Inibaru.id - Akhir pekan ini, kawasan Pecinan Kota Semarang bakal berubah jadi ruang perjumpaan budaya. Sekitar 50 Kelenteng dari berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng) dijadwalkan ambil bagian dalam kirab budaya kolosal sebagai perayaan HUT ke-160 Kelenteng TITD Ling Hok Bio.
Puncak perayaan yang sekaligus menjadi peringatan untuk Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien itu bakal berlangsung selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu (11-12/4/2026).
Nggak hanya akan diisi dengan ritual keagamaan, kegiatan ini juga dirancang dengan mengedepankan wajah akulturasi Jawa-Tionghoa lewat berbagai prosesi khas dan kirab kolosal yang bisa disaksikan langsung oleh masyarakat.
Ketua Yayasan TITD Klenteng Ling Hok Bio, Liemawan Haryanto menyebut, usia 160 tahun menjadi penanda akan ketangguhan nilai-nilair leluhur yang mampu bertahan, bahkan mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman yang terus bergerak.
"Perayaan ini adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam dan leluhur. Melalui momentum ini, kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa keberagaman adalah kekuatan utama yang mempersatukan bangsa," ujar Liemawan dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (9/4).
Berlangsung hingga Larut
Rangkaian kegiatan pada Sabtu dimulai dengan penerimaan Kiem Sien, lalu dilanjutkan dengan ritual sore, hingga upacara kebesaran pada malam hari yang dipimpin Liong Hwa Hing. Suasana kemudian dilanjutkan dengan pentas seni budaya yang berlangsung hingga larut, sebelum ditutup dengan sembahyang bersama.
Keesokan harinya yang merupakan puncak acara akan dimulai pukul 11.00 hingga 17.00 WIB, berupa Kirab Budaya 50 Kelenteng. Rute kirab mengelilingi kawasan Pecinan, agar semua masyarakat dapat menyaksikan langsung sajian akulturasi budaya yang ditampilkan.
"Fokus kami adalah pada keaslian tradisi dan kedekatan antarumat," ungkap sang Ketua Panitia, Thio Hwee Lay. "Kehadiran puluhan kelenteng ini adalah simbol persaudaraan yang nyata."
Oya, daya tarik utama perayaan ini terletak pada kuatnya sentuhan budaya Jawa yang menyatu dalam ritual inti. Area Kelenteng bahkan dihiasi janur penjor, menghadirkan suasana sakral sekaligus estetika khas yang jarang ditemui dalam perayaan serupa.
Sementara itu, ungkapan syukur diperlihatkan melalui arak-arakan Gunungan Hasil Bumi dan prosesi sarana puja. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan atas limpahan rezeki alam, dikemas dalam ritual yang sarat makna.
Hadirkan Suasana Spiritual yang Kental
Prosesi Melasti pun nantinya akan diiringi alunan gending Jawa dan lantunan paritta yang menyatu dalam suasana sakral. Perpaduan ini dipastikan akan menghadirkan nuansa spiritual yang sekaligus kental dengan sentuhan budaya lokal.
Para peserta membawa perlengkapan ritual seperti dupa, pelita, air suci, buah, dan bunga, sembari mengenakan busana adat Jawa lengkap. Kehadiran unsur-unsur ini menegaskan bahwa harmoni antara budaya Tionghoa dan Jawa bukan sekadar simbol, melainkan telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Lebih dari sekadar seremoni, perayaan ini menyiratkan pesan yang lebih dalam: identitas bisa berlapis tanpa harus saling meniadakan. Di tengah kota yang terus bergerak modern, Ling Hok Bio mengingatkan bahwa akar budaya tetap bisa hidup bahkan tumbuh dalam keberagaman.
"Inilah yang kami sebut sebagai doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, melainkan pernyataan bahwa kami adalah bagian tak terpisahkan dari tanah Jawa," tutup Cia Lo Cu Kongco Hok Tik Tjing Sien, Agung Kurniawan.
Perayaan tersebut bukan cuma soal tradisi, tapi juga ruang berbagi cerita lintas budaya yang terus hidup di tengah kota. Mumpung terbuka untuk umum, jangan sampai ketinggalan, Gez! Datang dan nikmati langsung kirab budaya yang bakal bikin Pecinan Semarang makin berwarna ini! (Sundara/E10)
