BerandaHits
Minggu, 11 Jan 2026 13:20

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

Penulis:

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi GawaiSiti Khatijah
Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

Ilustrasi: Membekali anak dengan ponsel pintar pada usia yang terlalu dini bisa berbahaya. (Unsplash/Vitaly Gariev)

Alih-alih mendapatkan manfaat positif, penggunaan ponsel yang terlalu dini justru mendekatkan bahaya kepada anak, terutama karena pengaruh media sosial. Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua?

Inibaru.id - Belum juga setahun membelikan buah hatinya ponsel pintar sendiri, Atikah Sabrina mengaku sudah merasa "jauh" dari buah hatinya. Sepulang sekolah, anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD itu biasanya langsung masuk kamar, nggak lagi menemaninya di warung seperti sebelumnya.

Perubahan itu membuatnya sedih. Dia nggak menyangka akan terjadi perubahan sedrastis itu dengan memberi ponsel pintar untuk anaknya. Perempuan 37 tahun itu mengatakan, hampir tiap hari anak semata wayangnya itu berkutat dengan hape.

"Saya sempat mendiskusikan hal itu dengan suami, lalu meminta dia menegur anak. Sudah dilakukan dan anak saya mengiyakan, tapi kenyataannya sama saja," tutur perempuan asal Blitar tersebut, Rabu (7/1/2026).

Yang membuatnya khawatir, Sabrina menambahkan, adalah saat anaknya mulai sering marah jika ditanyai tentang aktivitas sehari-harinya, termasuk apa saja yang dilakukannya dengan ponsel pintar itu. Dia merasa, larangan untuk membuka media sosial darinya juga nggak diindahkan.

Mulai Terpapar Media Sosial

Hal serupa juga dirasakan Nureni. Setahun lalu, karyawan di sebuah perusahan perbankan tersebut mengaku terpaksa membelikan kedua buah hatinya ponsel pintar agar bisa berkomunikasi dengannya sehari-hari, mengingat dia dan suami sama-sama kerja di luar rumah.

"Karena harus kerja sampai sore, kami sepakat kasih mereka ponsel biar bisa komunikasi. Tapi, aku sudah minta keduanya, terutama (anak) yang gede, nggak main medsos; tapi kayaknya dia tetap buka Tiktok sembunyi-sembunyi pakai second account," curhatnya, Rabu (7/1).

Karena berbagai alasan, makin ke sini sepertinya anak-anak memang kian dini memiliki ponsel pintar sendiri, bahkan jauh sebelum mereka cukup matang secara emosional untuk menghadapi dampak penggunaan teknologi digital.

Riset terbaru dari Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas orang tua dengan anak berusia 11–12 tahun mengakui bahwa anak mereka sudah memiliki smartphone. Padahal, banyak pakar menyarankan agar anak menunda penggunaan media sosial hingga usia 16 tahun.

Agar Bisa Berkomunikasi

Sebagaimana Nureni, penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 orang tua dengan anak berusia maksimal 12 tahun itu menemukan bahwa alasan paling umum orang tua memberikan ponsel pintar adalah agar dapat tetap berkomunikasi dengan anak mereka, terutama demi alasan keamanan dan kemudahan kontak.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa anak sudah terpapar gawai jauh sebelumnya. Sekitar 85 persen orang tua mengungkapkan bahwa anak mereka sudah terpapar layar sejak usia dua tahun, terutama untuk menonton Youtube. Angka yang meningkat dibandingkan periode 2020 itu tentu saja cukup mengkhawatirkan.

“Temuan ini memperlihatkan betapa luasnya penggunaan teknologi pada anak-anak, termasuk pada usia yang sangat muda,” kata Colleen McClain, peneliti senior Pew Research Center sekaligus penulis utama studi tersebut. “Seberapa dini anak mulai terpapar layar merupakan temuan yang sangat mencolok.”

Sekitar 80-an persen orang tua itu mengaku telah menerapkan kebijakan screen time sebagai aturan prioritas untuk anak mereka. Separuh dari orang tua dengan anak 8-12 tahun itu mengatakan bisa menerapkan kebijakan tersebut, tapi masalahnya justru terletak pada konsistensi penerapan.

"Situasi ini pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran orang tua. Sebagian besar responden mengatakan khawatir dengan dampak negatif media sosial yang lebih besar untuk anak daripada manfaatnya," tutur McClain. "Ini sudah cukup kuat untuk mendorong evaluasi ulang cara memperkenalkan teknologi ke anak."

Terhubung tanpa Gawai

Kekhawatiran utama orang tua umumnya adalah soal keamanan dan komunikasi. Banyak orang tua ingin anak bisa menghubungi mereka jika terjadi sesuatu di luar rumah. Namun, pakar menilai bahwa ponsel pintar bukanlah satu-satunya solusi.

Alternatif seperti ponsel sederhana (feature phone) yang hanya bisa menelepon dan mengirim pesan teks dapat menjadi pilihan. Dengan cara ini, anak tetap bisa berkomunikasi tanpa akses ke media sosial, yang kerap menjadi pintu masuk konten beracun dan potensi predator daring.

Pilihan lain adalah jam tangan pintar khusus anak yang memungkinkan panggilan, pesan singkat, serta pelacakan lokasi secara real-time. Beberapa keluarga juga memilih menggunakan “ponsel pinjaman”, yakni gawai yang dipinjamkan hanya saat anak beraktivitas tanpa pendamping orang dewasa.

Namun, bukan berarti cara ini nggak punya tantangan. Tekanan dari lingkungan pertemanan adalah hal yang nggak mungkin terelakkan. Banyak orang tua khawatir anak akan terisolasi secara sosial jika nggak memiliki ponsel seperti teman-temannya.

Umur yang Matang untuk Medsos

Psikoterapis asal New York, Lauren Tetenbaum menekankan bahwa anak berusia 11–12 tahun belum cukup matang untuk menghadapi tekanan medsos. Maka, orang tua sebaiknya menahan pemberian ponsel hingga anak melewati masa pubertas atau setelah berusia 16 tahun.

"Bagi keluarga yang anaknya sudah terlanjur memiliki ponsel, pengaturan yang jelas tetap krusial. Aturan sebaiknya mencakup waktu tidur tanpa gangguan, fokus belajar, aktivitas non-layar, serta interaksi langsung dengan keluarga dan teman," kata dia.

Tetenbaum menyarankan agar aturan disusun bersama anak. Menurutnya, ketika anak dilibatkan, aturan cenderung lebih realistis dan lebih mudah dipatuhi. Orang tua juga perlu menegaskan bahwa perangkat tersebut tetap milik orang tua dan dapat diperiksa kapan saja.

Nggak kalah penting, kita perlu mengatur penggunaan media sosial anak, termasuk menghindari penggunaan ponsel saat makan bersama atau menjelaskan alasan jika harus membuka ponsel di depan anak. Kita juga harus menawarkan alternatif aktivitas lain yang menarik untuk anak.

"Perubahan itu tidak harus drastis, yang penting konsisten dan komunikatif," tegasnya.

Di tengah tantangan era digital, para pakar menegaskan bahwa anak tetap bisa terhubung dengan orang tua dan teman tanpa harus memiliki ponsel pintar sejak dini. Dan ketika saatnya tiba, penggunaan teknologi dapat dikelola dengan strategi yang bijak dan berkelanjutan. Sepakat, Gez? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved