Inibaru.id - Tidak semua hidangan Lebaran berbentuk manisan atau kue. Di sebagian dunia muslim, perayaan hari raya justru diawali dengan sesuatu yang sederhana, hangat, dan gurih seperti semangkuk sup.
Di rumah-rumah keluarga di Maroko, hidangan itu bernama Harira, hidangan berupa sup kental berbahan tomat, kacang-kacangan, dan rempah yang telah menjadi bagian penting dari tradisi kuliner setempat.
Di dapur-dapur rumah di Maroko, aroma rempah seringkali menjadi bagian dari gegap gempita perayaan Idulfitri. Dari panci besar yang mengepul, semangkuk Harira disendok perlahan, lalu disajikan untuk seluruh anggota keluarga.
Harira bukan sekadar makanan, tapi juga simbol kehangatan rumah; hidangan yang mengingatkan mereka pada kebersamaan keluarga setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.
Kaya Rasa dan Mengenyangkan
Harira dikenal sebagai sup yang kaya rasa dan bergizi. Bahan utamanya biasanya terdiri atas tomat, lentil (kacang merah kecil), kacang chickpea, seledri, bawang, serta potongan daging, yang biasanya berasal dari sapi atau domba.
Semua bahan itu dimasak bersama dalam kaldu yang diberi bumbu khas seperti kunyit, jahe, lada hitam, dan kayu manis. Di akhir proses, campuran tepung dan air atau telur sering ditambahkan untuk memberikan tekstur yang lebih kental.
Hasilnya adalah sup yang hangat, sedikit asam dari tomat, tapi juga gurih dan penuh aroma rempah. Setiap sendoknya terasa mengenyangkan sekaligus menenangkan.
Di Maroko, harira sangat identik dengan bulan Ramadan. Sup ini hampir selalu hadir di meja saat berbuka puasa karena dianggap mampu mengembalikan energi tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus.
Biasanya, harira disajikan bersama kurma dan roti tradisional. Kombinasi ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang sulit dipisahkan dari pengalaman Ramadan di Maroko.
Ketika Idulfitri tiba, hidangan ini masih tetap hadir di banyak rumah. Meski meja Lebaran juga dipenuhi aneka kue manis, semangkuk harira tetap menjadi sajian yang menghangatkan suasana setelah salat Id atau saat keluarga berkumpul kembali di rumah.
Tradisi yang Berakar dari Keluarga
Setiap keluarga di Maroko biasanya memiliki resep harira yang sedikit berbeda. Ada yang lebih kental, ada pula yang lebih ringan. Sebagian keluarga menambahkan mi tipis atau nasi untuk membuatnya lebih mengenyangkan.
Proses memasaknya seringkali memakan waktu cukup lama. Namun, justru di situlah nilai tradisinya terasa. Memotong bahan, menumis bumbu, dan mengaduk sup perlahan menjadi bagian dari rutinitas dapur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Harira pun menjadi lebih dari sekadar sup, karena ia adalah warisan keluarga.
Dalam budaya Maroko, makanan sering kali menjadi cara untuk menyambut tamu dan mempererat hubungan. Semangkuk harira yang disajikan hangat di meja makan membawa pesan sederhana: rumah ini terbuka untuk siapa saja yang datang.
Itulah mengapa, meskipun dunia terus berubah, harira tetap bertahan sebagai salah satu hidangan paling ikonik dalam perayaan Ramadan dan Idulfitri di Maroko.
Karena pada akhirnya, kehangatan sebuah perayaan seringkali dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti sup yang dimasak perlahan di dapur rumah lalu disajikan dalam mangkuk untuk menyatukan orang-orang yang menikmatinya. (Siti Khatijah/E10)
