Inibaru.id - Beberapa bulan terakhir, beberapa bus tampak anteng di kandang. Hal ini jadi pemandangan yang kontras di sepanjang Jalan Untung Suropati Semarang. Garasi yang biasanya kosong, kini penuh dengan bus pariwisata.
Beberapa di antaranya tampak dibiarkan begitu saja. Nggak ada petugas yang membersihkan atau mengecek kondisinya. Bus-bus itu seolah hanya bakal menjadi penunggu kandang sampai waktu yang nggak bisa ditentukan.
Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan satu garasi yang berpenghuni. Eko, nama laki-laki yang saya jumpai di sana sore itu. Dia sedang menatap gula pasir kiloan yang dijualnya. Dia adalah sopir bus pariwisata yang terpaksa libur akibat pandemi. Dirinya mengaku sudah nggak memegang setir berbulan-bulan akibat pandemi.
“Sekarang jualan gula, lumayan hasilnya. Tadinya nyupir tapi ini sedang libur,” tuturnya.
Empat bus yang berada di garasi tempatnya bekerja jadi saksi bisu lesunya pariwisata. Kini di sela kegiatannya berjualan gula di depan garasi, bus-bus tersebut dicek secara rutin olehnya. Sambil menaiki satu bus dengan interior hitam dan merah muda, dirinya bercerita bahwa biasanya bus tersebut adalah pegangannya.
“Aku biasanya pakai ini,” tuturnya lesu.
Meski hingga kini dia masih belum menerima job menyetir, dia mengaku cukup optimis dengan hadirnya wacana kenormalan baru oleh pemerintah. Dia yakin bakal segera bisa mengaspal. Biro tempatnya bekerja juga telah bersiap. Secara rutin, pihak biro mensterilisasi bus dan membeli thermo gun untuk mengecek suhu badan para penumpang nantinya.
Baca Juga:
Virtual Wedding,Secercah harapan juga diungkapkan oleh M Amin Suroso. Sudah satu dekade laki-laki ini berkecimpung dalam jasa penyedia layanan wisata. Biro wisatanya yang menjadi langganan instansi pendidikan ini turut mandek semenjak sekolah diliburkan. Akibatnya beberapa DP yang sudah dibayarkan pihaknya pada hotel dan restoran terpaksa tertahan.
“Beberapa DP yang sudah masuk ke hotel masih tertahan, dana-dana talangan dari modal sendiri,” tutur lelaki bernanak dua ini.
Amin, panggilan akrabnya sudah bersiap menyambut new normal dengan mengikuti berbagai pelatihan yang digelar oleh komunitas penyedia layanan wisata.
“Dari perkumpulan wisata dan PO bus sudah ikut berbagai pelatihan dan sosialisasi yang dilakukan oleh komunitas. Banyak yang menginisiasi,” tsambahnya.
Yang melegakan, beberapa hotel dan tempat wisata juga sudah mengirimkan sinyal positif akan kembali beroperasi. Sebagai penyedia jasa perjalanan wisata, dia siap menaati berbagai peraturan yang nantinya dikeluarkan oleh pemerintah.
“Kami menyambut kebijakan baru dan ikut pemerintah. Protokolnya bagaimana kami siapkan,” katanya antusias.
Menurutnya, meski nggak bisa seleluasa dulu, baik biro wisata dan klien harus sama-sama terbiasa dengan normal baru sebagai tolok ukur keselamatan bersama. (Zulfa Anisah/E05)