisi daging sapi dengan nasi hangat, ini juga turut meramaikan sentra kuliner Museum Mandala Bhakti, lo!

Selain Yoshinoya, ada juga kafe dengan menu cepat saji lain yang mungkin bakal cocok untuk kamu yang pengin hidangan kilat. Kafe-kafe ini menyediakan burger, minuman dalam cup, dan lain-lain, yang cocok untuk kamu yang cuma pengin makan kudapan atau berbujet terbatas seperti saya.

4. Makan Malam Romantis

Roopa, satu-satunya cafe yang saat ini berada persis didalam bangunan lantai satu Museum Mandala Bhakti. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Roopa, satu-satunya cafe yang saat ini berada persis didalam bangunan lantai satu Museum Mandala Bhakti. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Kalau kamu datang ke Museum Mandala Bhakti agak sore, jangan lewatkan berkunjung ke Kartika Grand Bistro. Konon, tempat ini merupakan resto terlama yang menghuni sentra kuliner di sana. Kalau nggak hujan, makan malam di sini mungkin bisa jadi dinner nggak terlupakan bareng pasangan. Yap, mungkin!

Kartika Grand Bistro memiliki daftar menu yang lumayan komplet, buka agak sore, dan berkonsep resto outdoor dengan penerangan lampu-lampu gantung yang menarik sebagai latar berswafoto. Jadi, kamu yang pengin mengenang makan malam romantis bareng siapa saja, sialakan melipir!

Terus, tempat terakhir yang menurut saya menarik adalah Roopa. Kafe ini berkonsep coffee and eatery, yang juga menyediakan gelato. Nah, di sini kamu bisa menikmati menu dari hidangan pembuka hingga penutup.

Menariknya, Roopa berlokasi di lantai dasar bangunan utama Museum Mandala Bhakti. Saya sebetulnya menyayangkan konsep ini, karena bangunan yang seharusnya menyimpan barang-barang sejarah jadi "ternoda" dengan kehadiran tempat makan di lantai terbawahnya.

Ah, tapi, ya sudahlah! Museum harus bertahan dan cara apa pun nggak bisa disalahkan. Meski masih berharap pengunjung museum suatu saat akan membludak, saya nggak bisa menafikkan usaha pengelola untuk bertahan dengan inovasi sentra kuliner ini, bukan? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)