Inibaru.id - Bencana tanah gerak yang menimpa Kampung Sekip di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, membuat akses jalan utama dari Jangli ke Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang terputus.
Lubang besar yang menganga di badan jalan membuat jalur penghubung Jangli-Undip benar-benar nggak bisa dilalui kendaraan, baik roda empat maupun dua. Nggak berhenti di situ, tanah gerak juga mengakibatkan rumah di sekitar tanah gerak rusak, bahkan roboh.
Lantai dan tembok yang retak atau patah menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan di Kampung Sekip. Terpantau pada Rabu (11/2/2026), warga tampak bergotong royong membongkar rumah yang rusak atau kondisinya mengkhawatirkan untuk mengambil material bangunan yang bisa diselamatkan.
Slamet Riyadi, salah seorang warga yang terdampak tanah gerak Jangli mengaku memilih merobohkan rumahnya sendiri karena retakan yang tergurat di bangunan tersebut kian parah. Dia khawatir fondasi rumahnya runtuh sewaktu-waktu jika dibiarkan.
Memilih Mengungsi
Lelaki paruh baya itu mengatakan, sudah tiga hari dia nggak berani tinggal di rumahnya. Dia memilih mengungsi di musala sebab setiap kali turun hujan tanah terasa masih bergerak-gerak. Hal itu membuatnya ngeri, waswas, dan mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.
"Kandang ternak kambing saya yang berada di belakang rumah itu roboh. Semua ternak sudah saya pindahkan," ujar Slamet saat ditemui Inibaru.id, Rabu (11/2). "BPBD mengatakan, rumah saya sudah tidak layak untuk ditempati. Lebih baik dirobohkan (untuk menyelamatkan material)."
Slamet sejatinya merasa sayang jika harus melihat bangunan berukuran 4x10 meter yang merupakan rumah warisan orang tuanya itu rata dengan tanah. Namun, menurutnya upaya penyelamatan material lebih penting agar bisa dipakai untuk membangun rumah baru di tempat lain.
"Goncangan-goncangan tanah gerak itu masih saya rasakan. Sekitar rumah saya semalam masih terdengar bunyi pletok-pletok. Sudah jelas tanah ini memang bergerak," terangnya.
Belasan Rumah Rusak
Ketua RT 7 Kampung Sekip, Joko Sukaryono mengatakan, tanah gerak di Jangli sudah berlangsung sekitar dua minggu terakhir. Patahan tanah di permukiman tersebut semakin kentara saat hujan deras mengguyur wilayah itu.
"Sekitar 4-5 Februari kami mulai merasakan guncangan. Pergerakan tanah makin parah saat hujan turun. Kalau hujan terus, pergerakannya pasti semakin signifikan," jalasnya.
Menurut Joko, tanah gerak telah merusak sekitar 15 rumah warga. Lantai rumah retak dan menggelembung. Rawan runtuh. Maka, bangunan yang kondisinya membahayakan terpaksa dibongkar untuk menyelamatkan material bangunan yang bisa dipakai, termasuk dua rumah dan balai RW yang jadi prioritas.
"Ada satu rumah yang langsung roboh akibat tanah gerak. Semula Jalan Jangli-Undip ketika awal-awal ada tanah gerak masih bisa dilalui kendaraan, tapi sekarang kerusakannya semakin parah," resahnya.
Lahan Milik TNI
Sebagian besar rumah terdampak tanah gerak berdiri di lahan milik TNI AD. Kondisi tersebut membuat warga khawatir akan masa depan tempat tinggal mereka. Karena itulah Joko berharap pihak TNI dan Pemkot Semarang bisa segera memberikan solusi bagi warga terdampak tanah gerak yang terjadi kali ini.
"Fenomena tanah gerak sekarang ini sebenarnya tahap kedua. Sekitar 25 tahun lalu juga pernah terjadi, tapi dampaknya tidak separah sekarang," paparnya. "Kami harap segara ada solusi, sebab sebagian besar warga berpenghasilan menengah ke bawah. Mereka tidak punya pilihan tempat tinggal selain rumah-rumah itu."
Menurut Joko, wilayah yang terdampak tanah gerak diperkirakan menjalar hingga radius sekitar 70 meter ke bagian bawah permukiman. Pergerakan tanah masih berlangsung hingga saat ini dengan pergeseran sekitar dua meter, sehingga lebar retakan mencapai sekitar lima meter; masih di wilayah RT 7 RW 1.
"Harapan kami, segera direlokasi ke tempat yang lebih aman, tapi kalau bisa masih ada di sekitar tanah yang sama. Meski luasnya terbatas, masih ada lahan yang memungkinkan untuk merelokasi sekitar 15 rumah yang terdampak di sekitar sini," curhatnya.
Merelokasi belasan rumah memang bukan perkara mudah, tapi warga yang khawatir karena rumahnya nggak lagi aman untuk ditinggali nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Menurutmu, adakah solusi instan lain selain mengungsi, Gez? (Sundara/E10)
