Inibaru.id – Setiap kali ditanya apa pekerjaannya, Farida nggak langsung bisa memberikan jawaban. Maklum, beda dengan generasi sebelumnya yang biasanya memberikan satu jawaban pasti, perempuan kelahiran 2002 itu harus membeberkan dua pekerjaan yang selama ini dia lakukan, meski di bidang yang sama, yaitu pendidikan.
Kesulitan mencari pekerjaan penuh waktu layaknya sebagian rekan-rekannya di kuliah, Farida memutuskan untuk mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah institusi pendidikan yang ada di Kota Semarang. Tapi, karena gajinya masih belum mencukupi kebutuhannya sebagai salah seorang sandwich generation, dia juga mengajar les di sore hari.
“Mau nggak mau walau rasanya capek karena tempat tinggal anak yang harus saya datangi untuk mengajar les terkadang jauh. Soalnya saya harus ikut membantu pemasukan keuangan keluarga, termasuk cicilan sepeda motor yang saya gunakan untuk kerja setiap hari ini,” ungkap lulusan jurusan Bahasa Inggris tersebut pada Selasa (10/2/2026).
Dia nggak sendirian, sejumlah teman kuliahnya dulu juga melakukan hal yang sama. Salah satunya Vania yang kebetulan satu kantor dengannya.
“Kalau saya kebetulan punya kerjaan WFA membuat konten di media sosial bidang olahraga seperti menulis artikel, ngedit video gitu. Cuma yang bikin capek, terkadang harus nonton pertandingan sepak bola dini hari buat bikin konten tersebut se-up to date mungkin, sementara paginya harus datang ke kantor,” kata Vania.
Meski di kantor hanya setengah hari, tetap saja, melakukan pekerjaan ganda seperti ini cukup menguras fisik dan mental keduanya.
“Banyak yang mengira anak muda seusia kita bakal sering nongkrong, nonton film, atau melakukan hal seru lainnya. Kita nggak punya banyak waktu untuk melakukannya karena banyak disibukkan dengan pekerjaan. Kalau ada waktu luang, akhirnya milih istirahat saja. Tapi karena jarang refreshing, kadang penat juga akhirnya pikiran. Jadi terkadang kalau abis pulang dari kantor, mampir sejenak di mal atau kafe sebelum kerja lagi,” terang Vania.
Beda dengan Farida yang jadi sandwich generation, Vania sebenarnya nggak ikut dibebani pemasukan buat keluarga. Tapi, karena ngekos di Kota Semarang, dia nggak mau lagi meminta uang saku dari orang tuanya yang bukan berasal dari kalangan berada. Pada akhirnya, dia memilih melakoni pekerjaan-pekerjaan tersebut agar bisa mandiri atau setidaknya bisa membelikan paket internet buat adik-adiknya.
“Kita berdua bisa dikatakan masih nggak begitu mengandalkan fisik buat kerja ya. Ada beberapa teman kuliah yang sampai jadi driver ojek daring demi mendapatkan tambahan padahal siangnya juga kerja di kantor. Capeknya pasti lebih kerasa,” kata Farida.
Yap, realitanya, memiliki double job, atau bahkan lebih dari 2 pekerjaan kini jadi hal yang lumrah dilakoni generasi muda di Indonesia. Alasannya, tentu saja karena faktor finansial. Semoga saja ke depannya hal ini bisa segera diperbaiki sehingga generasi muda bisa mendapatkan satu pekerjaan yang mampu memberikan penghasilan yang cukup buat mereka, ya, Gez? (Arie Widodo/E07)
