BerandaHits
Rabu, 4 Feb 2026 15:01

Waspadai Leptospirosis, Penyakit yang Sebabkan Puluhan Kematian di Kota Semarang

Penulis:

Waspadai Leptospirosis, Penyakit yang Sebabkan Puluhan Kematian di Kota SemarangSundara
Waspadai Leptospirosis, Penyakit yang Sebabkan Puluhan Kematian di Kota Semarang

Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam saat membeberkan tentang bahayanya kasus leptospirosis. (Inibaru.id/ Sundara)

Puluhan kematian yang disebabkan oleh penyakit leptospirosis di Kota Semarang membuat Dinkes meningkatkan kewaspadaan, termasuk mengajak warga menggencarkan operasi tangkap tikus, pembawa bakteri Leptospira yang menjadi penyebab utama penyakit menular ini.

Inibaru.id - Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa leptospirosis bisa ancaman serius bagi kesehatan, bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan, situasi itu juga terjadi di Kota Lunpia.

"Penyakit ini telah merenggut puluhan nyawa di Semarang. Ini menjadi alarm penting bagi kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan dan praktik hidup bersih," sebutnya saat ditemui Inibaru.id, Selasa (3/2/2026).

Untuk yang belum tahu, leptospirosis atau yang sering disingkat "lepto" saja ini adalah penyakit infeksi zoonosis menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini umumnya ditularkan ke manusia melalui urin hewan, biasanya tikus, yang terinfeksi.

Umumnya penularan terjadi saat manusia berinteraksi dengan air atau tanah yang tercemar bakteri, terutama saat banjir atau di musim hujan. Saat tertular, gejalanya antara lain demam mendadak, sakit kepala, mata merah, dan nyeri otot, terutama di betis.

Kasus Leptospirosis Meningkat

Abdul Hakam menegaskan bahwa leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus sebagaimana pada Covid-19. Dari tahun ke tahun, statistik kasus leptospirosis di Kota Semarang cenderung fluktuatif, tapi pada 2025 lalu terjadi lonjakan kasus yang cukup signifikan dibanding dua tahun sebelumnya.

"Pada 2023 ada 38 kasus lepto, sedangkan 2024 sebanyak 32 kasus. Sementara, pada 2025 lalu meningkat menjadi 59 kasus," tuturnya.

Hakam memperingatkan, lepto adalah penyakit yang perlu diwaspadai karena bakteri Leptospira akan berkembang dengan cepat begitu masuk ke tubuh manusia, sehingga berpotensi menyerang organ vital. Itulah alasan mengapa penyakit ini disebut memiliki risiko kematian yang cukup tinggi.

"Tiga tahun terakhir, ada 23 warga meninggal akibat leptospirosis; sepuluh orang pada 2023, lima orang pada 2024, dan delapan orang pada 2025," rincinya. "Sebagian besar kasus ditemukan di kawasan permukiman padat penduduk yang memiliki persoalan lingkungan."

Pentingnya Hidup Bersih dan Sehat

Hakam mengatakan, rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kota Semarang menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan risiko penularan leptospirosis, mengingat tikus yang menjadi pembawa bakteri utama itu mendiami lingkungan yang kotor.

"Keterlibatan warga yang minim terhadap upaya menjaga kebersihan lingkungan juga memperbesar bahaya penyebaran penyakit ini," jelasnya.

Untuk menekan penyebaran leptospirosis, Dinkes Semarang pun berusaha mendorong warga di wilayah-wilayah rawan untuk melaksanakan program Operasi Tangkap Tikus (OTT). Program ini kembali digencarkan pada akhir 2025, menyusul meningkatnya kasus dan tingginya angka kematian.

"Akhir 2025 kemarin kami sudah mulai lagi gerakan OTT. Semakin banyak tikus yang kita tangkap, kemungkinan besar penularan bakteri kepada manusia akan semakin kecil," paparnya.

Fokus pada Sumber Penularan

Sebagaimana pada penyakit demam berdarah yang berfokus pada pengendalian nyamuk sebagai sumber penularan, Hakam mengungkapkan bahwa penanganan leptospirosis di Semarang juga akan mengadopsi pendekatan serupa.

"OTT itu mengadopsi pengendalian demam berdarah, yaitu fokus pada sumber penularan, yakni tikus," paparnya. "Dinkes telah menyerukan penangkapan tikus secara besar-besaran untuk menekan risiko penularan leptospirosis."

Dia menambahkan, Dinkes Semarang menargetkan setiap kelurahan, khususnya yang tergolong rentan, setidaknya menangkap 50-100 ekor tikus untuk menekan penularan penyakit leptospirosis.

"Setelah itu, petugas puskesmas akan memberikan arahan tentang cara penanganannya," tandasnya.

Kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci sederhana untuk menekan penyebaran kasus leptospirosis di Semarang. Jangan kalah sama OTT KPK ya! Ha-ha. (Sundara/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved