BerandaHits
Kamis, 9 Apr 2026 08:01

Upaya Menghidupkan Kembali Pasar Johar yang Mulai Sepi

Penulis:

Upaya Menghidupkan Kembali Pasar Johar yang Mulai SepiSundara
Upaya Menghidupkan Kembali Pasar Johar yang Mulai Sepi

Kondisi banyak lapak kosong di area lantai 2 Pasar Johar bagian utara. (Inibaru.id/ Sundara)

Menghidupkan ekonomi di Pasar Johar tak cukup dengan renovasi fisik, tetapi perlu strategi dan ide baru untuk menggerakkan denyut jual-beli di pasar tradisional tersebut.

Inibaru.id - Upaya menghidupkan kembali Pasar Johar masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Untuk mendongkrak aktivitas ekonomi, Dinas Perdagangan (Disdag) membuka ruang bagi pedagang "Pasar Maling" untuk masuk dan menghidupkan aktivitas di dalam pasar tradisional tersebut.

Biar nggak salah persepsi, yang dimaksud "pasar maling" adalah pasar barang bekas. Disebut begitu karena barang-barang bekas dijual di lapak-lapaknya sangat beragam, sehingga acap dikaitkan dengan hasil curian maling, padahal tidak.

Sejak lama, kompleks pasar legendaris yang berlokasi sepelemparan batu dari Masjid Agung Kauman Semarang itu telah lekat dengan keberadaan pasar maling itu. Maka, dengan menghidupkan kembali identitas lama itu, Disdag berharap popularitas Pasar Johar akan kembali seperti dulu.

Kepala Disdag Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva menyebut, ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan dari pemerintah pusat yang sempat mengatakan bahwa pengembangan pasar lain akan sulit terealisasi jika Johar belum menunjukkan geliat ekonomi yang signifikan.

"Saat saya ke Kementerian Perdagangan terkait rencana pembangunan Pasar Penggaron dan Bangetayu, mereka bilang belum bisa membantu selama Johar tidak ramai. Dari situlah saya merasa punya tanggung jawab moral," ucap laki-laki yang akrab disapa Amoy tersebut, belum lama ini.

Siapkan Lapak di Lantai 2-4

Disdag pun kemudian menyiapkan lapak untuk pedagang pasar maling di salah satu sudut Pasar Johar. Lokasinya berada di lantai 2 hingga 4 yang saat ini banyak ditinggalkan pedagang lama.

Gagasan ini juga datang dari masyarakat yang ingin menghidupkan kembali ikon lama Pasar Johar yang hilang. Menurut Amoy, selama berdampak positif pada ekonomi masyarakat, Disdag tidak keberatan dan justru membuka ruang seluas-luasnya.

"Kami ingin para pedagang (di Pasar Maling) tidak berjualan di pinggir jalan, tapi masuk Pasar Johar," paparnya. "Kami buka pendaftaran untuk 100 lapak, tapi yang daftar malah sudah tembus 600 pedagang."

Menurut Amoy, para pedagang barang bekas di Kota Semarang umumnya sudah terorganisasi dalam komunitas, misalnya para pelapak pasar maling yang biasa berjualan di sepanjang Jalan Kokrosono.

Program 'Johar Malam Hari' 

Selain mengajak para pelapak barang bekas menjual barang dagangan di dalam Pasar Johar, Amoy mengungkapkan bahwa Disdag juga tengah menyiapkan skenario tambahan, termasuk di dalamnya program Johar Malam Hari atau yang disingkat sebagai "Ojo Lari".

Dia menilai, event yang rencananya bakal dipusatkan di selasar pasar menjelang malam ini akan mampu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, dengan konsep yang lebih mirip suasana di kawasan Pekojan Semarang.

"Hari ini kami lihat Pasar Johar masih sepi. Konsep inti Ojo Lari itu akan ditempatkan di area pelataran, gambarannya seperti di Pekojan. Tidak pakai gerobak, cukup meja dan kursi yang bisa dibongkar-pasang," tandasnya.

Upaya berlapis ini menegaskan satu hal penting bahwa menghidupkan pasar tradisional tak cukup hanya lewat renovasi fisik. Yang dibutuhkan justru ide-ide segar yang mampu menarik aktivitas ekonomi. Setuju nggak Gez? (Sundara/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved