Inibaru.id – Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitarmu menulis angka tujuh? Sebagian orang menulisnya cukup dengan dua garis tegak lurus yang simpel, namun nggak sedikit pula yang menambahkan satu garis horizontal kecil di bagian tengahnya.
Bagi generasi milenial atau gen Z, mungkin garis itu dianggap sebagai hiasan agar tulisan terlihat lebih estetik atau "keren". Namun, tahukah kamu kalau garis kecil yang tampak sepele itu punya sejarah panjang melintasi benua dan menjadi penyelamat dalam dunia administrasi?
Lahir di Eropa, Populer karena "Salah Paham"
Bentuk dasar angka 7 sebenarnya berasal dari sistem numeral India-Arab yang berkembang antara tahun 400 SM hingga 400 Masehi. Pada awalnya, angka ini polos-polos saja tanpa ada "sabuk" di tengahnya.
Lalu, kenapa tiba-tiba muncul garis tengah? Mengutip penjelasan Judith Langer, profesor di State University of New York, kebiasaan menambahkan garis horizontal ini pertama kali populer di Eropa. Alasannya fungsionalitas.
Di Eropa, cara orang menulis angka 1 sering kali diawali dengan garis miring yang cukup panjang di bagian atas (kait). Masalahnya, ketika seseorang menulis dengan terburu-buru, angka 1 yang "berkait" tadi sering kali terlihat sangat mirip dengan angka 7. Bayangkan betapa kacaunya sebuah dokumen keuangan atau resep medis jika angka 1 tertukar dengan angka 7!
Untuk membedakannya secara tegas, masyarakat Eropa mulai menambahkan garis horizontal di tengah angka 7. Dengan adanya "sabuk" tersebut, mata manusia bisa langsung mengenali: "Oh, ini pasti angka tujuh, bukan angka satu yang ditulis miring."
Dibawa Belanda hingga ke Indonesia
Kebiasaan ini kemudian menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Kita mengenal gaya penulisan ini berkat sistem pendidikan kolonial Belanda. Sekolah-sekolah pribumi yang didirikan pada masa penjajahan mengadopsi standar penulisan Eropa secara ketat. Jadi, jangan heran kalau kakek-nenek atau guru-guru kita sangat terbiasa menulis angka 7 dengan garis tengah; itu adalah "warisan" gaya tulis Eropa yang terus diturunkan hingga sekarang.
Nggak cuma angka 7, lo. Logika yang sama juga diterapkan pada huruf "z". Agar nggak tertukar dengan angka 2 saat ditulis tangan dengan cepat, banyak orang menambahkan garis pendek di tengah huruf "z". Ini menunjukkan betapa manusia sangat mengutamakan kejelasan dalam berkomunikasi lewat simbol.
Tetap Eksis di Dunia Akuntansi dan Kedokteran
Meskipun sekarang kita sudah berada di era digital di mana semua angka terlihat seragam berkat font komputer, kebiasaan menulis angka 7 dengan garis tengah tetap bertahan kuat di dunia kerja tertentu.
Dalam bidang akuntansi, keuangan, dan administrasi gudang, ketelitian adalah harga mati. Kesalahan membaca satu digit saja bisa berakibat fatal pada laporan neraca. Begitu juga di dunia medis; kesalahan pembacaan dosis obat akibat angka yang mirip bisa membahayakan nyawa pasien. Oleh karena itu, para profesional di bidang ini masih sering diajarkan untuk tetap menggunakan garis tengah agar data yang dicatat benar-benar valid dan nggak menimbulkan ambiguitas.
Menariknya, sebuah studi visual dalam psikologi kognitif menyebutkan bahwa penambahan distingsi atau pembeda pada simbol yang mirip membantu otak bekerja lebih cepat dalam memproses informasi. Jadi, garis kecil itu secara nggak langsung membantu otak kita bekerja lebih efisien dalam memilah data.
Jadi, garis kecil di tengah angka 7 bukan sekadar gaya-gayaan. Ia adalah bukti sejarah tentang bagaimana manusia terus beradaptasi untuk menghindari kesalahan komunikasi. Sebuah detail mungil yang membawa misi besar: kejelasan dan ketelitian.
Kalau kamu sendiri gimana, Gez? Kamu tim angka 7 polos yang minimalis atau tim angka 7 pakai sabuk yang historis? (Siti Zumrokhatun/E05)
