Inibaru.id – Budaya Indonesia memang selalu menarik dikisahkan dari generasi ke generasi. Contohnya, alat kesenian tradisional yang satu ini. Namanya bundengan, alat musik khas Wonosobo. Ada yang menyebutnya sebagai “gamelan in one”. Sebabnya, alat ini mampu mengeluarkan nada kendhang, kenong/bendhe, kethuk, gong, dan vokal. Komplet bukan?
Hal lain yang layak disimak adalah mitos yang menaungi alat ini. Konon, alat berbentuk seperti perisai tersebut mampu menangkal petir. Bagian yang dipercaya memiliki fungsi itu berada di ujung atas bundengan.
Mitos ini nggak lepas dari asal-usul bundengan. Sebelum dijadikan alat musik secara khusus, alat ini disebut kowangan.
Kowangan menyerupai jubah bambu yang biasanya dipakai petani di lereng Gunung Sumbing Wonosobo untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Alat ini kemudian berkembang dan memiliki fungsi lainnya, yakni instrumen musik.
Dulu, alat ini dipakai petani untuk menemani mereka selagi di sawah atau angon bebek. Kebayang nggak sih syahdunya suasana dengan alunan musik ini?
Sebagai informasi, bundengan sudah eksis sejak abad ke-12, lo. Hal ini tertuang dalam kitab Wreta Sancaya.
Rahasia Penangkal Petir
Seperti yang tadi sudah disebutkan bahwa bagian yang dipercaya mampu menghalau petir adalah pada ujung atas instrumen. Semua ini nggak lepas dari ilmu titen para leluhur. Dulu, nenek moyang mengamati bahwa pohon aren yang menjulang tinggi nggak pernah tersambar petir.
Karena fenomena ini nggak cuma terjadi di satu tempat, masyakarat akhirnya menjuluki pohon aren sebagai pohon misteri. Karena “kesaktian” pohon aren itulah leluhur lantas memakai ijuk aren sebagai bahan pelindung dari petir.
Uniknya, belum ditemukan kasus bundengan atau kowangan yang terkena petir. Misteri ini menjelma mitos yang mengatakan alat ini anti-petir.
Keunikan Bundengan
Bundengan tergolong alat musik dawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Untuk menentukan nada, pemusik menggeser bandul yang diletakkan di dawai ke kiri atau ke kanan. Bandul ini terbuat dari carang (ranting) bambu yang di dalamnya disilangi dengan lidi. Tujuannya sebagai pengait agar pelarasan dapat terjalin.
Sebelumnya, orang meyakini bundengan hampir punah. Tapi, para geiat seni Wonosobo terus berjuang melestarikannya.
Dilihat dari keunikan dan sejarahnya, agaknya nggak berlebihan ya jika generasi masa kini mengenal alat istimewa ini. Kamu setuju, Millens? (Etnis/IB21/E03)