Perjanjian Damai Syekh Subakir dengan Kiai Semar di Gunung Tidar

Perjanjian Damai Syekh Subakir dengan Kiai Semar di Gunung Tidar
Gunung Tidar  menjadi saksi perjanjian damai Syekh Subakir dengan Kyai Semar. (Instagram/Gunung Tidar)

Gunung Tidar yang berlokasi di dekat pusat kota Magelang menjadi saksi perjanjian damai seorang ulama untuk menyebarkan Agama Islam. Seperti apa sih sejarah dari perjanjian tersebut?

Inibaru.id – Di Magelang, kamu bisa menemukan sebuah gunung yang sangat unik karena letaknya yang berada di tengah kota. Gunung tersebut adalah Gunung Tidar. Meskipun ukurannya kecil dan tidak tinggi, Gunung Tidar merupakan tempat yang menarik. Konon, Gunung Tidar pernah menjadi tempat diadakannya perjanjian antara seorang ulama dengan raja para makhluk gaib, lo.

Dikutip dari Good News From Indonesia (3/10/2022), perjanjian damai tersebut melibatkan ulama asal Persia bernama Syekh Subakir dan Kyai Semar yang dipercaya sebagai penguasa tanah Jawa. Ceritanya, dulu Pulau Jawa masih berupa hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus dan jin-jin jahat. Kemudian, pada tahun 1404 Masehi, Syekh Subakir diutus secara khusus untuk menangani masalah-masalah gaib yang dinilai menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa.

Sesampainya Syekh Subakir di Nusantara, sang ulama  langsung bisa menebak penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan Islam. Menurutnya, para jin yang menguasai Jawa bisa mengubah wujudnya menjadi ombak besar yang menenggelamkan kapal. Nggak hanya itu, para Jin juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang mencelakakan para ulama terdahulu.

Menurut juru kunci Gunung Tidar Sumarlan, Kyai Semar adalah ciptaan Tuhan yang diutus untuk memomong Tanah Jawa sampai 1100 tahun. Dia pun nggak mudah menerima kedatangan orang baru yang ingin mengubah Jawa. Karena itulah, Kyai Semar dan Syekh Subakir kemudian berperang.

Makam Syekh Subakir di puncak Gunung Tidar. (Instagram/Chandra Irawan)
Makam Syekh Subakir di puncak Gunung Tidar. (Instagram/Chandra Irawan)

Karena sama-sama sakti, dalam peperangan itu nggak ada yang kalah ataupun menang. Keduanya pun kemudian memutuskan untuk membuat perjanjian damai.

Proses perjanjian damai ini diawali dengan Syekh Subakir menjelaskan niatannya untuk menyebarkan agama Islam kepada Kyai Semar. Siapa sangka, ternyata niatan Syekh Subakir diterima baik oleh Kyai Semar.

Setelah itu, Syekh Subakir diajak ke padepokan agung milik Kyai Semar di Alas Purwo. Di sana, Syekh Subakir diminta untuk mengubah dua sumur yang berbau busuk menjadi wangi. Kalau berhasil, Kyai Semar dan para dedemit nggak akan tinggal di Pulau Jawa dan pindah ke Pantai Selatan.

Syekh Subakir menerima permintaan yang diajukan oleh Kyai Semar. Dengan bantuan tombak pusaka bernama Kyai Sepanjang, ia mengubah air sumur dengan membacakan doa-doa ayat Al-Quran, As Sunnah, serta berdzikir menyebut nama Allah. Sayangnya, Syekh Subakir hanya mampu membuat satu sumur menjadi harum, sedangkan yang satunya tetap berbau busuk.

Meski begitu, hal itu ternyata sudah cukup. Setelah Syekh Subakir melantunkan doa-doa, para dedemit mengaku takluk dan menyingkir dari Gunung Tidar.

Setelah itu, Syekh Subakir memilih Gunung Tidar sebagai tempat berdakwah.

Kini, di atas puncak Gunung Tidar, kamu bisa menemukan makam Syekh Subakir, Kyai Sepanjang, dan Kyai Semar yang sering dikunjungi para peziarah dari berbagai kota sepanjang tahun, Millens. (Fatkha Karinda Putri/E07)