Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Semarang Bakal Tenggelam?

Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Semarang Bakal Tenggelam?
Kota-kota di pesisir utara Jawa seperti Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Semarang bakal tenggelam. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Menurut para peneliti dari BRIN, kota-kota di pesisir utara Jawa seperti Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Semarang bakal tenggelam. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Apa saja ya?

Inibaru.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan terkait dengan kondisi tanah di daerah pesisir utara Jawa. Sejumlah kota besar dan penting seperti Pekalongan, Cirebon, Surabaya, serta Semarang bakal tenggelam! Penyebabnya adalah penurunan permukaan tanah yang cukup ekstrem.

Peneliti ahli utama dari BRIN Eddy Hermawan menyebut pesisir utara jawa memang rawan untuk tenggelam. Dampaknya bahkan sudah mulai bisa dirasakan mulai sekarang.

“Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya adalah kota-kota pesisir utara Jawa yang paling rawan terhadap penurunan tanah ekstrem hingga tahun 2050,” ujar Eddy, Kamis (16/9/2021).

Ada banyak faktor yang membuat permukaan tanah di pesisir utara Jawa terus tenggelam. Yang pertama, kondisi morfologi wilayah tersebut yang cenderung datar. Hal ini memudahkan pembangunan infrastruktur jalan. Dampaknya, pembangunan pun dilakukan dengan masif di sana. Karena alasan ini pulalah lebih banyak pusat perekonomian yang ada di utara Jawa.

Meski bagus dari sisi ekonomi, hal ini berdampak buruk bagi permukaan tanah di sana. Beban yang didapat permukaan tanah sangatlah besar. Kondisi ini ikut membuat permukaan tanah di pesisir utara Jawa akhirnya menurun.

Selain naiknya permukaan air laut, tanah di pesisir utara Jawa ambles secara ekstrem sehingga membuat kota-kotanya rentan tenggelam. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Selain naiknya permukaan air laut, tanah di pesisir utara Jawa ambles secara ekstrem sehingga membuat kota-kotanya rentan tenggelam. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Alasan kedua yang menjadi penyebab kondisi ini adalah penggunaan air tanah yang sangat masif di wilayah tersebut. Nggak hanya air tanah dangkal yang dipakai masyarakat, tapi juga air tanah yang lebih dalam. Air ini disedot habis-habisan untuk kebutuhan industri dan lain-lain. Tanpa disadari, hal ini ikut berdampak pada menurunnya tanah di pesisir utara Jawa.

“Upaya mitigasi dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan harus segera dilakukan,” terang Eddy.

Sementara itu, peneliti ahli utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN Rokhis Khomarudin menjelaskan risiko dari penurunan permukaan tanah ini yang nggak bisa dibiarkan begitu saja.

“Saat ini dampaknya belum terlalu terasa, namun risiko turunnya permukaan tanah jelas membawa kerugian besar, baik dari sisi sosial maupun ekonomi,” tegas Rokhis, Kamis (16/9).

Omong-omong, wilayah Pekalongan mengalami penurunan permukaan tanah sekitar 2,1 – 11 cm per tahun. Kota Semarang mengalami penurunan 0,9 -  cm per tahun. DKI Jakarta mengalami penurunan 0,1 – 8 cm per tahun, Cirebon 0,3 – 4 cm per tahun, dan Surabaya mengalami penurunan 0,3 – 4,3 cm per tahun.

Selain karena faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya, Rokhis menyoroti hasil laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2021 yang menyebut Asia Tenggara rentan tenggelam jika dibandingkan dengan wilayah lain di dunia akibat perubahan iklim, mencairnya es kutub, pergeseran tektonik, hingga penyusutan air tanah.

“Ini membuat kejadian banjir lebih sering di daerah pantai,” ungkap Pakar Iklim dan Meteorologi BRIN Edvin Aldrian.

Duh, semoga saja ada penanganan lebih baik agar nggak lebih banyak wilayah di Indonesia yang tenggelam, ya Millens? (Kom/IB09/E05)