Orang-Orang yang Memilih Jamu Ketimbang Obat di Apotek; Kenapa, ya?

Orang-Orang yang Memilih Jamu Ketimbang Obat di Apotek; Kenapa, ya?
Karyawan 'Warung Jamu Sambiroto' sedang menyeduh jamu pesanan konsumen dengan air panas. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Sebagian orang memilih jamu ketimbang obat-obatan. Alasannya pun beragam. Apa saja ya kira-kira?

Inibaru.id – Jamu berasal dari kata djampi yang berarti penyembuhan. Konon, tradisi njamu (meminum jamu) sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Dalam pembuatannya, jamu diramu perempuan, sementara lelaki yang bertugas mencari tanaman herbal.

Sempat menjadi minuman nggak populer di negeri ini, terutama pasca-kemunculan obat modern, jamu kembali diperkenalkan ke masyarakat pada masa penjajahan Jepang di Nusantara. Bahkan, pamornya kian meningkat setelah pemerintah memberi sokongan untuk industri "perjamuan" di Indonesia.

Jamu pun kini menjadi alternatif, bersanding dengan obat-obat farmasi yang dibuat berdasarkan resep dokter. Keduanya bertujuan sama, yakni menyembuhkan penyakit, menangkal virus dan bakteri, serta menambah daya tahan tubuh atau kebugaran.

Sebagian orang lebih memercayai jamu ketimbang obat lantaran dianggap lebih aman dan "alami", karena berasal dari ekstrak tumbuhan. Keyakinan ini bisa kamu lihat kalau menyambangi Warung Jamu Sambiroto, sebuah depot jamu yang berlokasi di salah satu sudut di Kota Semarang.

Didatangi antara 50-100 orang per hari, kedai jamu yang telah berdiri sejak 2000 itu memang menjadi andalan orang-orang di Sambiroto, salah satu kelurahan di Kecamatan Tembalang, dan sekitarnya. Para penikmat jamu berdatangan silih berganti sejak kedai dibuka pukul 17.00 WIB hingga tengah malam. 

Andri, pemilik depot yang menyediakan racikan jamu untuk segala umur itu, mengatakan, sebagian pelanggannya memilih jamu karena merasa minuman herbal lebih "aman" ketimbang obat-obatan yang ada di pasaran.

Bagian dari Rutinitas

Salah seorang konsumen 'Warung Jamu Sambiroto' milik Andri yang menunggu giliran untuk diracikkan secangkir jamu. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Salah seorang konsumen 'Warung Jamu Sambiroto' milik Andri yang menunggu giliran untuk diracikkan secangkir jamu. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Rata-rata pembeli jamu di Warung Jamu Sambiroto adalah para pelanggan yang loyal. Nazir, misalnya, hampir selalu menyambangi depot tersebut sekali hingga dua kali dalam sebulan. Datang bersama istrinya, dia mengaku sangat cocok dengan racikan Andri.

"Kalau kecapaian malah bisa tiga sampai lima hari berturut-turut,” beber Nazir seraya mengaduk jamu pesanannya.

Dalam memilih kedai jamu, Nazir memang nggak asal-asalan. Sejak mengenal Warung Jamu Sambiroto tiga tahun silam, dia nggak mau berpaling lagi. Dia mengaku, teman dan tetangganya juga sering njamu di tempat Andri.

“Minum jamu itu cocok-cocokan, Mas. Banyak tukang jamu, tapi saya dan teman-teman merasa cocok di sini,” terang lelaki yang mengaku mulai rutin mengonsumsi jamu dalam tiga tahun terakhir lantaran sering merasa capai. "Di sini, minum jamu paling satu teguk, antrenya yang lama!" tambahnya.

Kebiasaan Sejak Remaja

Anwar, salah seorang konsumen jamu yang aktif mengkonsumsi jamu sejak usia belasan tahun. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Anwar, salah seorang konsumen jamu yang aktif mengkonsumsi jamu sejak usia belasan tahun. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Agak berbeda dengan Nazir yang memutuskan njamu setelah merasa tubuhnya kerap terasa capai, Anwar rajin mengonsumsinya karena ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukannya sejak remaja. Saat ini usianya sudah 66 tahun. Dia mengaku mulai minum jamu sejak umur belasan tahun.

Saat ini, dia meminum racikan jamu yang umumnya diperuntukkan bagi orang-orang lanjut usia, mulai dari jamu untuk tolak angin, pegal linu, asam urat, hingga masalah persendian tulang. Anwar meyakini, jamu membuat badannya tetap bertenaga dan fit.

"Saya minum berkala, tiap satu hingga dua minggu sekali," terangnya.

Rutin meminum jamu bukan berarti Anwar nggak mengonsumsi obat-obatan apotek. Dia membedakan keduanya: jamu untuk penyakit dalam, sedangkan obat untuk mengatasi pusing atau penyakit luar.

Laiknya Nazir, dalam menentukan kedai jamu, Anwar juga nggak bisa asal-asalan; harus menemukan tempat yang pas.

“Pernah suatu kali minum (jamu) bareng istri di dekat pasar, istri malah mual-mual. Saya juga malah nggak enak badan," kenang Anwar. "Untung tidak terjadi apa-apa!”

Perkataan Anwar tentu ada benarnya. Untuk kesehatan tubuh, baiknya memang jangan asal-asalan. Jangan tergiur pada kata-kata "dijamin ampuh", deh, Millens! Selain mengonsumsi jamu, kamu juga tetap harus menerapkan pola hidup seimbang dan jangan lupa berolahraga! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)