Inibaru.id – Puluhan tahun silam Kentrung Demak merupakan hiburan yang ditunggu banyak pasang mata. Saat ditanggap, bayarannya cukup mahal. Sayang, kegagalan regenerasi dan lantaran nggak banyak lagi yang menanggap, seni tutur ini mungkin bakal segera punah.
Kamu yang pengin menyaksikan kesenian yang berkembang di pesisir utara Jawa Tengah dan Timur ini mungkin cuma bisa menyaksikannya via Youtube.
Mbah Samsuri, salah seorang seniman kentrung yang tersisa di Demak, mengaku nggak kuasa lagi mencegah kepunahan setelah dua anaknya enggan meneruskan jejaknya dan memilih bekerja, sementara usianya sudah senja.
Mbah Samsuri. (Youtube)
Perlu kamu tahu, kentrung adalah seni bercerita dengan iringan alat musik pukul. Seni ini bisa dimainkan satu orang atau lebih, tergantung banyaknya alat musik yang digunakan. Di Demak, Jawa Tengah, seni kentrung hanya dimainkan oleh satu orang saja, yang berperan sebagai dalang sekaligus pemusik.
Alat musik yang dimainkan, biasa disebut terbang, terdiri atas keteplak, ketipung, dan gendung. Fungsi terbang adalah sebagai penghubung antarkalimat, sekaligus untuk menjadikan pertunjukan ini agar nggak monoton, mengingat waktu pertunjukan bisa mencapai 2-4 jam.
Menurut Mbah Samsuri (Mochammad Samsuri), kentrung berasal dari kata “njluntrung” yang berarti keliling. Konon, seniman tutur pada zaman dulu suka berkeliling dari satu desa ke desa yang lain, sehingga nama itu muncul.
Samsuri dan seni kentrung yang digelutinya. (Sorotnuswantoronews)
Cerita yang dibawakan dalam kentrung Demak biasanya bernuansa Islam dengan menggunakan bahasa Jawa Kawi dan krama alus. Tembang Macapat seperti Dandanggula, Pangkur, Sinom, dan Gambuh sering disisipkan di tengah-tengah cerita.
Kini, sajian kentrung Demak, juga kentrung-kentrung di pelbagai daerah seperti Grobogan, Pati, hingga Tuban, terancam punah lantaran nggak banyak lagi orang yang menggunakan jasa seniman kentrung.
Duh, sayang banget kalau seni berturut seperti ini tinggal nama ya, Millens! Adakah yang bisa kamu lakukan? (IB20/E03)