BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 15:08

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

Penulis:

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan SeksualAdministrator
Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

Di ruang yang dianggap aman, batas antara bercanda dan pelecehan sering kali perlahan menghilang. (Gemini)

Ada satu ruang yang sering luput dari perhatian, tapi diam-diam ikut membentuk cara pandang banyak laki-laki, tentang perempuan, tentang batasan, dan tentang apa yang dianggap wajar: grup chat.

Inibaru.id - Seperti kita tahu, dalam grup chat teman dekat, obrolan sering terasa lebih bebas. Nggak ada dosen, nggak ada atasan, nggak ada orang tua. Cuma teman-teman dekat. Cuma “candaan”. Ruang ini sering dianggap aman, bahkan wajar menjadi tempat melepas lelah setelah seharian menahan diri di ruang publik.

Namun justru di ruang seperti itulah, batas antara bercanda dan pelecehan sering kali menjadi kabur.

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia yang sedang ramai saat ini membuka satu pertanyaan penting: apakah yang terjadi benar-benar sebuah penyimpangan, atau justru cerminan dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa?

Kasus ini mencuat setelah beredarnya tangkapan layar percakapan grup chat yang berisi komentar seksual, objektifikasi perempuan, hingga menyasar sesama mahasiswa dan bahkan dosen. Apa yang sebelumnya tersembunyi di ruang privat, tiba-tiba menjadi konsumsi publik dan memunculkan kegelisahan yang lebih luas.

Di sejumlah grup laki-laki, pola semacam ini mungkin nggak asing. Percakapan yang berisi komentar soal tubuh perempuan, candaan bernuansa seksual, hingga berbagi konten tanpa izin kerap muncul dalam bentuk yang dianggap ringan. Nggak jarang, percakapan tersebut juga diikuti dengan saling menyemangati dalam bentuk yang justru memperkuat perilaku problematik.

Semua itu sering dibungkus dengan satu kalimat sederhana: “Ah, cuma bercanda.”

Mengutip dari DetikHealth, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi menuturkan, fenomena seperti ini bisa dipahami melalui konsep disinhibisi online, yaitu kondisi ketika seseorang menjadi lebih impulsif, lebih berani, bahkan lebih kasar saat berada di ruang digital dibandingkan dengan interaksi di dunia nyata. Dalam ruang yang terasa privat dan tanpa konsekuensi langsung, kontrol diri perlahan melemah.

Menariknya, beberapa individu yang terlibat dalam percakapan semacam ini justru dikenal santun dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa bersikap sopan di depan umum, tetapi menunjukkan sisi yang sangat berbeda ketika berada di dalam grup tertutup. Di titik ini, persoalannya nggak lagi semata-mata tentang individu, melainkan juga tentang lingkungan yang membiarkan, bahkan menormalisasi perilaku tersebut.

"Fenomena ini memiliki dua wajah. Di satu sisi, benign disinhibition dapat mendorong orang untuk lebih jujur, terbuka, dan berani berbagi pengalaman pribadi atau mencari dukungan emosional. Namun di sisi lain, toxic disinhibition melahirkan komentar kasar, trolling, pelecehan, hingga ujaran kebencian," ungkap Imran.

Bergesernya Standar Moral

Masalahnya memang bukan terletak pada satu pesan atau satu candaan. Masalahnya muncul ketika tidak ada yang menegur, ketika suara yang mencoba mengingatkan justru ditertawakan, dan ketika hal-hal yang semakin ekstrem dianggap sebagai bentuk humor yang paling menghibur. Dalam situasi seperti ini, standar moral perlahan bergeser.

Apa yang awalnya terasa nggak nyaman bisa berubah menjadi biasa. Apa yang awalnya sekadar “bercanda tipis” bisa berkembang menjadi semakin vulgar. Dan tanpa disadari, cara pandang terhadap perempuan pun ikut bergeser, dari manusia yang setara, menjadi sekadar objek pembicaraan.

Praktik semacam ini nggak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan budaya patriarki yang masih mengakar dan membuat pelecehan terasa wajar di lingkungan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan ini lebih dalam dari sekadar perilaku individu.

Sering kali, ada anggapan bahwa apa yang terjadi di dalam grup chat hanyalah urusan internal. Sesuatu yang nggak perlu dibesar-besarkan karena nggak keluar ke ruang publik. Namun kenyataannya, dampaknya tidak berhenti di sana.

Bagi mereka yang menjadi objek pembicaraan, pengalaman tersebut tetap meninggalkan rasa tidak aman, tekanan psikologis, dan bahkan hilangnya kepercayaan. Dalam kasus ini, korban bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dosen yang namanya ikut dibicarakan tanpa sepengetahuan mereka. Ini menjadi pengingat bahwa ruang privat tidak serta-merta bebas dari konsekuensi.

Pada akhirnya, kasus ini mungkin bukan sekadar tentang sejumlah orang yang melakukan kesalahan. Ia lebih menyerupai cermin yang memantulkan sesuatu yang lebih luas, tentang bagaimana pelecehan seksual kerap hadir dalam bentuk yang dianggap “bercanda”, bagaimana batas perlahan dilonggarkan, dan bagaimana kita merespons ketika sesuatu terasa salah. Termasuk, apakah kita cukup berani untuk tidak ikut tertawa.

Karena sering kali, masalah terbesar bukan terletak pada mereka yang paling vokal melakukan pelanggaran, melainkan pada mereka yang memilih untuk diam.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi seberapa parah kasus ini. Tapi seberapa dekat ia dengan keseharian kita sendiri, dan apakah kita pernah berada di situasi yang serupa, lalu memilih untuk tidak melakukan apa-apa. (Ike P/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved