Perlukah Penyandang Disabilitas Jadi Prioritas pada Vaksinasi Covid-19 Nasional?

Perlukah Penyandang Disabilitas Jadi Prioritas pada Vaksinasi Covid-19 Nasional?

Dalam program vaksinasi Covid-19 nasional, pemerintah atau masyarakat sebaiknya nggak saling menunggu untuk merangkul para penyandang disabilitas. Bahkan, ada baiknya mereka juga mendapat prioritas.

Inibaru.id - Pemerintah maupun masyarakat sebaiknya nggak menunggu untuk merangkul para penyandang disabilitas di tengah program vaksinasi Covid-19 nasional yang tengah berlangsung di Indonesia. Hal ini seperti diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.

"Semangat leaving no one behind harus kita dulukan," seru Rerie, sapaan akrabnya, kala membuka diskusi daring bertema Covid-19 dan Vaksin: Inklusivitas Difabel yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bersama Media Indonesia, Rabu (24/2). "Informasi terkait vaksin harus dilaksanakan termasuk terhadap para sahabat penyandang disabilitas."

Dalam diskusi yang dimoderatori Kepala Litbang Media Indonesia Irwansyah itu, dia berharap saat ini sudah ada program tanggap vaksin Covid-19 inklusif untuk penyandang disabilitas. Menurutnya, ini menjadi keharusan lantaran sebagian dari mereka terkadang mengalami kendala akses informasi.

"Akses layanan kadang sulit dijangkau dan mereka (penyandang disabilitas) juga kerap terpaksa kontak fisik karena sangat tergantung pada pendamping," tutur anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.

Rerie kemudian menambahkan, UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan perlakuan khusus bagi penyandang disabilitas agar mendapat perlindungan dan pendampingan. Dia berharap ada kebijakan yang mendukung para penyandang disabilitas di masa pandemi ini.

"Suara dari para penyandang disabilitas sangat perlu untuk didengar," tegasnya.

Selanjutnya, diskusi pun berlangsung cair. Turut serta sebagai narasumber dalam diskusi, antara lain Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dan Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan dan Tim Kajian Disabilitas Bahrul Fuad.

Selain itu, ada pula Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos RI Eva Rahmi Kasim, Rektor Universitas Syiah Kuala Aceh cum Prof Samsul Rizal, dan Editor In Chief Inklusi Journal of Disability Studies Arif Maftuhin.

Kemudian, sebagai penanggap, diskusi daring itu juga dihadiri Co-Founder Abilitas.id Christella Fenisianti dan Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Anggiasari Puji Aryantie.

Penyandang Disabilitas Masuk Skala Prioritas

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19, Wiku Adisasmito menegaskan, pada masa pandemi Covid-19 ini semua lapisan msyarakat memang terdampak. Di sisi lain, ujarnya, terdapat keterbatasan pasokan vaksin Covid-19 yang harus segera diaplikasikan.

"Untuk menangani dampak pandemi ini, pemerintah membuat skema-skema penanganan vaksinasi lewat skala prioritas bagi kelompok-kelompok masyarakat tertentu dan masyarakat rentan, termasuk penyandang disabilitas," paparnya, yang juga menambahkan, pengaturan jadwal vaksinasi untuk kelompok masyarakat rentan bakal mulai diberlakukan pada April 2021.

Hal serupa juga diungkapkan Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan dan Tim Kajian Disabilitas Bahrul Fuad. Menurutnya, kelompok perempuan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang rentan.

Berdasarkan survei Komnas Perempuan, lanjutnya, dua dari tiga responden perempuan penyandang disabilitas menanggung beban rumah tangga lebih berat selama pandemi. "Kesejahteraan, risiko terpapar, dan mobilitas penyandang disabilitas sangat terancam," timpalnya.

Setali tiga uang, Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos RI Eva Rahmi Kasim mengakui, para penyandang disabilitas rentan terpapar Covid-19. Fakta di lapangan, jelasnya, memperlihatkan betapa sulitnya mereka menjalankan 3M.

Relatif banyaknya penyandang disabilitas mental yang dititipkan keluarganya di panti-pantirehabilitasi, menurut Eva, membuat pencegahan Covid-19 bagi mereka jadi lebih sulit. Namun, saat ini Kemensos sudah berkoordinasi dengan Kemenkes  agar penyandang disabilitas bisa segera divaksin.

Sementara itu, mencoba melihat dari sisi lain, Editor In Chief Inklusi Journal of Disability Studies Arif Maftuhin menilai, saat ini pemerintah nggak melihat pentingnya representasi penyandang disabilitas dalam kampanye vaksinasi Covid-19 secara nasional.

"Padahal, bila penyandang disabilitas dijadikan contoh dalam sosialisasi vaksin," lanjut Arif, "bisa sekaligus membentuk opini bahwa mereka saja bisa divaksinasi dengan baik, apalagi yang lainnya?"

Kemudian, tampil sebagai narasumber terakhir, Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal menyoroti pentingnya menerapkan pola dan strategi yang mengedepankan kearifan lokal.

"Ya, supaya masyarakat bisa menjalankan norma-norma baru yang adaptif terhadap kondisi yang ada saat ini," terang penulis kata pengantar Minda Mahasiswa Indonesia: Ketika Masyarakat Indonesia Melawan Pandemi ini.

Pandemi memang sebaiknya nggak membuat kita jadi makhluk egois yang mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, mungkin inilah saatnya kita memupuk kepedulian, termasuk terhadap para penyandang disabilitas, lalu bergerak bersama mengatasi pandemi. Berjarak secara fisik boleh, tapi hati jangan! (IB04/E03