Inibaru.id - Di balik meja kerja yang rapi, rapat daring yang tampak lancar, dan pekerjaan yang terselesaikan tepat waktu, bukan berarti kultur kerja otomatis baik. Terkadang, sesuatu yang terlihat sangat "mekanis" justru menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Inilah yang perlu dipahami seorang manager atau pemilik perusahaan. Di tengah kondisi ekonomi global yang nggak menentu, acapkali para karyawan yang kecewa dengan kebijakan perusahaan memilih untuk tetap "bekerja dengan baik", tapi diam-diam menolak berinisiatif, apalagi berinovasi.
Fenomena yang kian sering terjadi di dunia kerja modern ini dikenal sebagai silent rebellion. Bukan aksi mogok, bukan pula protes terbuka. Mereka hanya bekerja seperlunya, sebagaimana dikatakan Hamdi, seorang karyawan swasta di perusahaan startup bidang IT di Kota Semarang.
"Aku menikah, punya anak dua, sementara umur sudah kepala empat. Mau resign takut nggak bisa dapat pekerjaan baru, tapi di kantor juga nggak dapat apresiasi yang kubutuhkan. Jadi, sekarang kerja secukupnya saja. Berangkat sesuai jadwal, pulang tenggo," curhatnya, Kamis (29/1/2026).
Perusahaan Perlu Wawas Diri
Nia (bukan nama sebenarnya), HRD di sebuah perusahaan manufaktur di Solo nggak menampik munculnya fenomena tersebut. Dengan kondisi perusahaan yang serba terbatas pasca-pandemi Covid-19 sementara deadline pekerjaan kian ketat, nggak sedikit pekerja yang pada akhirnya memilih memberontak diam-diam.
"Pola mereka sama; merasa tidak mendapatkan apresiasi yang cukup, tapi belum berani resign. Saya melihat gelagat itu, tapi mau bagaimana lagi? Satu sisi saya berusaha memahami mereka, tapi sebagai bagian dari managerial perusahaan harus melihat hal itu sebagai ancaman," akunya, Rabu (28/1).
Meski kerjaan mereka beres, dia menyampaikan, kondisi itu tidaklah ideal karena dampaknya pelan-pelan terasa. Loyalitas yang menurun, produktivitas yang stagnan, hingga hubungan kerja yang kering makna, adalah beberapa dampak langsung berpotensi terjadi.
"Saat karyawan menolak lembur atau terlihat pasif di kantor, sebaiknya perusahaan mulai melakukan introspeksi," ujarnya dengan bibir bergetar.
Mengenal Silent Rebellion?
Oya, untuk yang belum tahu, "silent rebellion" di dunia kerja biasanya merujuk pada bentuk perlawanan karyawan yang dilakukan secara diam-diam dan pasif. Karyawan tetap hadir dan bekerja dengan baik, tapi nggak secara emosional; minim ide dan enggan terlibat lebih jauh dari yang diwajibkan.
Deskripsi ini mirip dengan apa yang sering disebut sebagai quiet quitting yaitu kondisi ketika karyawan hanya memenuhi tugas yang menjadi bagian dari job description tanpa berusaha melakukan hal yang lebih dari itu lantaran terjadi disengagement dengan kebijakan perusahaan.
Ketidaksepakatan itu bisa berwujud banyak hal. Alih-alih melakukan protes cerata terbuka atau mengundurkan diri, mereka memilih melawan dalam diam; tetap berusaha menuntaskan pekerjaan, tapi enggan berinisiatif. Fenomena ini semakin relevan dalam dinamika organisasi modern, terutama pasca-pandemi Covid-19.
Karena terlihat normal dan baik-baik saja, pihak manajemen yang kurang jeli atau memperhatikan karyawan umumnya gagal mendeteksi situasi ini. Padahal, tentu saja situasi ini nggak muncul dengan tiba tiba. Maka, penting bagi perusahaan untuk mendeteksinya sebelum kian memburuk.
Mengapa Silent Rebellion Terjadi?
1. Kurangnya apresiasi
Karyawan yang merasa usahanya nggak dihargai cenderung menarik diri. Ketika kerja keras dianggap “sudah seharusnya”, motivasi pun perlahan akan menguap.
2. Budaya kerja yang toksik
Lingkungan kerja yang penuh tekanan tapi minim empati dan sarat konflik membuat karyawan memilih bertahan secara fisik, tetapi enggan secara emosional.
3. Kepemimpinan yang otoriter atau nggak transparan
Keputusan sepihak, komunikasi satu arah, dan minimnya ruang dialog mendorong karyawan pada akhirnya memilih diam. Namun, bukan karena setuju, mereka diam karena lelah.
4. Ketidakseimbangan kerja dan hidup
Jam kerja panjang dengan beban kerja yang nggak realistis, yang diterapkan tanpa fleksibilitas serta harus selalu “siap sedia”, membuat karyawan membangun batas dengan cara yang paling aman, yakni bekerja atau menjawab seperlunya.
Mengurai Benang Kusut 'Silent Rebellion'
Silent rebellion di kantor nggak selalu terlihat jelas, tetapi bisa dikenali melalui pola perilaku tertentu, termasuk di dalamnya enggan terlibat dalam diskusi atau brainstorming, nggak lagi mengajukan ide baru, menolak tanggung jawab tambahan meski mampu, kehilangan fleksibilitas, dan menjaga jarak secara emosional.
Nggak hanya kepada atasan, jaga jarak juga dilakukan ke rekan kerja. Dalam jangka pendek, perilaku ini mungkin dianggap sebagai bentuk profesionalisme. Namun, dalam jangka panjang, sejatinya ini bisa "menular" dan mengganggu keseimbangan tim.
Bagi perusahaan, ini adalah alarm. Target mungkin tercapai, tapi kreativitas mandek. Ibarat bom waktu, turn-over bisa terjadi kapan saja, mengingat mereka yang diam-diam memberontak juga seringkali diam-diam mencoba mencari jalan keluar.
Bagi pelaku, kondisi ini juga nggak sehat; karena selain menahan frustrasi, bekerja secara mekanis semata juga mematikan emosi dan kreativitas, yang pada akhirnya berujung pada situasi burnout. Maka, untuk mengurai benang kusut ini, solusi atau pencegahan sebaiknya dilakukan oleh kedua belah pihak.
Apresiasi yang sesuai, aturan yang adaptif, dan kebijakan yang manusiawi adalah kunci. Kalaupun situasi sedang nggak ideal, sejatinya selalu ada ruang untuk bernegosiasi, asalkan komunikasi terjalin dengan baik. Gimana menurutmu, Gez? (Siti Khatijah/E10)
