Sei Sapi, dari Tradisional Menjadi Makanan Kekinian

Sei Sapi, dari Tradisional Menjadi Makanan Kekinian
Sei sapi merupakan irisan daging sapi yang dimasak dengan cara diasap dan disajikan bersama sayur serta sambal. (Detikfood)

Di beberapa restoran sei sapi, pengunjung selalu berjubel. Seenak apa sih makanan yang berasal dari NTT ini?

Inibaru.id - Ngomong-ngomong soal olahan daging sapi, saat ini kita nggak melulu bicara soal sate, bakso, steak, dan tongseng. Ada satu lagi olahan daging sapi yang kini mulai populer terutama di kalangan anak muda, yaitu sei sapi.

Awalnya , pada 2014, ada sebuah restoran di Bandung yang mempopulerkan hidangan sei sapi. Kemudian di banyak kota, jumlah restoran yang menyajikan sei sapi semakin banyak dan pembelinya selalu membludak. Makanan ini juga disebut viral karena sering berseliweran di beranda media sosial kita. Ya, itu mungkin karena sei disajikan dengan kombinasi-kombinasi unik yang menyesuaikan dengan tren sekarang.

Ada yang masih belum tahu apa itu sei sapi? Sei sapi merupakan makanan khas dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sei berarti daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang, lalu diasapi dengan bara api hingga matang.

Awalnya, sei menggunakan daging rusa. Karena semakin langka dan dilindungi, sekarang yang dipakai adalah daging sapi, ayam, atau babi. Syarat wajib daging yang bakal dimasak sei adalah daging berwarna merah yang segar dan nggak berasal dari hewan berpenyakit.  

Proses Pengasapan yang Lama

Proses pengasapan sei berlangsung sekitar sembilan jam agar memperoleh cita rasa yang lezat. (Wisato)
Proses pengasapan sei berlangsung sekitar sembilan jam agar memperoleh cita rasa yang lezat. (Wisato)

Di daerah asalnya, sei diolah secara tradisional dengan cara mengiris daging sapi memanjang hingga sekitar 50 cm dengan ketebalan tiga cm. Dengan ukuran yang seragam seperti itu , setiap daging akan lebih mudah matang merata.

Daging lalu ditaburi garam dan rempah lainnya untuk proses marinasi berjam-jam. Untuk menghilangkan kadar air, daging digantung terlebih dahulu. Setelah itu, barulah proses memasak dengan metode pengasapan dilakukan.

Biasanya, yang menjadi media pengasapan adalah drum tanpa tutup yang diisi dengan arang dari kayu kosambi. Saat pengasapan yang berlangsung hingga sembilan jam itu daging ditutup menggunakan daun kosambi untuk mempertahankan warna merah yang khas.

FYI, pengasapan merupakan salah satu teknologi yang dilakukan oleh nenek moyang masyarakat NTT, yaitu Suku Mollo, untuk mempertahankan kualitas daging sapi. Karena teknik itu, sei menghasilkan aroma yang harum dan smokey, tekstur yang lembut serta rasa yang lezat.

Disantap dengan Sambal

Sambal matah, salah satu sambal favorit yang dipilih orang saat menikmati sei sapi. (Rinaresep)
Sambal matah, salah satu sambal favorit yang dipilih orang saat menikmati sei sapi. (Rinaresep)

Cara masyarakat NTT memakan daging sei berbeda dengan yang biasa kita temui di Jawa. Sei dipotong tipis-tipis terlebih dahulu dan ditumis bersama bawang putih, bawang merah, tomat, cabai merah, garam, dan kecap manis. Tumisan daging manis pedas itu kemudian dinikmati bersama nasi putih.

Sei sapi yang tengah viral cara penyajiannya lebih sederhana. Sei yang sudah matang disantap dengan nasi, tumis sayuran, dan sambal. Nasi yang  bisa kita pilih yaitu nasi putih, nasi jagung, nasi daun jeruk, atau nasi goreng. Pilihan sambalnya yaitu sambal lu’at (sambal tradisional khas NTT), sambal matah, sambal bawang, sambal ijo, saus mentai, atau saus blackpaper.

Nah, setelah tahu cara memasaknya yang cukup panjang dan membutuhkan teknik tertentu, sudah pasti sei sapi jadi hidangan yang digemari banyak orang ya, Millens! (Idn/IB20/E05)