Jenama Lokal dan Thrift Shop 'Semarang Lokal Market', Perlukah Digelar Rutin? 

Jenama Lokal dan Thrift Shop 'Semarang Lokal Market', Perlukah Digelar Rutin? 
Beberapa pengunjung memilih baju-baju thrift yang ada di Semarang Lokal Market. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kehadiran Semarang Lokal Market pada awal Mei lalu tentu menjadi angin segar untuk industri kreatif di Kota Lunpia. Memadukan bazar clothing dengan musik lokal, festival kuliner, fashion show, sekaligus art performance, haruskah event ini digelar secara rutin?

Inibaru.id – Deretan pakaian warna-warni yang digantung rapi membuat satu sudut di MG Setos Hotel Semarang pada awal Mei lalu tampak seperti pusat perbelanjaan. Para pengunjung, yang kebanyakan anak muda, tampak khusyuk mencari pakaian yang akan mereka beli pada event Semarang Lokal Market tersebut.

Sebagian dari pakaian itu adalah produk lokal. Sebagaian lainnya merupakan baju bekas atau yang sekarang lebih dikenal sebagai pakaian preloved atau thrift. Nggak hanya pakaian, bazar clothing itu juga diisi dengan pergelaran musik lokal, festival kuliner, fashion show, hingga art performance.

Berlangsung pada 3-6 Mei 2021, Semarang Lokal Market adalah event lanjutan yang dibikin Makarya, salah satu agensi kreatif asal Kota Semarang. Anantyo Seto, founder Makarya cum inisiator Semarang Lokal Market mengatakan, event ini digelar sebagai semacam marketplace offline untuk Kota Lunpia.

"Teman-teman pelaku industri kreatif di Semarang rata-rata, kan, memang belum punya tempat atau space yang bisa memfasilitasi mereka,” terang Anantyo. "Semarang Lokal Market adalah wadah bagi brand lokal."

Beberapa pengunjung memilih baju flanel yang dijajakan di both event. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Beberapa pengunjung memilih baju flanel yang dijajakan di both event. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Berlangsung selama empat hari, Local Market Semarang terdiri atas 68 stand clothing yang sebagian di antaranya merupakan jenama lokal. Untuk lebih menarik minat pengunjung, Anantyo juga menggandeng Flea Market yang berisikan tenant-tenant pakaian bekas atau thrift shop.

“30 stand kami isi dengan thrift shop karena yang lagi happening memang barang thrift,” ujar Anantyo. "Namun, goal utama kami tetap produk lokal dan industri kreatif."

Nggak bisa dimungkiri, kendati produk lokal Semarang nggak kalah menarik, thrift shop tetap menjadi magnet bagi pengunjung. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang menyambangi thrift shop ketimbang stan produk lokal atau ruang kesenian yang juga disediakan di sana. 

Namun, Anantyo berkilah, kala itu event kreatif di Kota Semarang sedang banyak banget, sehingga pengunjung pun terbagi ke sana. Dia juga memastikan, kalau event serupa memungkinkan untuk kembali digelar, produk lokal dan kesenian di Semarang bakal tetap ada.

“Kita harus sama-sama sabar dan konsisten. Merek lokal Semarang harus kuat karena potensinya besar,” tegasnya.

Perlukah Digelar Rutin?

Suasana Semarang Lokal Market yang ramai oleh pengunjung. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Suasana Semarang Lokal Market yang ramai oleh pengunjung. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Hari pertama dibuka, Semarang Lokal Market dikunjungi sekitar 500-an pengunjung. Jumlahnya terus meningkat signifikan pada hari kedua, dan hampir dua kali lipat pada hari ketiga dan keempat. Dari gambaran tersebut, Anantyo meyakini, ada animo yang cukup tinggi pada perhelatan semacam ini.

"Traffic (pengunjung)-nya di luar ekspektasi, sih. Terus meningkat setiap hari," terang Anantyo dengan wajah semringah.

Anantyo mengaku sengaja menggratiskan event yang tergolong mewah tersebut untuk menarik minat pengunjung. Dia yang juga merupakan bagian dari Komite Ekonomi Kreatif Semarang memang tengah melakukan semacam riset terkait ketertarikan masyarakat pada industri kreatif di Kota Semarang.

Untuk masuk ke event ini, pengunjung memang diwajibkan melakukan mengisi data diri secara daring. Nah, berdasarkan riset, dia dan tim menyadari bahwa event semacam Semarang Lokal Market memang harus lebih sering diadakan.

Menurutnya, event ini penting digelar agar warga Semarang lebih melek dengan produk lokal, terutama produk lokal Semarang. Dia mengatakan, pihaknya juga mendapat penilaian postitif serta dukungan dari berbagai kalangan untuk menyelenggarakan event semacam itu secara rutin.

“Teman-teman pengin event ini digelar rutin, jadi ke depan kayanya kami bakal bikin per dua bulan, tapi mungkin bukan Semarang Lokal Market lagi. Beda nama dan konsep,” jelasnya.

Pertumbuhan industri kreatif pada akhirnya memang bukan cuma tentang pelaku, tapi merupakan satu paket yang juga berisi konsumen, pengemasan, distribusi, marketing, dan marketplace-nya. Jika event semacam Semarang Lokal Market bisa menyatukan semuanya, tentu bakal menarik kalau digelar rutin. Sepakat, Millens(Kharisma Ghana Tawakal/E03)