Tahun Ajaran Baru, Masihkah Buku di Belakang Stadion Diponegoro Diburu?

Tahun Ajaran Baru, Masihkah Buku di Belakang Stadion Diponegoro Diburu?
Potret dari luar salah satu toko yang menyiapkan banyak buku pelajaran guna tahun ajaran baru. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Ingatkah di masa kalian membeli buku baru ketika masuk tahun ajaran baru? Pasti seru dong, apalagi buku warna-warni dan banyak gambar kala itu. Yuk simak cerita penjual buku tentang pandemi dan tahun ajaran baru.

Inibaru.id – Pernah ada suatu masa ketika buku baru menjadi "amunisi" wajib untuk anak sekolah. Di berbagai toko buku, berderet buku-buku bersampul licin berbungkus plastik, mulai dari buku tulis hingga buku ajar. Kala itu, muka-muka cerah tampak menghiasi anak-anak sepulang dari toko buku.

Namun, agaknya masa-masa indah memilih buku baru di toko buku semacam ini mulai dilupakan orang kini. Sejak pandemi menghantam negeri ini pada Maret 2020 silam, tahun ajaran baru terlihat bukan lagi sesuatu yang "wah", terlebih setelah program pembelajaran jarak jauh diterapkan.

Belajar daring yang kemudian lebih sering menghiasi hari-hari anak-anak pun membuat memori membeli buku baru nggak lagi penting diingat. Semua perangkat pembelajaran telah didigitalisasi! Lalu, apakah hal tersebut berdampak serius bagi para pemilik toko buku?

Jawabannya, tentu saja! Inilah yang dikeluhkan Eko, pemilik sebuah lapak buku bekas dan baru di belakang Stadion Diponegoro Semarang. Perlu kamu tahu, sejak lama bagian belakang stadion yang berlokasi di Jalan Ki Mangunsarkoro, Karangkidul, Semarang Tengah, Kota Semarang, itu memang menjadi tempat berjualan buku. Belasan lapak buku baru dan bekas berjejalan di sana.

Eko, salah seorang pelapak yang telah cukup lama berjualan di belakang stadion tersebut mengatakan, pandemi dan pembelajaran daring yang kini diterapkan sekolah-sekolah telah membuat penjualan buku rata-rata mengalami penurunan hingga 80 persen.

“Kami sangat-sangat terdampak, apalagi pas awal pandemi, sama sekali nggak ada yang ke sini cari buku sekolah," keluh lelaki yang sehari-hari berjualan buku ajar tersebut. "Beruntung, sekarang mulai ajaran baru lagi, sudah lumayan ramai."

Merugi dan Terus Merugi

Buku CPNS dan TNI POLRI yang akhir-akhir ini banyak dicari oleh pembeli. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Buku CPNS dan TNI POLRI yang akhir-akhir ini banyak dicari oleh pembeli. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Di antara belasan penjual buku yang menggelar lapaknya di belakang Stadion Diponegoro, sebagian dari mereka memang berjualan buku ajar, diktat sekolah, dan buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan. Maka, setiap ada kebijakan baru terkait pendidikan, mereka juga otomatis bakal terdampak.

Eko menuturkan, saat sistem kurikulum berubah, mereka dipastikan bakal merugi. Salah satu kerugian itu, dia melanjutkan, misalnya saat pemerintah mengganti kurikulum pendidikan K13 menjadi K13 Revisi. Para penjual yang rata-rata kulakan dengan modal sendiri pun langsung kelabakan.

Hal serupa juga diungkapkan Yuni, pemilik Toko Buku Citra Kampus yang juga berdiri di belakang Stadion Diponegoro. Menurutnya, para penjual yang kulakan dengan kocek pribadi bakal langsung kelimpungan saat buku-buku ajar yang sudah dibeli ternyata nggak bisa dipakai.

“Sistem kami kulakan sendiri, jadi kalau ganti kurikulum ya (buku) yang dulu (kurikulum lama) biasanya nggak laku lagi karena orang bakal membeli versi buku yang dipakai di sekolahan mereka saja,” terang Yuni.

Dia menambahkan, sejauh ini hanya ada satu penerbit yang bersedia menarik kembali buku-buku yang nggak laku. Jadi, penjual bisa mengembalikan buku-buku yang sudah diambil tapi nggak laku ke penerbit.

"(Penerbit) Erlangga! Mereka mau ngambil lagi bukunya, jadi kami nggak takut rugi kalau nggak laku,” seru perempuan berjilbab tersebut. "Kalau nggak begitu, kami bakal merugi dan terus merugi."

Harga yang Bisa Jauh Lebih Miring

Yuni, pemilik Toko Buku Citra Kampus di kawasan Stadion Diponegoro Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Yuni, pemilik Toko Buku Citra Kampus di kawasan Stadion Diponegoro Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kalau kamu perhatikan, harga buku-buku ajar di belakang Stadion Diponegoro umumnya memang jauh lebih murah ketimbang yang dijual di toko buku besar di mal atau pusat perbelanjaan. Bukan karena palsu, mereka bisa menjual buku dengan harga lebih miring karena disuplai langsung oleh distributor.

Yuni menjelaskan, harga awal buku di lapaknya dengan yang ada di toko buku di mal sejatinya sama. Namun, karena toko buku besar harus membayar sewa tempat yang mahal, menggaji karyawan, dan terbebani oleh biaya operasioal lain, harga buku di sana jadi melambung tinggi.

Sementara, lapak buku di kawasan stadion rata-rata adalah milik pribadi atau disewa dengan harga yang lumayan murah. Karyawan pun nggak terlalu banyak, bahkan kadang dijaga sendiri. Inilah yang membuat harga buku di lapak yang umumnya buka pukul 10.00 hingga 17.00 WIB itu bisa lebih miring.

"Intinya, harga dan waktu kerja kami juga bisa jauh lebih fleksibel," ujar Yuni.

Saat ini, selain berjualan offline, dia juga mengaku mulai merambah dunia daring. Yuni mengatakan, semenjak merambah marketplace, keuntungannya lumayan baik.

"Alhamdulillah. Kalau pas musim cari buku seperti tahun ajaran baru, pembeli sampai dari luar pulau, lumayan banyak,” terangnya.

Untuk para pelapak buku yang masih bertahan di belakang Stadion Diponegoro, bertahanlah! Di mana lagi bisa cari buku murah tanpa takut waswas dengan keasliannya? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)