Inibaru.id - Semarang Zoo atau lebih dikenal Kebun Binatang (Bonbin) Mangkang turut angkat bicara terkait larangan atraksi tunggang gajah dari lembaga konservasi. Menanggapi instruksi itu, pihak manajemen memastikan seluruh aktivitas berkaitan dengan hal ini telah dihentikan.
"Penghentian ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi nasional sekaligus komitmen kami untuk memperkuat perlindungan satwa," tegas Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (5/2/2026).
Dia menyebutkan, aktivitas resmi dihentikan semenjak Semarang Zoo telah menerima Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 yang diterbitkan Kementerian Kehutanan pada 18 Desember 2025.
Surat edaran itu memuat kebijakan nasional penghentian seluruh bentuk peragaan tunggang gajah, baik untuk kepentingan komersial maupun non-komersial, di seluruh lembaga konservasi. Regulasi ini, dia mengatakan, bertujuan untuk memperkuat prinsip kesejahteraan satwa serta etika pengelolaan satwa liar di Indonesia.
"Sebagai lembaga konservasi, kami wajib mengikuti aturan ini dan menempatkan kesejahteraan satwa sebagai prioritas utama," jelasnya.
Pedoman Penting Pengelola Satwa
Menurut Bimo, larangan ini adalah pedoman penting bagi pengelola satwa, terutama untuk lembaga konservasi yang merawat spesies dilindungi seperti gajah yang membutuhkan perhatian ekstra dalam pengelolaannya.
"Untuk mendukung implementasi kebijakan itu, Semarang Zoo sudah secara resmi menghentikan seluruh aktivitas tunggang gajah sejak 1 Januari 2026," ucapnya. "Langkah ini diambil demi menciptakan pengelolaan satwa yang lebih etis, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesejahteraan."
Dia menambahkan bahwa kebijakan tersebut juga sejalan dengan praktik yang telah diterapkan sejumlah lembaga konservasi lain di Indonesia. Atraksi tunggang gajah dihentikan demi memprioritaskan perlindungan satwa sekaligus mengembangkan pengalaman edukatif bagi pengunjung.
Sebagai pengganti, Semarang Zoo kini menghadirkan berbagai aktivitas non-tunggang yang tetap memberi ruang interaksi antara pengunjung dengan gajah; mulai dari memberi makan, sesi foto, hingga program edukasi seputar aktivitas harian dan perawatan gajah.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan lancar, konsisten, dan transparan. Kami juga berkomitmen mengembangkan kegiatan konservasi yang inovatif, ramah satwa, dan informatif bagi masyarakat luas," tandas Bimo.
Demi kesejahteraan satwa, aksi tunggang gajah memang sudah tepat jika dihentikan. Masih banyak bentuk interaksi lain yang lebih menyenangkan, bukan? (Sundara/E10)
