Inibaru.id – Pernah nggak sih, kamu merasa kesal karena dapet dress atau celana cantik tapi pas mau nyimpen HP atau kunci, ternyata nggak ada sakunya? Kalaupun ada, biasanya cuma saku "pajangan" yang ukurannya mini banget, bahkan nggak cukup buat masukin satu jari pun.
Ternyata, fenomena baju perempuan yang minim saku ini bukan sekadar kebetulan atau kesalahan desain lo, Gez. Ada sejarah panjang, standar kecantikan, hingga strategi industri yang "main" di baliknya. Yuk, kita bongkar ceritanya!
Dulunya Pernah Punya Saku Besar
Siapa sangka kalau pada abad ke-16 hingga 17, perempuan sebenarnya punya "saku" yang cukup luas. Namanya tie-on pockets, yaitu kantong kain yang diikat di pinggang dan disembunyikan di balik rok lebar. Pada masanya, kantong ini jadi simbol kemandirian karena perempuan bisa bawa uang dan kunci sendiri secara tersembunyi.
Perubahan mulai terjadi saat tren mode dunia mulai mengagungkan siluet tubuh ramping dan pinggang kecil. Para desainer saat itu menganggap keberadaan saku bakal bikin baju kelihatan "gelembung" dan merusak garis busana yang anggun. Sejak saat itulah, saku perlahan dihilangkan demi estetika.
Strategi Biar Jualan Tas Laris?
Selain urusan estetika, faktor industri mode juga punya peran besar. Dengan absennya saku di baju, perempuan otomatis jadi bergantung banget sama tas tangan. Hal ini tentu saja menguntungkan industri aksesori. Bayangkan berapa triliun nilai pasar tas tangan di dunia, mulai dari tas harian sampai statement bag mewah yang harganya selangit.
Saku itu Politis!
Bagi sebagian orang, saku mungkin cuma detail kecil. Tapi menurut Caroline Stevenson, akademisi mode dari University of the Arts London, saku sebenarnya punya unsur politis. Membatasi ruang simpan di pakaian perempuan secara nggak langsung membatasi kebebasan bergerak dan kemandirian mereka.
Nggak cuma itu, penulis Elizabeth Evitts Dickinson juga menjelaskan kalau gerakan meletakkan tangan di saku sering diasosiasikan dengan rasa percaya diri dan otoritas. Tanpa saku, secara simbolis ada ruang kepercayaan diri yang ikut hilang dari perempuan.
Keresahan ini akhirnya memuncak di media sosial lewat gerakan #WeWantPockets. Banyak perempuan menuntut agar pakaian masa kini nggak cuma cantik dipandang, tapi juga fungsional. Perempuan butuh saku bukan cuma buat gaya, tapi buat kenyamanan dan kebebasan bergerak tanpa harus selalu menenteng tas ke mana-mana.
Saku pada baju perempuan adalah bukti kalau dunia mode seringkali lebih mengutamakan "penampilan" daripada "kenyamanan" pemakainya. Tapi perlahan, tren ini mulai berubah seiring banyaknya brand yang mulai sadar kalau saku adalah hak segala bangsa, termasuk perempuan!
Gimana kalau kamu, Gez? Lebih suka baju yang siluetnya rapi tanpa saku, atau yang punya saku lebar biar bisa naruh apa aja? (Siti Zumrokhatun/E05)
