Blondo, Residu Minyak Kelapa Bercita Rasa Juara

Blondo, Residu Minyak Kelapa Bercita Rasa Juara
Blondo juga dijadikan topping jadah. (Shutterstock via GNFI)

Bukannya dibuang, ampas sisa pembuatan minyak kelapa bisa dimakan. Masyarakat menyebutnya blondo. Meski tampilannya kurang menggugah selera, kamu nggak akan berhenti memakannya setelah mencicipi rasanya.

Inibaru.id - Lembut, wangi, dan gurih. Itulah kesan saya pada blondo, ampas dari pembuatan lengo klentik (minyak kelapa). 

Saya mengenal blondo dari nenek saya. Dulu sewaktu kecil, dua hari sekali saya disuruh membeli minyak kelapa beserta blondo di pasar. Saya bersekolah siang sampai kelas 3 SD, jadi punya banyak waktu di pagi hari untuk blusukan di pasar. Kebiasaan ini bikin saya lumayan hafal seluk-beluk pasar sehingga nggak sulit menemukan keberadaan penjaja blondo.

Saat itu, saya mendatangi penjual minyak kelapa langganan simbah saya di sebuah los pasar. Di depannya tampak dua kaleng berisi minyak kelapa berukuran sekitar 500 ml lengkap. Sebuah corong dan canting minyak literan yang terbuat dari besi di samping kaleng terlihat basah tanda habis digunakan. 

"Blondo, Mbah," kata saya.

Tangan penjual yang sudah keriput itu membuka wadah blirik di depannya. Isinya mirip lumpur berminyak; itulah blondo. Terus terang, saya tidak ingat berapa harga blondo tersebut. Saya cuma ingat, saya membawa pulang empat sendok makan blondo yang dibungkus daun pisang.

Dari segi penampilan, blondo sangat nggak menarik bagi anak seusia saya. Tapi setelah tahu rasanya, saya pengin memakannya setiap hari. Begitu lembut dan gurih. 

Di pasar, ada juga blondo kering. Tekstur ini didapat karena endapan ini dipres semalaman sehingga minyak sudah nggak ada lagi. Tapi jika diminta memilih, sepertinya saya lebih suka blondo yang masih bercampur minyak. 

Proses Pembuatan Blondo

Rebus santan kental dan aduk terus hingga menjadi minyak serta blondo. (Shutterstock/Yupa Watchanakit via Kompas) 
Rebus santan kental dan aduk terus hingga menjadi minyak serta blondo. (Shutterstock/Yupa Watchanakit via Kompas) 

Di Kebumen, blondo merupakan bahan untuk membuat kethek. Makanan tradisional ini berupa botok yang dibungkus daun pisang dan dikukus. Karena berbahan baku blondo, kethek bercita rasa gurih dan bertekstur lembut. Rasanya semakin mantap berkat daun pisang yang membubuhkan aroma wangi. Kethek dapat dinikmati begitu saja atau dijadikan teman nasi hangat. Duh, jadi lapar ya?

Untuk membuat kethek, kamu harus lebih dulu menyiapkan blondo, Millens. Caranya dengan merebus santan kental dari kelapa segar dalam wajan. Aduk dengan sutil hingga kamu melihat minyak mulai terbentuk. 

Ambil minyak dengan gayung. Pada dasar wajan, kamu bakal menemukan endapan kental (blendet) yang berwarna kehitaman, bercampur dengan cairan minyak. Bagian inilah jika sudah ditiriskan minyaknya bakal menghasilkan blondo. Proses pembuatan blondo ini memakan waktu sekitar 2 - 3 jam, tergantung berapa banyak santan yang kamu olah.

Selain menjadi bahan baku kethek, blondo juga dapat diolah menjadi sambal, isian lemper, topping jadah, dan masih banyak lagi.  

Gimana, kamu sudah pernah mencicipi blondo belum, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)