Inibaru.id - Sebagian warga Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, mengatakan bakal mencoba kembali menghidupkan tradisi ruwatan yang sudah nyaris empat dekade lebih vakum di daerahnya. Tradisi ini digelar sebagai upaya untuk mendoakan keselamatan pelintas di jalur rawan kecelakaan tersebut.
Perlu diketahui, jalur Silayur dikenal sebagai rute maut di Kota Semarang. Nggak sedikit kecelakaan terjadi di ruas jalan tersebut. Yang terbaru, belum lama ini terjadi sebuah insiden lalu lintas di wilayah ini, yang dipicu oleh truk tronton yang diduga mengalami rem blong dan kehilangan kendali.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa itu mengakibatkan tiga kendaraan tertabrak, merusak gerobak pedagang cilok, hingga menumbangkan satu tiang PJU di lokasi kejadian. Maka, warga setempat merasa perlu menghidupkan kembali tradisi ruwatan sebagai sarana memanjatkan doa keselamatan.
Berdasarkan catatan yang dihimpun Inibaru.id, tradisi ruwatan di Silayur kali pertama digagas oleh Kepala Dukuh Dawet, Mbah Kromo. Pada masa itu, angka kecelakaan di kawasan tersebut terbilang tinggi, bahkan hampir terjadi setiap pekan dan kerap memakan korban jiwa.
Setelah menjalani laku tirakat, Mbah Kromo konon mendapatkan petunjuk untuk menggelar ruwatan di wilayah tersebut. Sejak saat itu, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk rangkaian ritual ruwatan yang dimulai dari sedekah bumi, doa bersama warga, lantas ditutup dengan pertunjukan wayang kulit.
Tradisi tersebut rutin digelar oleh warga setempat, bahkan setelah Mbah Kromo mangkat dan digantikan oleh penerusnya, yakni Mbah Nasir. Namun, sepeninggal Mbah Nasir, tradisi itu perlahan mulai ditinggalkan. Berdasarkan catatan sejarah, tradisi ini kali terakhir digelar pada 1980.
Kini, warga RW 04 Silayur Lawas Duwet mencoba berinisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi itu sebagai ikhtiar kolektif untuk menekan potensi kecelakaan di ruas jalan Silayur. Rangkaian sedekah bumi hingga pergelaran wayang pun kembali dihidupkan.
Ketua RW 04, Asrondi membenarkan bahwa ruwatan sebagai upaya warga menjaga keselamatan pengguna jalan terakhir kali digelar pada 1980. Setelah itu, tidak ada lagi tokoh atau sesepuh yang meneruskan tradisi tersebut di lingkungan setempat.
"Warga di sini sudah cukup religius. Jadi, rencana sedekah bumi hanya berupa tumpengan dan doa bersama, tanpa unsur klenik," ucap Asrondi, Minggu (12/4). "Ini ikhtiar warga untuk memohon keselamatan dan menghidupkan kembali tradisi masyarakat Jawa."
Ketua Panitia, Supadi menuturkan, rencana menggelar kembali tradisi ruwatan semula bersifat internal RW 04. Namun, karena mendapat respons positif dari pelbagai pihak, kegiatan tersebut akhirnya akan dibuka untuk masyarakat umum. Jadi, siapa pun bisa turut serta dalam prosesi ruwatan.
Seluruh rangkaian ruwatan akan digelar di Lapangan Voli RT 02 RW 04 Silayur Lawas Duwet pada Sabtu, 16 Mei 2026. Panitia juga menyiapkan ruang bagi pelaku usaha kecil agar dapat ikut merasakan dampak ekonomi dari kegiatan tradisi ini.
"Karena antusiasme warga tinggi, kami akan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh di lingkungan RW dan menyusun kegiatan dengan melibatkan budayawan serta pemangku kebijakan di Kota Semarang," tandasnya.
Tradisi Ruwatan Silayur yang kembali dihidupkan warga bukan hanya soal tradisi, tetapi juga bentuk ikhtiar kolektif menjaga keselamatan dan merawat harapan agar jalan yang dilalui setiap hari terasa lebih aman. Lebih dari itu, ia adalah peringatan untuk pengendara agar berhati-hati saat melintas di ruas jalur maut itu. (Sundara/E10)
