BerandaPasar Kreatif
Senin, 23 Feb 2026 15:18

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

Penulis:

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AISiti Khatijah
Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

BBC Media Action menyimpulkan bahwa adopsi AI di Indonesia sedang berada pada fase transisi. (AMSI)

Riset BBC Media Action mengungkap, meski membuat produktivitas meningkat, adopsi AI oleh jurnalis masih acap terbentur isu etika, literasi, dan transparansi penggunaannya. Maka, pertanyaannya bukanlah perlu atau tidak, tapi untuk kepentingan apa perusahaan media mengadopsi AI.

Inibaru.id - Integrasi kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI) di ruang redaksi Indonesia kian masif. Namun, di balik lonjakan produktivitas dan kemudahan kerja, muncul pertanyaan tentang etika, tata kelola, hingga masa depan profesi jurnalis itu sendiri.

Riset terbaru yang dipaparkan Research Manager BBC Media Action Rosiana Eko di Jakarta, Jumat (20/2/2026) menunjukkan, jurnalis Indonesia telah mengintegrasikan AI dalam pekerjaan sehari-hari, tetapi belum diiringi sistem pengaturan yang matang.

“AI seharusnya memperkuat, bukan menggantikan kerja jurnalistik,” tegas Oci, sapaan akrabnya.

Temuan riset menunjukkan bahwa interaksi jurnalis dengan AI bahkan sudah terasa personal. Sebagian jurnalis memasukkan sapaan akrab seperti “Bro” dalam prompt yang mereka berikan kepada mesin. Relasi manusia–mesin nggak lagi kaku, melainkan menyerupai komunikasi sehari-hari.

"Sebagian besar output AI masih berupa teks, yang mencapai sekitar 94 persen. Selebihnya berupa grafis, foto, dan konten multimedia," sebutnya.

Dalam skala kecil, sekitar satu persen responden memanfaatkan AI untuk membantu koding dan satu persen lainnya untuk menyusun proposal bisnis klien. Kemudian, kurang dari satu persen menggunakan AI untuk membuat musik atau jingle iklan.

Dari Ide hingga Analisis Audiens

Dari sisi platform, ChatGPT mendominasi dengan tingkat penggunaan 86 persen; disusul Gemini 63 persen, Deepseek 12 persen, Copilot 9 persen, dan Notebook LM 6 persen.

Selain itu, jurnalis juga menggunakan Canva dan CapCut untuk desain dan video, Adobe Podcast untuk produksi siniar, SUNO untuk musik, Notion AI untuk ringkasan, serta layanan transkripsi dan penerjemahan seperti DeepL dan Transkrip.id.

Sementara itu, secara fungsi, AI paling sering digunakan untuk idea generation. Jurnalis memanfaatkannya untuk mencari topik liputan, menentukan sudut pandang berita, atau menyusun alternatif angle.

"Editor menggunakan AI untuk menyusun ulang struktur kalimat, memparafrasekan naskah, mengubah gaya bahasa, misalnya menjadi gaya Gen Z, hingga membuat judul lebih ramah mesin pencari (SEO)," paparnya.

Pada level dasar, jurnalis muda menggunakan AI untuk mencari ide, menerjemahkan, dan mentranskrip; sedangkan pada level menengah hingga lanjut, ia dipakai untuk penyuntingan lanjutan dan analisis digital. Ada pula yang meminta AI menganalisis engagmen pembaca dan demografi audiens dari tautan berita tertentu.

"Salah satu praktik yang memantik diskusi adalah penggunaan ekstensi peramban untuk mentranskrip otomatis konten Youtube menjadi teks, lalu mengolahnya menjadi berita naratif dengan bantuan AI. Cepat dan efisien, tetapi menyisakan pertanyaan etis tentang verifikasi dan orisinalitas pelaporan," jelasnya.

Produktivitas Naik, Kekhawatiran Muncul

Untuk fact-checking, mayoritas jurnalis tampak masih enggan mengandalkan AI. Mereka menilai hasil AI kerap mengandung “halusinasi” dan kurang dapat dipercaya. Verifikasi fakta lebih sering dilakukan melalui Google Reverse Image atau menghubungi narasumber secara langsung untuk klarifikasi.

Sebanyak 74 persen jurnalis memandang AI sebagai peluang, sedangkan 45 persen melihatnya sebagai ancaman. Sementara itu, lebih dari 50 persen responden menilai AI berdampak positif terhadap produktivitas dan efektivitas kerja.

Seorang editor yang sebelumnya mampu menyunting 25 artikel per hari, dengan bantuan AI kini dapat menyunting lebih dari 40 bahkan 60 artikel per hari. Produktivitas meningkat, jam lembur berkurang, kualitas hidup pun membaik.

Namun, sekitar 30 persen responden menilai AI membawa dampak negatif, yakni membuat jurnalis menjadi malas, analisis kurang mendalam, potensi disinformasi meningkat, hingga ketergantungan berlebihan yang dapat menurunkan kepercayaan publik.

"Sebanyak 15 persen lainnya bersikap netral dan memilih mengikuti kebijakan organisasi masing-masing," ulasnya.

Soal Transparansi dan Disclaimer

  Untuk fact-checking, mayoritas jurnalis tampak masih enggan mengandalkan AI. (AMSI)  
Untuk fact-checking, mayoritas jurnalis tampak masih enggan mengandalkan AI. (AMSI)

Sebanyak 47 persen jurnalis menggunakan AI dari penyedia eksternal, sedangkan 16 persen lainnya mengaku menggunakan platform internal dari media yang telah mengembangkan sistem AI sendiri.

Untuk perusahaan yang membangun AI sendiri, umumnya tersedia pelatihan dan aturan yang jelas. Sebaliknya, pada pengguna platform eksternal seperti ChatGPT, banyak jurnalis belajar secara otodidak tanpa pelatihan memadai dan kebijakan perusahaan yang tegas.

Dalam salah satu wawancara, seorang jurnalis mengaku tulisannya dibantu AI, tetapi editor tidak menyertakan disclaimer penggunaan AI saat berita diunggah. Praktik ini berbeda dengan media cetak yang cenderung lebih disiplin mencantumkan keterangan penggunaan AI.

"BBC Media Action menyimpulkan bahwa adopsi AI di Indonesia sedang berada pada fase transisi. Mayoritas jurnalis menerima dan memanfaatkan teknologi ini, tetapi masih bergulat dengan isu kepercayaan publik dan kepatuhan etis," jelasnya.

Menanggapi hal ini, Redaktur Eksekutif Liputan 6 Raden Trimutia Hatta mengatakan bahwa perusahaan tempatnya bernaung, yakni Liputan6.com dan Kapanlagi Youniverse telah menggunakan AI selama dua tahun terakhir.

"Sejak awal, kami sudah menyusun pedoman penggunaan AI untuk redaksi," klaimnya. “Selain menjadi panduan newsroom, juga sebagai guide tim IT untuk membuat AI tools yang dibutuhkan redaksi, dan tidak keluar dari sisi jurnalistiknya.”

Dia mengatakan, AI di tempatnya dimanfaatkan untuk idea generation dalam jurnalisme berkualitas sekaligus meningkatkan produktivitas. Dengan begitu, produksi berita dan trafik tetap terjaga, sementara jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan ide kreatif, termasuk liputan investigatif.

Eksplorasi Format Baru

Setali tiga uang, Direktur Seputar Papua, Misbah Latuapo juga mengatakan bahwa penggunaan AI di medianya masih fifty-fifty. Kendati nggak menampik penggunaan kecerdasan buatan untuk Seputarpapua, penggunaannya hanya sekitar 50 persen, sedangkan sisanya merupakan karya orisinal.

"Editor memanfaatkan teknologi internal bernama 'Mas AI' untuk menghasilkan breaking news dengan cepat," ungkapnya. “Artinya, secara struktur penulisan jurnalistiknya masuk, dan datanya akurat.”

Tren di Indonesia ini memiliki kemiripan dengan praktik di Inggris. Di BBC News, pemanfaatan AI diarahkan nggak hanya untuk efisiensi, tetapi juga eksplorasi format baru.

“Implementasinya tidak hanya menyasar efisiensi alur kerja dan peningkatan produktivitas, tetapi juga eksplorasi format dan pendekatan baru,” kata Senior News Editor AI BBC News, Olle Zachrison.

Dalam kerangka strategisnya, BBC memiliki news AI plan dengan empat fokus utama, yaitu meningkatkan produktivitas, memformat ulang konten berita, memperkuat praktik jurnalistik, serta mengembangkan inovasi pengalaman pengguna.

Terkait hal ini, dosen RMIT University Arsisto Ambyo kemudian memantik dengan satu pertanyaan mendasar, “Siapa yang diuntungkan?”

Menjaga Integritas Informasi Publik

Arsisto Ambyo mencoba menyoroti permasalahan ini dengan fakta bahwa di tengah gelombang efisiensi berbasis teknologi, banyak jurnalis justru kehilangan pekerjaan. Produktivitas 40 artikel per hari, menurutnya, belum tentu berbanding lurus dengan kualitas dari artikel tersebut.

Dalam konteks global yang diwarnai konflik kemanusiaan, rasisme, serta membanjirnya misinformasi, media dituntut untuk nggak sekadar beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga menjaga integritas informasi publik.

Optimisme terhadap AI perlu diimbangi dengan kebanggaan atas tradisi investigasi yang tajam dan kerja jurnalistik yang bermakna.

Untuk menjawab kebutuhan platform yang menjembatani riset global dan praktik media lokal, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan BBC Media Action melalui proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE).

Inisiatif ini mendiseminasikan riset terkait AI yang relevan bagi ruang redaksi, sekaligus memfasilitasi dialog mengenai keberlanjutan bisnis media di era AI.

Forum tersebut mempertemukan praktisi media, regulator, asosiasi industri, serta pemangku kepentingan sektor teknologi guna mendorong diskusi berbasis informasi, kolaborasi lintas sektor, dan pembelajaran bersama.

Di tengah transformasi digital, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana ia digunakan, dan tentu saja untuk kepentingan apa atau siapa? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved