Inibaru.id - Musik campursari biasanya identik dengan nuansa Jawa yang kental, baik dari segi bahasa maupun budayanya. Namun, di tangan Hendra Kumbara, lirik berbahasa Jawa ternyata juga bisa dipadukan dengan lagu jejepangan yang energetik dan begitu khas.
Genre musik Jawa-Jepang itulah yang kemudian melambungkan nama musikus yang saat ini berdomisili di bilangan Gunungpati, Kota Semarang tersebut di kancah nasional. Sebelum dikenal luas dengan genre itu, dia lebih dulu dikenal sebagai penulis dan penyanyi campursari.
Untuk yang belum tahu, campursari adalah genre musik khas Jawa yang memadukan alat musik tradisional (gamelan) dengan instrumen modern (kibor, gitar, biola). Genre musik yang mencampurkan gaya karawitan, langgam jawa, keroncong, dangdut, dan pop itu mulai dikenal luas pada akhir 1980-an.
Campursari dikenal karena liriknya yang menggunakan bahasa Jawa sehari-hari dan bertema kehidupan masyarakat. Genre ini pulalah yang membuat Hendra Kumbara memasuki belantika musik Tanah Air.
Memperkenalkan Genre Jepang-Jawa
Di genre campursari, salah satu karya Hendra paling populer berjudul "Dalan Liyane" yang dirilis pada 2019. Lagu itu kemudian kian dikenal luas penikmat musik setelah dibawakan ulang oleh penyanyi dangdut Happy Asmara setahun berselang.
Nggak ingin hanya berhenti di campursari, musikus yang dikenal eksperimental itu kini juga dikenal sebagai penyanyi Jepang-Jawa, genre musik yang diciptakannya bersama Selagood dengan menggabungkan melodi energetik khas musik jejepangan, tapi dengan lirik berbahasa Jawa.
"Konsep Jepang-Jawa yang musiknya agak Jepang tapi liriknya lebih ke Jawa itu sebetulnya sudah dibikin sejak 2016 bersama Mas Selagood dan teman-teman lama," ucap Hendra saat ditemui Inibaru.id, belum lama ini.
Lelaki 36 tahun itu mengatakan, konsep musik Jepang-Jawa itu berangkat dari pengalaman masa kecilnya yang gemar menonton berbagai film-film anime (kartun Jepang). Namun, karena kesibukan masing-masing, mereka justru vakum setelahnya.
Dari Soundtrack Anime
Hendra kecil adalah penggemar serial kartun Jepang yang akrab di kalangan milenial seperti Doraemon, Shincan, dan Dragon Ball. Nah, lagu pengiring anime itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi lelaki kelahiran Kabupaten Pati itu untuk mencetuskan genre musik Jepang-Jawa.
"Untuk lirik tetap menggunakan bahasa Jawa karena lebih nyaman dan dekat dengan karakter bermusik kami. Tapi, (lirik Jawa) yang biasanya identik dengan campursari atau mbyar, kami ganti jadi gaya musik Jepang karena kami menemukan segmen anak-anak muda yang menyukai nuansa Jepang," kata dia.
Hingga kini Hendra mengaku telah menciptakan delapan singgel musik bergenre Jepang-Jawa; tiga di antaranya mengangkat tema Ramadan, salah satunya "Kawanen Saur (Sahur Kesiangan)".
"Yang paling diterima masyarakat adalah 'Kawanen Saur'," sebutnya semringah. "Mungkin karena lagu ini relate untuk orang-orang yang sering ketahuan mokel (batal puasa). Lagu ini sempat di-cover Denny Caknan dan Ndarboy, jadi makin dikenal."
Ringan, tapi Sarat Pesan Religi
Di platform Youtube Syalala Production, lagu yang bercerita tentang penyesalan seseorang yang terlewat untuk sahur karena kesiangan itu telah didengarkan lebih dari 1,5 juta kali. Angka tersebut menunjukkan respons positif pendengar terhadap konsep musik yang dia ciptakan.
Pada satu kesempatan, Hendra menyebutkan, lagu yang dirilis pada Ramadan lalu itu sempat mendapatkan perhatian dari Ustaz Felix Siauw saat berbincang dalam podcast Yuk Ngaji TV. Menurut Ustaz Felix, lagu tersebut terbilang ringan, tapi sarat akan pesan religi.
Oya, untuk tahun ini, Hendra juga kembali merilis lagu "religi" awal Ramadan kemarin. Singgel berjudul "Rasido Bali" itu bercerita tentang kisah seorang perantau yang nggak bisa menjalani puasa di kampung halaman karena kondisi ekonomi yang pas-pasan.
"Semoga setiap Ramadan kami bisa merilis single baru. Penikmat budaya Jepang di Indonesia lumayan banyak, yang biasanya disebut wibu atau yang penampilan bergaya ala Jepang," tutup alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.
Begitulah sepenggal kisah Hendra Kumbara yang menghadirkan warna baru lewat perpaduan musik Jepang dan lirik Jawa. Karena lagunya bertema religi, mungkin genre yang tepat untuk karya terbarunya ini adalah Pop-Religi-Jepang-Jawa. Eh, kepanjangan ya? Ha-ha. (Sundara/E10)
