BerandaAdventurial
Senin, 9 Feb 2026 18:35

Main Bareng Keluarga Kita; Merayakan Cinta tanpa Terhalang Layar di Kota Lunpia

Penulis:

Main Bareng Keluarga Kita; Merayakan Cinta tanpa Terhalang Layar di Kota LunpiaSundara
Main Bareng Keluarga Kita; Merayakan Cinta tanpa Terhalang Layar di Kota Lunpia

Anak-anak tampak menikmati aktivitas memindahkan bola dengan parasut yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Main Bareng Keluarga Kita di Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Main Bareng Keluarga Kita di Kota Semarang mengusung ide yang sederhana tapi menarik, yakni menjauhkan anak dari terus-menerus menatap layar dengan menjalin ikatan emosional melalui aktivitas yang menyenangkan bersama anggota keluarga dan teman sebaya.

Inibaru.id - Hari-hari ini, layar gawai yang menyilaukan acapkali lebih memukau ketimbang obrolan santai di di rumah. Ponsel pintar, tablet, dan televisi, perlahan merenggut ruang yang dulu diisi canda tawa, ungkapan emosi, atau permainan sederhana yang mengasyikkan antara orang tua dengan anak.

Layar, disadari maupun tidak, telah membuat jalinan emosional kita dengan anak jadi merenggang. Padahal, sebagaimana banyak riset telah menyebutkan, keterikatan emosional yang rapuh pada akhirnya akan membuat anak semakin mencari pelarian, ternasuk ke dunia digital.

Situasi inilah yang ingin disentuh lewat acara bertajuk Main Bareng Keluarga Kita di Kota Semarang pada Minggu (8/2/2026). Bertempat di Aula Dinas Pendidikan Jawa Tengah, acara yang diinisiasi organisasi nirlaba Keluarga Kita itu mengajak keluarga kembali bertemu melalui permainan, dongeng, dan refleksi pengasuhan.

Momentum Februari yang identik dengan Bulan Kasih Sayang dipilih bukan tanpa alasan. Bagi Keluarga Kita, cinta pada anak nggak selalu harus diucapkan; ia lebih terasa lewat kehadiran penuh, waktu yang diluangkan, dan kesediaan untuk benar-benar terlibat.

Dongeng dan Permainan

Dalam ruangan berkapasitas lebih dari 100 orang, para peserta yang didominasi keluarga dengan anak berusia 3-8 tahun semula diajak berjoget bersama para sukarelawan Keluarga Kita, kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan cerita dari Komunitas Kampung Dongeng Semarang.

Setelahnya, masih bersama orang tua, anak-anak diajak bebikinan gunting-tempel tentang "emosi dominan di rumah" bareng Tim Sekolah Murid Merdeka (SMM). Hasil dari Sesi Bebikinan itu kemudian dipresentasikan anak ke depan agar bisa dilihat teman-teman barunya.

Selesai dengan Sesi Bebikinan, Komunitas Teman Berbincang kemudian mengajak anak-anak melakukan aktivitas permainan kelompok di aula tersebut, sementara para orang tua diajak ke ruangan lain untuk mengikuti talkshow "Orangtua Cerdas di Era Digital".

Meski awalnya sempat terlihat enggan berpisah, sejumlah anak akhirnya memperbolehkan para orang tua mereka mengikuti talkshow setelah melihat permainan-permainan yang tampak mengasyikkan.

Drama Sehari-hari di Era Digital

Secara berkelompok, anak-anak melakukan beberapa aktivitas seperti menggambar totebag, memotong sayur, hingga memindahkan bola menggunakan parasut. Tujuan permainan ini adalah untuk merangsang imajinasi tanpa bantuan layar.

Sementara, para orang tua diajak mengikuti sesi berbincang santai bersama Relawan Keluarga Kita (Rangkul) Semarang. Obrolannya bergulir seputar drama di rumah pada era digital, mulai dari gimana membangun kedekatan, menetapkan batas layar, dan menumbuhkan kelekatan agar anak nggak bergantung pada gawai.

Orang tua dan anak bermain bersama tanpa gawai. (Inibaru.id/ Sundara) 
Orang tua dan anak bermain bersama tanpa gawai. (Inibaru.id/ Sundara)

Setelah sekitar satu jam berpisah, para orang tua kemudian dipertemukan kembali dengan buah hati di ruangan awal, lalu bersama-sama kembali ke rumah dengan senyum semringah yang tergambar dari mimik muka mereka.

Direktur Keluarga Kita Siti Nur Andini mengatakan, bermain bersama antara anak dengan orang tua atau teman sebaya bukanlah semata hiburan, tapi juga bentuk fondasi relasi yang aman dan menyenangkan. Ketika koneksi emosional anak terpenuhi, kebutuhan akan validasi instan dari layar akan otomatis berkurang.

"Bermain bersama adalah salah satu bentuk cinta paling sederhana, tapi dampaknya sangat besar," ujar Andin, sapaan akrabnya.

Tentang Keluarga Kita

Konsep bermain bersama ini, Andin melanjutkan, adalah bagian dari kurikulum Keluarga Kita. Sejak didirikan oleh Najelaa Shihab pada 2012, organisasi pendidikan keluarga berbasis komunitas ini memang dibuat degan fokus utama untuk mengembangkan kurikulum pengasuhan berbasis riset.

"Hingga kini, kami telah menggelar ribuan kelas di 342 kabupaten di Indonesia dan menjangkau ratusan ribu keluarga melalui jaringan Rangkul (Relawan Keluarga Kita) yang kini beranggotakan lebih dari 4.000 orang," paparnya.

Lewat acara ini, dia mengatakan, Keluarga Kita ingin menegaskan bahwa membatasi layar bukan cuma soal aturan, karena yang jauh lebih penting dari itu adalah menghadirkan alternatif yang bermakna terkait waktu bersama, perhatian penuh, dan interaksi yang hidup di dalam rumah.

Ajakan Keluarga Kita dalam aktivitas di Semarang ini sederhana: taruh dulu gawainya, pegang tangan anak, lalu main bersama. Jika bisa melakukannya tiap hari, bakal hepi dong pasti! (Sundara/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved