Inibaru.id - Menyemprotkan parfum ke area leher memang sudah jadi kebiasaan sejuta umat. Alasannya simpel: kulit leher itu hangat, jadi aromanya bisa tahan lebih lama. Tapi, belakangan muncul kekhawatiran kalau bahan kimia di dalamnya bisa mengganggu kelenjar tiroid yang letaknya tepat di area tersebut.
Pakar multiomics cancer IPB University, Agil Wahyu Wicaksono, menjelaskan kalau secara ilmiah memang ada indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid. Tapi, kalau pertanyaannya "bisa bikin kanker atau nggak?" jawabannya belum terbukti secara langsung.
Baca Juga:
Ini Waktu Terbaik untuk Memakai Parfum"Hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung," ujar Agil (1/3/2026).
Kenapa Harus Waspada?
Masalah utamanya bukan pada "semprotannya", tapi pada kandungan di dalam parfum tersebut. Banyak parfum atau cologne mengandung zat seperti phthalates, paraben, dan triclosan. Ketiga zat ini dikenal sebagai endocrine disruptors alias pengganggu sistem hormonal.
Kenapa leher jadi area yang disorot? Karena secara anatomis, kulit leher itu relatif tipis dan lokasinya nempel banget sama kelenjar tiroid. Jadi, penyerapan bahan kimia tadi ke dalam tubuh bisa lebih mudah terjadi di area ini.
Tenang, efeknya nggak bakal muncul secara instan kok. Risiko gangguan hormon ini biasanya meningkat kalau kamu memakai parfum secara berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain:
- Ibu hamil.
- Anak-anak dan remaja.
- Orang yang memang sudah punya riwayat gangguan hormon sebelumnya.
Tips Wangi Tetap Aman
Nggak perlu berhenti pakai parfum, kamu cuma perlu lebih bijak. Ini tips simpelnya:
- Semprot ke Pakaian: Alih-alih langsung ke kulit, semprotkan parfum ke baju. Wanginya tetap awet, tapi kulitmu bebas dari paparan kimia langsung.
- Kurangi Area Leher & Ketiak: Sesekali boleh, tapi jangan jadikan ritual wajib tiap jam di area yang kulitnya tipis ini.
- Cek Label: Kalau budget memungkinkan, pilih produk yang berlabel “phthalate-free” atau “paraben-free”.
Gimana, sudah jelas kan? Meski bisa mengakibatkan gangguan hormon bagi beberapa orang, menyemprotkan parfum di leher belum tentu bikin kanker. (Siti Zumrokhatun/E05)
