Inibaru.id - Ubi kayu atau singkong memang nggak ada matinya, Gez. Kabar terbaru, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) lagi gas pol buat memperkuat industri pati ubi kayu dari hulu sampai hilir. Tujuannya biar kita nggak ketergantungan impor dan bisa punya bahan baku bioenergi sendiri!
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut kalau potensi ubi kayu ini gede banget. Saat ini sudah ada 125 perusahaan pati ubi kayu di Indonesia yang sudah menguasai 79 persen pasar dalam negeri.
“Kami optimistis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi,” ungkap Agus pada Pembukaan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Selama ini kita mungkin cuma tahu pati ubi kayu (tapioka) buat bahan bumbu, makanan ringan, atau pemanis. Tapi ternyata, di sektor nonpangan, ubi kayu adalah "pahlawan" buat industri kertas, bahan kimia, sampai etanol.
Nah, etanol inilah yang lagi jadi perhatian karena relevan banget sama agenda transisi energi dunia. Bahkan, nilai ekspor kita di sektor ini melonjak tajam sampai 58,34 persen pada November 2025 kemarin. Gila banget kan potensinya?
Strategi "Jodohin" Produsen dan Pembeli
Biar makin gacor, Kemenperin bareng Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar acara Business Matching di Jakarta, Kamis (22/1). Intinya, pemerintah lagi jadi "mak comblang" buat mempertemukan produsen ubi kayu dengan industri pengguna.
Ada 17 industri pati ubi kayu dari Lampung yang dipertemukan dengan 51 calon pembeli dari berbagai sektor. Harapannya, mereka bisa menjalin kesepakatan kerja sama biar kebutuhan etanol dan kebutuhan industri lainnya bisa terpenuhi dari ubi kayu lokal.
Sebagai informasi, langkah ini ternyata sejalan dengan Strategi Besar Industri Nasional yang berlandaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya adalah memperkuat rantai industri biar makin terintegrasi dan efisien. Kalau industri ubi kayu kita mandiri, otomatis ekonomi rakyat di pedesaan juga bakal ikut terangkat.
Keren ya ide ini? Jadi makin bangga kan sama potensi singkong kita? Siapa tahu suatu saat nanti kendaraan yang kita pakai bahan bakarnya berasal dari singkong petani lokal! (Siti Zumrokhatun/E05)
