Inibaru.id - Cara pembuatan mino nggak jauh berbeda dengan nopia. Pertama, adonan dibentuk bulatan kecil, kemudian didiamkan. Selanjutnya, mino diisi dengan gula jawa. Baru deh bulatan yang sudah jadi itu ditempelkan di dinding tungku tanah liat yang berbentuk seperti sumur. Eits, suhu tungku harus diatur hingga mencapai 90 derajat celsius ya.
Mino memiliki bentuk bulat kecil dengan salah satu sisinya yang sedikit keras menyerupai cangkang. Jika digigit, kulit Mino terasa renyah disusul rasa manis khas isian mino.
Mino tersedia dalam berbagai rasa. (Inibaru.id/ Inadha Rahma Nidya)
Biar penikmat nggak bosan, kini produsen berinovasi dengan menghadirkan varian rasa Mino. Rasa cokelat, durian, kacang, nanas, pandan, stroberi, bawang goreng, kacang ijo, hingga blackforest siap membuat lidahmu bergoyang. Meski demikian, menurut Yanti, salah satu penjual Mino, rasa yang paling banyak dibeli tetaplah rasa gula jawa.
“Rasanya banyak, enak-enak, bahkan ada rasa coklat blackforest. Tapi yang paling laku tetap yang original, rasa gula jawa,” katanya.
Eh, Millens sudah tahu belum asal usul mino atau nopia? Dilansir dari purwokertokita.com, nopia dipopulerkan oleh keluarga keturunan Tionghoa di Banyumas sekitar tahun 1880. Sejak saat itu, industri Nopia terus berkembang hingga saat ini. Salah satu daerah yang melakukan produksi Mino dan Nopia hingga ini adalah Kota Lama Banyumas.
Mino menjadi oleh-oleh wajib bagi pelancong yang datang ke Banyumas. (Inibaru.id/ Inadha Rahma Nidya)
Untuk mendapatkan Mino, kamu bisa mengunjungi berbagai toko oleh-oleh di Banyumas seperti di daerah Sawangan. Di sini berjajar toko oleh-oleh yang menyediakan Mino. Dengan Rp 17 ribu kamu sudah bisa membawa pulang sebungkus Mino.Murah kan? Kamu penasaran yang rasa apa, Millens? (Inadha Rahma Nidya/E05)